Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Peran Penting Apoteker Deteksi Neuropati Perifer pada Pasien Diabetes

Peran Penting Apoteker Deteksi Neuropati Perifer pada Pasien Diabetes
ilustrasi kesemutan (unsplash.com/Imani Clovis)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Neuropati perifer sering terabaikan sebagai komplikasi diabetes, padahal lebih dari separuh pasien di Indonesia mengalaminya dan 80 persen kasus tidak terdiagnosis sejak awal.
  • Apoteker memiliki peran penting dalam mendeteksi gejala kesemutan, memberikan edukasi, serta merujuk pasien ke dokter untuk mencegah kerusakan saraf yang lebih parah.
  • Pedoman baru memberdayakan apoteker agar dapat melakukan skrining dini, konseling, dan pemantauan pasien menggunakan alat sederhana seperti kuesioner validasi dan terapi vitamin neurotropik bila diperlukan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kesemutan sering dianggap hal biasa. Duduk terlalu lama, salah posisi, atau kelelahan membuat munculnya sensasi seperti ditusuk jarum di kaki atau tangan. Banyak orang memilih mengabaikannya.

Padahal, kesemutan yang sering terjadi bisa menjadi tanda awal kondisi serius yang dalam bahasa medisnya disebut neuropati perifer, yaitu kerusakan saraf yang umum dialami pasien diabetes. Dalam hal ini, apoteker punya peran besar untuk intervensi dini. Hal ini menjadi pembahasan dalam acara "P&G Health Asia Pacific Virtual Media Roundtable" pada Kamis (16/04/2026).

Table of Content

Neuropati perifer sering terlewatkan

Neuropati perifer sering terlewatkan

Neuropati perifer termasuk salah satu komplikasi diabetes yang paling sering terjadi, tetapi juga paling sering terlewatkan.

Secara global, sekitar 1 dari 5 pasien diabetes mengalaminya dan di Indonesia angkanya bahkan bisa mencapai lebih dari 50 persen.

Berikut rincian kasus di Asia Pasifik:

  • Filipina 58 persen.
  • Indonesia 58 persen.
  • Malaysia 54 persen.
  • Thailand 34 persen.
  • Singapura 28 persen.
  • Australia 21 persen.

Poin yang mengkhawatirkan, sekitar 80 persen kasus tidak terdiagnosis karena banyak pasien mengira gejala seperti kesemutan, mati rasa, atau rasa terbakar adalah hal biasa. Di sisi lain, tenaga kesehatan sering lebih fokus pada komplikasi lain seperti jantung atau ginjal. Akibatnya, penanganan sering terlambat dan dampaknya tidak main-main.

"Sebagai tenaga kesehatan yang paling mudah diakses, apoteker diharapkan dapat mengenali gejala secara lebih dini, memberikan arahan yang tepat bagi pasien, serta bekerja sama dengan dokter guna meningkatkan kondisi pasien dalam jangka panjang," kata Dr. Yolanda R. Robles, President, Federation of Asian Pharmaceutical Associations (FAPA).

Neuropati perifer sangat memengaruhi kualitas hidup

Ilustrasi diabetes.
ilustrasi diabetes (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Neuropati perifer tidak hanya menyebabkan rasa tidak nyaman. Seiring waktu, kerusakan saraf bisa makin parah dan memengaruhi kualitas hidup secara signifikan.

Gejala yang umum meliputi:

  • Kesemutan atau rasa seperti ditusuk jarum.
  • Mati rasa di kaki atau tangan.
  • Nyeri seperti terbakar atau tersetrum.
  • Penurunan sensitivitas terhadap sentuhan.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat:

  • Mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Meningkatkan risiko jatuh.
  • Menyebabkan luka yang tidak terasa dan sulit sembuh.
  • Berujung pada komplikasi serius, termasuk amputasi.

"Sering kali gejalanya terlewatkan sejak dini dan tindakan yang terlambat dapat menyebabkan penderitaan yang sebenarnya dapat dicegah," Dr. Kenny James P. Merin, Contributing Author & Lyceum, Philippines University–Davao (LPU Davao) mengatakan.

Peran penting apoteker dalam mendeteksi neuropati perifer

Dengan memberdayakan apoteker, perjalanan neuropati perifer dapat diubah. Saat ini, sering kali intervensi dimulai terlambat. Pedoman yang dirancang khusus bagi apoteker diharapkan mampu mengidentifikasi, menilai, dan menangani pasien neuropati perifer dalam praktik sehari-hari.

Pedoman ini menawarkan peran yang lebih jelas bagi apoteker, jalur yang lebih jelas bagi pasien, titik komunikasi antarprofesional yang lebih jelas melalui rujukan, dan peluang yang lebih jelas untuk intervensi lebih awal," lanjut Dr. Kenny.

Melalui pedoman ini, apoteker berperan sebagai mitra perawatan proaktif melalui beberapa langkah utama, yaitu:

  1. Mengenali pasien berisiko sejak dini dengan menggunakan mnemonik baru (MEDIC).
  2. Membedakan nyeri saraf dan nyeri otot.
  3. Menggunakan kuesioner skrining sederhana yang tervalidasi di lokasi apotek (misalnya ACT, DN4, NPQ).
  4. Memberikan konseling, mempertimbangkan terapi yang sesuai termasuk vitamin B neurotropik dosis tinggi (B1, B6, B12) bila diperlukan, serta merujuk pasien ke dokter jika ditemukan risiko berbahaya.
  5. Melakukan pemantauan dan tindak lanjut untuk mengevaluasi respons, serta menyesuaikan rencana perawatan.

"Di negara seperti Indonesia dengan rasio dokter terhadap populasi yang masih terbatas, peran apoteker menjadi sangat penting dalam skrining awal dan mengurangi keterlambatan penanganan," ujar Contributing Author, Dr. Apt. Lusy Noviani, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Melalui percakapan sederhana, apoteker dapat menggali keluhan pasien, memberikan edukasi yang tepat, serta menyarankan langkah penanganan awal.

Selain itu, apoteker juga berperan dalam menentukan kapan pasien perlu dirujuk ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dengan pendekatan yang proaktif, apoteker dapat membantu mempercepat deteksi dini sehingga kondisi tidak berkembang menjadi lebih serius.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More