ilustrasi suplemen (unsplash.com/Ksenia Yakovleva)
Antibiotik bekerja dengan cara membunuh bakteri, dan sayangnya ia tidak bisa membedakan bakteri jahat penyebab infeksi dengan bakteri baik dari suplemen probiotik. Minum keduanya di waktu yang berdekatan sama saja dengan membuang uang. Hal serupa juga berlaku untuk air panas. Banyak orang mencampur suplemen probiotik ke dalam minuman hangat atau teh herbal yang masih panas dengan anggapan itu cara minum yang lebih sehat.
Padahal suhu air di atas 60 derajat Celsius sudah cukup untuk membunuh sebagian besar strain probiotik dalam hitungan menit. Jika sedang menjalani terapi antibiotik, berikan jeda minimal dua jam antara antibiotik dan suplemen probiotik. Ini bukan berarti probiotik tidak bisa diminum selama terapi antibiotik, justru sangat dianjurkan, tapi waktunya harus dipisahkan agar bakteri baiknya tidak ikut terbunuh.
Suplemen probiotik bisa jadi investasi yang sia-sia kalau caranya salah dari awal. Ini dikarenakan bakteri probiotik pada suplemen bisa mati sebelum masuk usus akibat penyimpanan, waktu konsumsi, hingga pemilihan produk yang punya teknologi perlindungan memadai. Memahami cara kerja tubuh dan karakteristik produk yang kamu konsumsi adalah langkah paling masuk akal sebelum berharap manfaatnya benar-benar terasa.
Referensi
"Probiotic Gastrointestinal Transit and Colonization After Oral Administration: A Long Journey." Frontiers. Diakses pada April 2026
"Do Probiotics Survive In The Stomach?" PERKii. Diakses pada April 2026
"How do probiotics stay alive until they are consumed?" ISAPP. Diakses pada April 2026