ilustrasi GERD (pexels.com/Sora Shimazaki)
Banyak orang fokus menghindari makanan tertentu, tetapi mengabaikan waktu makan sebagai pemicu keluhan. Padahal, telat makan sering menjadi faktor yang memperparah gejala meski pola makan sudah diperhatikan. Rasa perih, panas di dada, atau mual sering muncul setelah jadwal makan kacau dalam beberapa hari. Karena efeknya tidak selalu instan, penyebab ini kerap luput dari perhatian.
Jika dicermati, memperbaiki waktu makan sering memberi perbaikan yang cukup signifikan. Keluhan bisa berkurang meski jenis makanan tidak banyak berubah. Hal ini menunjukkan bahwa telat makan memiliki peran nyata dalam memperburuk GERD. Kesadaran terhadap waktu makan menjadi langkah sederhana yang sering diabaikan.
GERD tidak hanya dipengaruhi oleh pilihan makanan, tetapi juga oleh kebiasaan menunda makan yang terlihat sepele. Telat makan dapat memicu peningkatan asam, mengganggu kerja lambung, dan memperburuk gejala tanpa disadari. Jika keluhan sering muncul meski menu sudah dijaga, sudahkah waktu makan diperhatikan dengan serius?
Referensi
"Eating Late Is Really Bad for You". Psychology Today. Diakses pada Februari 2026.
"Acid Reflux? The Dangers of Midnight Snacking". Jamie Koufman. Diakses pada Februari 2026.
"Myles Spar, MD, Explains Why Eating Late at Night Could Be More Harmful Than You Know". American Board of Psychology. Diakses pada Februari 2026.
"GERD Symptoms – The Dangers Of Eating At Night". Life Force. Diakses pada Februari 2026.