ilustrasi diabetes (IDN Times/Novaya Siantita)
Salah satu kesalahpahaman yang masih beredar adalah anggapan bahwa cek gula darah membatalkan puasa. Secara medis dan berdasarkan banyak otoritas keagamaan, pemeriksaan gula darah melalui tusuk jari tidak membatalkan puasa.
Jika dokter memperbolehkan untuk berpuasa, penting untuk memantau kadar gula darah lebih sering. Orang dengan diabetes harus cek kadar gula darah selama dan setelah berpuasa sehingga kadar gula darahnya terpantau. Tujuannya untuk menghindari kondisi kadar gula darah terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Pemantauan rutin gula darah sangat penting, terutama pada waktu:
Sebelum sahur.
Siang hari.
Sebelum berbuka.
Dua jam setelah berbuka.
Pemantauan ini membantu mencegah komplikasi serius dan menentukan kapan puasa harus dihentikan demi keselamatan.
Sebagian orang dengan diabetes bisa menjalani puasa Ramadan dengan aman, tetapi sebagian lain justru berisiko tinggi mengalami komplikasi. Kuncinya adalah evaluasi medis, edukasi yang memadai, dan disiplin memantau gula darah. Ibadah idealnya tidak mengorbankan keselamatan. Dengan pendampingan dokter, keputusan berpuasa dapat dilakukan secara bijak.
Referensi
Mohamed Hassanein et al., “Diabetes and Ramadan: Practical Guidelines 2021,” Diabetes Research and Clinical Practice 185 (January 8, 2022): 109185, https://doi.org/10.1016/j.diabres.2021.109185.
Ibrahim Salti et al., “A Population-Based Study of Diabetes and Its Characteristics During the Fasting Month of Ramadan in 13 Countries,” Diabetes Care 27, no. 10 (October 1, 2004): 2306–11, https://doi.org/10.2337/diacare.27.10.2306.
Benjamin Page, “About the Artist: Eleonora Nigro, MSc,” Diabetes Care 49, no. 2 (January 20, 2026): 213, https://doi.org/10.2337/dci25-0138.