Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Pasien Kanker Boleh Berpuasa?
ilustrasi pasien kanker (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Tidak semua pasien kanker aman untuk berpuasa; kondisi kesehatan dan jenis terapi sangat menentukan.

  • Penelitian menunjukkan puasa dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan respons terhadap terapi kanker.

  • Keputusan berpuasa sebaiknya selalu dikonsultasikan dengan dokter yang merawat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Puasa bukan cuma praktik spiritual, tetapi juga bagian dari tradisi dan kebiasaan hidup. Namun, bagi pasien kanker, muncul pertanyaan penting, apakah tubuh yang sedang berjuang melawan penyakit dan menjalani terapi masih mampu berpuasa dengan aman?

Secara medis, tidak ada jawaban yang sepenuhnya sama untuk semua pasien. Kondisi kesehatan, jenis kanker, stadium penyakit, serta terapi yang sedang dijalani dapat sangat memengaruhi apakah puasa aman dilakukan atau tidak.

Pasien kanker sering mengalami perubahan metabolisme, penurunan berat badan, serta kelelahan akibat penyakit maupun efek samping terapi seperti kemoterapi. Kondisi ini membuat kebutuhan nutrisi dan cairan menjadi lebih penting dibanding pada orang sehat. Karena itu, keputusan untuk berpuasa perlu dipertimbangkan secara hati-hati dan berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

1. Bagaimana kanker memengaruhi kebutuhan nutrisi tubuh?

Kanker dapat mengubah cara tubuh menggunakan energi dan nutrisi. Sel kanker butuh energi yang besar untuk tumbuh dan berkembang, sehingga metabolisme tubuh pasien sering berubah.

Penelitian menjelaskan bahwa banyak pasien kanker mengalami kondisi yang disebut cancer cachexia, yaitu sindrom metabolik yang menyebabkan kehilangan berat badan, massa otot, dan energi tubuh.

Ketika tubuh mengalami kondisi ini, asupan nutrisi yang cukup menjadi sangat penting untuk mempertahankan kekuatan tubuh, mendukung sistem imun, serta membantu pasien menjalani pengobatan dengan lebih baik.

Jika puasa menyebabkan asupan nutrisi menjadi tidak mencukupi, kondisi kesehatan pasien bisa makin menurun.

2. Pengaruh puasa terhadap terapi kanker

ilustrasi pasien kanker payudara (IDN Times/Novaya Siantita)

Beberapa penelitian meneliti hubungan antara puasa dan terapi kanker. Beberapa studi awal menunjukkan bahwa puasa jangka pendek mungkin memengaruhi respons sel terhadap kemoterapi.

Penelitian menunjukkan, pembatasan kalori atau puasa sementara dapat meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap kemoterapi pada model penelitian tertentu. Namun, para peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut masih memerlukan penelitian klinis yang lebih luas pada manusia. Karena itu, praktik puasa selama terapi kanker tidak boleh dilakukan tanpa pengawasan medis.

Bagi sebagian pasien, terutama yang sedang menjalani kemoterapi intensif, puasa justru dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan, atau kekurangan nutrisi.

3. Kondisi pasien kanker yang mungkin tidak dianjurkan berpuasa

Dalam banyak kasus, dokter biasanya tidak merekomendasikan puasa bagi pasien kanker yang memiliki kondisi seperti:

  • Sedang menjalani kemoterapi atau radioterapi intensif.

  • Mengalami penurunan berat badan signifikan.

  • Mengalami dehidrasi atau gangguan elektrolit.

  • Memiliki kanker stadium lanjut.

  • Mengalami efek samping pengobatan seperti mual atau muntah berat.

Nutrisi yang cukup selama pengobatan kanker sangat penting untuk membantu tubuh pulih dari efek terapi serta mempertahankan kekuatan pasien.

Jika asupan makanan dan cairan terlalu terbatas, tubuh bisa kesulitan menghadapi efek samping pengobatan.

4. Kapan pasien kanker mungkin masih bisa berpuasa?

ilustrasi pasien kanker (pexels.com/Ivan Samkov)

Tidak semua pasien kanker dilarang berpuasa. Dalam beberapa kondisi, dokter mungkin memperbolehkan puasa jika kondisi pasien stabil.

Misalnya pada pasien yang:

  • Sudah menyelesaikan terapi utama.

  • Memiliki status gizi yang baik.

  • Tidak mengalami efek samping pengobatan.

  • Berada dalam masa pemulihan atau remisi.

Menurut studi, beberapa pasien kanker yang kondisinya stabil dapat menjalani puasa dengan pengawasan medis tanpa komplikasi serius. Namun, pemantauan kesehatan tetap diperlukan untuk memastikan tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang cukup.

5. Pentingnya konsultasi medis sebelum berpuasa

Keputusan untuk berpuasa sebaiknya tidak dibuat sendiri oleh pasien. Dokter yang merawat memiliki pemahaman terbaik mengenai kondisi penyakit, terapi yang dijalani, serta kebutuhan nutrisi pasien.

Dengan konsultasi medis, dokter dapat membantu menilai apakah puasa aman dilakukan atau perlu ditunda demi menjaga kesehatan pasien.

Jika puasa diperbolehkan, dokter juga dapat memberikan panduan seperti:

  • Pola makan yang tepat saat sahur dan berbuka.

  • Asupan cairan yang cukup.

  • Tanda-tanda kesehatan yang perlu diwaspadai.

Bolehnya puasa atau tidak pada pasien kanker bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing individu. Beberapa pasien mungkin masih bisa berpuasa dengan aman, tetapi banyak juga yang perlu menghindarinya demi menjaga kondisi tubuh selama pengobatan.

Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan untuk berpuasa. Dengan pertimbangan medis yang tepat, pasien dapat tetap menjaga kesehatan sekaligus beribadah dengan lebih aman.

Referensi

American Cancer Society. “Nutrition for People with Cancer.” Diakses Maret 2026.

Josep M. Argilés et al., “Cancer Cachexia: Understanding the Molecular Basis,” Nature Reviews. Cancer 14, no. 11 (October 7, 2014): 754–62, https://doi.org/10.1038/nrc3829.

Fernando M. Safdie et al., “Fasting and Cancer Treatment in Humans: A Case Series Report,” Aging 1, no. 12 (December 31, 2009): 988–1007, https://doi.org/10.18632/aging.100114.

National Cancer Institute. “Nutrition in Cancer Care.” Diakses Maret 2026.

Stefanie De Groot et al., “Effects of Short-term Fasting on Cancer Treatment,” Journal of Experimental & Clinical Cancer Research 38, no. 1 (May 22, 2019): 209, https://doi.org/10.1186/s13046-019-1189-9.

Editorial Team