Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi ketergantungan obat.
ilustrasi ketergantungan obat (unsplash.com/Lance Reis)

Intinya sih...

  • Beberapa zat kimia memicu kecanduan melalui aktivasi sistem reward otak yang sangat kuat, terutama pada peningkatan dopamin.

  • Opioid sintetis dan ilegal seperti heroin, fentanyl, serta stimulan seperti kokain dan metamfetamin termasuk yang paling adiktif.

  • Zat yang umum dan legal seperti alkohol dan nikotin juga memiliki risiko kecanduan tinggi karena mudah diakses dan interaksinya dengan otak

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kecanduan zat merupakan kondisi medis kompleks yang melibatkan perubahan pada struktur dan fungsi otak, terutama pada sistem reward yang memproses dopamin dan rasa senang. Ketika seseorang menggunakan zat tertentu berulang kali, otak dapat mulai “merindukan” efek kimia tersebut sehingga penggunaan menjadi kompulsif, tidak lagi sadar akan bahaya yang ditimbulkannya.

Tidak semua bahan kimia memiliki tingkat kecanduan yang sama. Beberapa zat, meski legal dan umum ditemui, mampu membentuk ketergantungan kuat, sedangkan zat lain yang hanya digunakan secara ilegal atau medis memiliki risiko kecanduan yang sangat tinggi bahkan dalam waktu singkat.

Di bawah ini dipaparkan berbagai bahan kimia yang paling adiktif secara ilmiah, bagaimana mereka bekerja dalam otak, serta mengapa mereka memiliki potensi ketergantungan yang begitu besar. Informasi ini penting untuk memahami risiko, bahkan saat zat tersebut mungkin dipandang “normal” atau umum dalam masyarakat.

1. Heroin

Tersangka tindak pidana narkotika membawa heroin dari Vietnam menuju Denpasar. (IDN Times/Ayu Afria)

Heroin adalah salah satu opioid ilegal yang paling kuat dan berisiko tinggi menyebabkan kecanduan. Heroin bekerja dengan memicu reseptor opioid di otak yang merilis dopamin dalam jumlah besar, sehingga menciptakan perasaan euforia yang sangat kuat.

Ketergantungan dapat berkembang sangat cepat, bahkan dalam hitungan minggu, karena otak mulai bergantung pada zat ini untuk mendapatkan rasa senang dan relaksasi. Pengguna sering mengalami gejala putus obat yang ekstrem ketika mencoba berhenti, termasuk rasa sakit, kecemasan, dan depresi.

Selain itu, heroin berhubungan dengan risiko overdosis fatal, terutama bila dicampur dengan zat lain yang makin memperkuat efeknya.

2. Fentanyl

Fentanyl patch. (commons.wikimedia.org/User:Crohnie at the English Wikipedia)

Fentanyl adalah opioid sintetis yang 50–100 kali lebih kuat daripada morfin dan bahkan mengungguli heroin dalam efeknya. Fentanyl dipakai secara medis untuk mengatasi nyeri berat, tetapi penyalahgunaan telah menyebabkan lonjakan kasus overdosis di berbagai negara.

Karena sangat kuat, fentanyl dapat menyebabkan ketergantungan dalam dosis sangat kecil. Otak bereaksi kuat terhadap peningkatan dopamin, sehingga pengguna cepat merasa perlu mengulang penggunaan.

Risiko ini dipertegas oleh fakta bahwa banyak kematian akibat overdosis di Amerika Serikat melibatkan fentanyl atau turunannya, menjadikannya salah satu zat paling berbahaya sekaligus paling adiktif.

3. Kokain

Ungkap kasus tangkapan kokain 3 kg BNNP Bali (IDN Times/Ayu Afria)

Kokain adalah stimulan yang bekerja dengan cara mencegah reaksi dopamin di otak, sehingga neurotransmiter ini menumpuk dan menciptakan sensasi euforia intens.

Efeknya sangat cepat dan kuat, meski durasi euforia singkat. Ini membuat pengguna cenderung menggunakan ulang dalam waktu singkat untuk mempertahankan sensasi tersebut, sebuah pola yang mendukung ketergantungan psikologis yang kuat.

Ketergantungan kokain bisa muncul bahkan tanpa penggunaan jangka panjang, karena otak “belajar” mengaitkan zat ini dengan rasa senang dan mengubah kebutuhan perilaku seseorang.

4. Metamfetamin

ilustrasi sabu, metamfetamin, kristal metamfetamin, crystal meth (commons.wikimedia.org/Radspunk)

Metamfetamin (crystal meth) merupakan stimulan yang menghasilkan dopamin dalam jumlah besar, bahkan lebih tinggi dibanding kokain. Metamfetamin meningkatkan energi dan fokus, tetapi efek ini datang dengan risiko kecanduan yang sangat tinggi.

Karena perubahan neurokimia yang luas, penggunaannya sering menyebabkan pengguna membutuhkan dosis lebih tinggi dari waktu ke waktu untuk mencapai efek yang sama, fenomena yang dikenal sebagai "toleransi".

Pengguna yang berhenti tiba-tiba sering mengalami kelelahan berat, depresi, dan craving yang sangat intens, membuat pemulihan menjadi tantangan besar.

5. Nikotin

Nikotin adalah zat adiktif utama dalam tembakau dan rokok elektronik. Nikotin cepat masuk ke otak dan memengaruhi sistem reward dengan merangsang pelepasan dopamin.

Dalam banyak penelitian, nikotin terbukti memiliki peluang paling tinggi untuk beralih dari penggunaan pertama ke ketergantungan penuh, bahkan lebih cepat dibanding alkohol atau kanabis.

