Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Diam-diam Merusak, Ini 8 Komplikasi Diabetes
ilustrasi diabetes (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Diabetes melitus bukan sekadar soal kadar gula darah yang tinggi. Dalam jangka panjang, kondisi ini bekerja diam-diam, memengaruhi pembuluh darah kecil hingga besar, serta sistem saraf yang tersebar di seluruh tubuh. Dampaknya tidak selalu langsung terasa, tetapi akumulasinya dapat mengganggu fungsi organ vital.

Yang membuatnya kompleks, komplikasi diabetes tidak berdiri sendiri. Satu gangguan bisa memicu yang lain, menciptakan efek domino yang luas. Memahami peta komplikasi dari ujung kaki hingga kepala menjadi langkah penting untuk mengenali risiko lebih dini dan mengambil tindakan pencegahan.

Berikut ini daftar lengkap komplikasi diabetes dari kepala sampai kaki yang perlu kamu ketahui.

1. Neuropati diabetik (kerusakan saraf)

Neuropati diabetik adalah salah satu komplikasi diabetes yang paling umum. Kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf, terutama di ekstremitas seperti kaki dan tangan.

Neuropati dapat menyebabkan gejala seperti kesemutan, mati rasa, hingga nyeri seperti terbakar. Kondisi ini sering dimulai dari kaki dan berkembang secara bertahap.

Masalahnya, hilangnya sensasi membuat luka kecil tidak terasa. Luka yang tidak terdeteksi ini bisa berkembang menjadi infeksi serius. Inilah mengapa neuropati sering menjadi pintu masuk komplikasi lain seperti ulkus kaki diabetik.

2. Ulkus kaki diabetik dan amputasi

Kerusakan saraf yang dikombinasikan dengan gangguan aliran darah membuat kaki menjadi area paling rentan. Luka kecil, lecet, atau tekanan berlebih bisa berkembang menjadi ulkus. Studi menunjukkan, ulkus kaki diabetik merupakan penyebab utama amputasi non traumatik di dunia.

Sirkulasi yang buruk memperlambat penyembuhan, sementara sistem imun yang terganggu meningkatkan risiko infeksi. Tanpa penanganan cepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangren.

3. Retinopati diabetik (gangguan mata)

ilustrasi retinopati diabetik (freepik.com/katemangostar)

Mata termasuk organ yang sangat sensitif terhadap perubahan gula darah. Retinopati diabetik terjadi akibat kerusakan pembuluh darah kecil di retina. Kondisi ini dapat menyebabkan penglihatan kabur hingga kebutaan jika tidak ditangani.

Pada tahap awal, gejalanya sering tidak terasa. Namun seiring waktu, pembuluh darah bisa bocor atau tumbuh abnormal, mengganggu fungsi retina secara signifikan.

4. Nefropati diabetik (kerusakan ginjal)

Diabetes adalah penyebab utama gagal ginjal kronis di banyak negara.

Ginjal berfungsi menyaring limbah dari darah. Dalam diabetes, pembuluh darah kecil di ginjal dapat rusak, mengganggu fungsi filtrasi. Kerusakan ini berkembang perlahan, sering tanpa gejala di awal.

Protein dalam urine menjadi salah satu tanda awal yang penting untuk dideteksi melalui pemeriksaan rutin.

5. Penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah)

Individu dengan diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dibandingkan populasi umum.

Diabetes meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan aterosklerosis. Kadar gula tinggi berkontribusi pada peradangan dan kerusakan pembuluh darah.

Plak yang terbentuk di pembuluh darah dapat menyempitkan aliran darah, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

6. Gangguan otak dan kognitif

ilustrasi kesehatan otak (pixabay.com/hainguyenrp)

Diabetes juga memengaruhi otak. Studi menunjukkan hubungan antara diabetes dan peningkatan risiko demensia serta penurunan fungsi kognitif.

Hiperglikemia kronis dapat memengaruhi struktur dan fungsi otak. Gangguan ini dapat muncul sebagai penurunan daya ingat, konsentrasi, hingga kemampuan berpikir yang lebih lambat.

7. Masalah kulit dan rambut

Kulit sering menjadi indikator awal komplikasi diabetes. Infeksi jamur, bakteri, hingga kulit kering dan gatal lebih sering terjadi.

Diabetes dapat memengaruhi integritas kulit dan memperlambat penyembuhan luka.

Selain itu, sirkulasi yang buruk juga dapat memengaruhi pertumbuhan rambut, menyebabkan rambut rontok atau menipis di area tertentu.

8. Gangguan sistem imun

Kadar gula darah tinggi dapat melemahkan sistem imun, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.

Diabetes berkaitan dengan peningkatan risiko infeksi bakteri dan jamur.

Respons imun yang terganggu juga memperlambat penyembuhan luka, memperparah komplikasi lainnya.

Komplikasi diabetes menunjukkan bahwa diabetes ini tidak berdiri sendiri. Penyakit kronis ini memengaruhi tubuh secara menyeluruh, dari saraf hingga organ vital, dari kaki hingga kepala.

Namun, banyak dari komplikasi ini dapat dicegah atau diperlambat dengan kontrol gula darah yang baik, gaya hidup sehat, dan pemeriksaan kesehatan rutin. Memahami risikonya adalah langkah awal untuk menjaga kualitas hidup kamu tetap optimal.

Referensi

American Diabetes Association. “Diabetic Neuropathy.” Diakses Mei 2026.

David G. Armstrong et al., “Diabetic Foot Ulcers,” JAMA 330, no. 1 (July 3, 2023): 62, https://doi.org/10.1001/jama.2023.10578.

National Eye Institute. “Diabetic Retinopathy.” Diakses Mei 2026.

Katherine R. Tuttle et al., “Diabetic Kidney Disease: A Report From an ADA Consensus Conference,” Diabetes Care 37, no. 10 (September 10, 2014): 2864–83, https://doi.org/10.2337/dc14-1296.

Cecilia C. Low Wang and Jane E.B. Reusch, “Diabetes and Cardiovascular Disease: Changing the Focus From Glycemic Control to Improving Long-Term Survival,” The American Journal of Cardiology 110, no. 9 (October 11, 2012): 58B-68B, https://doi.org/10.1016/j.amjcard.2012.08.036.

Geert Jan Biessels and Florin Despa, “Cognitive Decline and Dementia in Diabetes Mellitus: Mechanisms and Clinical Implications,” Nature Reviews Endocrinology 14, no. 10 (July 18, 2018): 591–604, https://doi.org/10.1038/s41574-018-0048-7.

Ana Luiza Lima et al., “Cutaneous Manifestations of Diabetes Mellitus: A Review,” American Journal of Clinical Dermatology 18, no. 4 (April 3, 2017): 541–53, https://doi.org/10.1007/s40257-017-0275-z.

Katherine Esposito, Maria Ida Maiorino, and Giuseppe Bellastella, “Diabetes and Sexual Dysfunction: Current Perspectives,” Diabetes Metabolic Syndrome and Obesity 7 (March 1, 2014): 95, https://doi.org/10.2147/dmso.s36455.

Cresio Alves, Juliana Casqueiro, and Janine Casqueiro, “Infections in Patients With Diabetes Mellitus: A Review of Pathogenesis,” Indian Journal of Endocrinology and Metabolism 16, no. 7 (January 1, 2012): 27, https://doi.org/10.4103/2230-8210.94253.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team