Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bukan yang Lucu, Ini Jenis Konten Vaksin yang Paling Dipercaya
ilustrasi menonton konten di media sosial (pexels.com/Los Muertos Crew)
  • Konten vaksin berbasis fakta lebih disukai dibandingkan konten humor di media sosial, menurut temuan studi.

  • Kredibilitas sumber, terutama tenaga kesehatan dan institusi kesehatan, meningkatkan engagement.

  • Kepercayaan audiens lebih dipengaruhi oleh isi dan sumber, bukan visual atau kreativitas semata.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Media sosial telah dimanfaatkan oleh banyak orang untuk mendapatkan berbagai informasi kesehatan, termasuk soal vaksin. Dalam arus informasi yang cepat, konten yang menarik sering dianggap paling efektif agar pesan sampai ke audiens. Namun, realitasnya tidak selalu seperti itu. Dalam konteks kesehatan, terutama vaksinasi, audiens tidak cuma mencari konten menarik, tetapi juga sesuatu yang bisa dipercaya.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open memberikan gambaran yang lebih jelas, bahwa kredibilitas dan kejelasan informasi justru lebih menentukan dibanding kreativitas semata.

Penelitian ini melibatkan 243 orang dewasa di California, Amerika Serikat, yang secara umum memiliki sikap positif terhadap vaksin. Sebagian besar responden juga merupakan pengguna aktif media sosial, dengan hampir 94 persen menggunakannya setiap hari.

Fakta dianggap lebih menarik daripada humor

Salah satu temuan utama studi ini cukup kontras dengan tren digital saat ini. Alih-alih konten lucu atau ringan, para partisipan studi justru lebih memilih konten vaksin yang bersifat faktual dan langsung ke inti informasi.

Konten dengan pendekatan humor ditemukan memiliki kemungkinan lebih rendah untuk mendapatkan engagement, seperti like, share, atau komentar.

Para peneliti mencatat bahwa meskipun humor bisa efektif pada kelompok tertentu, tetapi secara umum audiens lebih percaya pada informasi yang jelas dan berbasis data. Ini menunjukkan bahwa dalam isu kesehatan, terutama yang sensitif seperti vaksin, pendekatan yang terlalu santai bisa mengurangi kepercayaan.

Selain itu, siapa yang menyampaikan pesan juga sangat berpengaruh. Konten yang menampilkan tenaga kesehatan atau berasal dari institusi kesehatan publik lebih disukai dibanding konten tanpa sumber jelas. Menariknya, sumber lokal seperti dinas kesehatan daerah atau universitas justru lebih dipercaya dibanding institusi nasional dalam konteks studi ini.

Kredibilitas lebih penting daripada kreativitas

ilustrasi membagikan konten media sosial (pexels.com/MART PRODUCTION)

Studi ini juga menemukan bahwa topik yang spesifik, seperti COVID-19 atau influenza, lebih menarik perhatian dibandingkan dengan pesan vaksin yang terlalu umum. Ini menunjukkan bahwa relevansi konteks juga turut berperan.

Sementara itu, aspek visual seperti gambar atau video memang disukai, tetapi jenis visual (kartun vs foto nyata) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap engagement.

Artinya, yang benar-benar menentukan adalah:

  • Kejelasan pesan.

  • Kredibilitas sumber.

  • Relevansi informasi.

Tim peneliti menekankan bahwa di tengah maraknya misinformasi, konten kesehatan harus berbasis bukti dan dirancang sesuai preferensi audiens. Kreativitas tetap penting, tetapi tidak boleh mengorbankan keakuratan dan kepercayaan.

Di era digital, perhatian memang menjadi mata uang utama. Namun, dalam komunikasi kesehatan, kepercayaan jauh lebih berharga. Pesan studi ini, pendekatan yang terlalu fokus pada viralitas bisa meleset dari tujuan utamanya, yaitu menyampaikan informasi yang benar. Membangun komunikasi kesehatan yang efektif adalah bagaimana membuat audiens berhenti scrolling, membuat mereka percaya, memahami, dan akhirnya mengambil keputusan yang lebih baik untuk kesehatannya.

Referensi

"Credibility, tone important in vaccine-related social media posts, study finds." CIDRAP. Diakses Maret 2026.

Lucía Abascal Miguel et al., “Preferences for Social Media Vaccination Messaging,” JAMA Network Open 9, no. 3 (March 18, 2026): e262284, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2026.2284.

Editorial Team