Walaupun legal dan mudah diakses, tetapi nikotin menimbulkan ketergantungan psikologis dan fisik yang kuat, membuat berhenti merokok menjadi proses yang sangat sulit bagi banyak orang.

6. Alkohol

Alkohol memiliki efek adiktif karena menimbulkan relaksasi dan mood-lifting melalui interaksinya dengan sistem GABA otak serta peningkatan dopamin.

Penggunaan berulang dapat mengarah pada kecanduan fisik, dengan gejala putus zat yang bisa membahayakan jiwa jika tidak diobati secara medis.

Karena alkohol mudah diakses dan legal di banyak negara, ketergantungannya sering menyebar luas dan sulit dikenali hingga sudah berlangsung lama.

7. Benzodiazepin

ilustrasi penyalahgunaan obat (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Benzodiazepin adalah obat penenang yang bekerja pada reseptor GABA di otak untuk mengurangi kecemasan dan memicu rasa tenang.

Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan toleransi dan ketergantungan kuat, terutama bila digunakan tanpa pengawasan medis ketat.

Ketergantungan benzodiazepin sering disertai gejala putus obat yang serius seperti kejang dan kecemasan ekstrem, sehingga penghentian harus dilakukan secara bertahap dan diawasi dokter.

8. Barbiturat

Barbiturat adalah sedatif kuat yang dulu populer untuk mengatasi insomnia dan kecemasan, tetapi karena efek sampingnya yang berbahaya kini lebih jarang dipakai.

Zat ini menekan sistem saraf pusat, menghasilkan efek relaksasi dan euforia yang kuat, tetapi juga memiliki risiko ketergantungan fisik yang tinggi.

Penggunaan barbiturat juga berbahaya karena batas antara dosis yang menenangkan dan dosis yang mematikan sangat kecil.

9. Opioid resep

Opioid resep seperti oxycodone dan morfin bekerja mirip heroin, yaitu dengan cara mengikat reseptor opioid dalam otak untuk menekan rasa sakit sekaligus merangsang pelepasan dopamin.

Walaupun awalnya diresepkan untuk nyeri sedang hingga berat, tetapi penggunaan jangka panjang dapat cepat berkembang menjadi ketergantungan dan penggunaan berulang yang tidak terkendali.

Risiko ini terlihat dalam epidemi opioid yang terjadi di banyak negara, yang mana penggunaan obat resep menjadi pintu masuk ke penyalahgunaan opioid ilegal.

10. Kanabis dan kanabinoid

ilustrasi kratom bubuk (pexels.com/Laryssa Suaid)

Kanabis mengandung THC, yang bertindak pada reseptor CB1 di otak untuk menghasilkan efek psikoaktif. Meskipun tidak seintens heroin atau meth, tetapi penggunaan kanabis bisa menyebabkan ketergantungan psikologis dan gangguan fungsi otak.

Selain itu, beberapa zat botani seperti kratom juga menunjukkan potensi kecanduan yang signifikan pada pengguna tertentu, lengkap dengan gejala ketergantungan dan craving.

Kratom, yang kadang dipakai sebagai alternatif opioids, dapat menimbulkan toleransi dan ketergantungan fisik, terutama jika dikonsumsi dalam dosis tinggi atau jangka panjang.

11. Inhalan (solvent dan gas terlarang)

Ilustrasi nitrous oxide (commons.wikimedia.org/Dominic Milton Trott)

Inhalan seperti pelarut, aerosol, dan gas nitrit dapat menghasilkan efek “high” cepat yang mengubah kimia otak, tetapi juga dikenal sebagai zat dengan potensi kecanduan.

Walaupun sering dipandang lebih ringan, tetapi penggunaan inhalan dapat menghancurkan jaringan otak dan organ internal jika disalahgunakan.

Ketergantungan pada inhalan biasanya lebih cepat berkembang pada remaja dengan lebih sedikit kontrol terhadap penggunaannya.

Kecanduan zat bukan cuma seseorang tak punya kendali, tetapi ini merupakan kondisi biologis dan psikologis yang melibatkan perubahan mendalam dalam sistem saraf otak, terutama pada sistem reward yang mengatur dopamin. Zat-zat kimia tertentu dapat memicu respons ini lebih kuat daripada yang lain, membuat penggunaan berulang menjadi sangat sulit dihentikan.

Selain zat ilegal yang dikenal berbahaya seperti heroin dan metamfetamin, zat legal seperti nikotin dan alkohol juga memiliki potensi adiksi yang tinggi karena efek langsungnya pada otak dan ketersediaannya. Memahami risiko setiap zat penting untuk pengambilan keputusan yang lebih aman, serta mendorong dukungan dan perawatan yang sesuai bagi mereka yang berjuang melawan kecanduan.

Referensi

Nora D. Volkow and Carlos Blanco, “Substance Use Disorders: A Comprehensive Update of Classification, Epidemiology, Neurobiology, Clinical Aspects, Treatment and Prevention,” World Psychiatry 22, no. 2 (May 9, 2023): 203–29, https://doi.org/10.1002/wps.21073.

"Addictive Substances." Cleveland Clinic. Diakses Januari 2026.

"The 5 Most Addictive Substances On Earth." Addiction Center. Diakses Januari 2026.

Nicolas Marie and Florence Noble, “Oxycodone, an Opioid Like the Others?,” Frontiers in Psychiatry 14 (December 13, 2023): 1229439, https://doi.org/10.3389/fpsyt.2023.1229439.

Editorial Team