“Jadi vaksin MMR itu melindungi dari tiga penyakit. Pertama mumps atau gondongan, kemudian measles itu campak, rubella itu campak Jerman. Jadi ketiga penyakit itu dicegah dalam satu vaksin gabungan,” jelas Dr. Piprim.
Ini Reaksi Normal Setelah Vaksinasi Campak, Orang Tua Wajib Tahu

Vaksin MMR melindungi anak dari tiga penyakit menular serius yaitu campak, gondongan, dan rubella, serta terbukti efektif menekan penyebaran sejak diperkenalkan pada 1960-an.
Demam ringan atau ruam beberapa hari setelah vaksinasi MMR merupakan reaksi normal karena tubuh sedang membentuk kekebalan terhadap virus yang dilemahkan.
Orang tua disarankan tidak langsung memberi obat penurun panas setelah imunisasi; cukup berikan bila demam tinggi atau mengganggu, sambil menjaga cairan dan melakukan kompres hangat.
Vaksin campak adalah salah satu imunisasi penting untuk melindungi anak dari penyakit yang sangat menular. Sayangnya, di tengah meningkatnya kesadaran akan vaksinasi, masih banyak orang tua yang merasa khawatir terhadap efek samping yang mungkin muncul setelah imunisasi.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menegaskan bahwa sebagian besar efek samping vaksin campak bersifat ringan dan wajar. Ini disampaikannya dalam program Health Talk by IDN Times di Instagram @idntimes (17/3/2026).
Menurutnya, penting bagi orang tua untuk dapat membedakan antara reaksi normal setelah vaksinasi campak dengan informasi yang tidak benar atau hoaks. Yuk, pahami lebih lanjut!
Table of Content
1. Vaksin MMR lindungi anak dari tiga penyakit berbahaya
Vaksin campak yang umum diberikan saat ini, kata Dr. Piprim, adalah vaksin kombinasi MMR. Vaksin ini tidak hanya melindungi dari campak, tetapi juga dari gondongan dan rubella dalam satu kali imunisasi.
Sebagai dokter spesialis anak, Dr. Pimprim tahu benar bahwa ketiga penyakit tersebut bukan penyakit ringan. Infeksinya bisa menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru, radang otak, hingga gangguan kesuburan. Karena sifatnya yang sangat menular, vaksinasi menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran penyakit dalam masyarakat.
“Ketiga penyakit ini penyakit menular yang bisa bikin dampak kesehatan cukup serius, termasuk bisa bikin cacat, bisa bikin mandul. Campak juga bisa menyebabkan pneumonia dan radang otak,” Dr. Piprim menambahkan.
Keberadaan vaksin campak sudah lama dan terbukti efektif. Sejak diperkenalkan pada tahun 1960-an, peningkatan cakupan imunisasi terbukti mampu menurunkan kasus campak secara signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
2. Demam ringan setelah vaksinasi MMR adalah reaksi yang wajar

Dikatakan oleh Dr. Piprim, salah satu efek samping yang sering muncul setelah vaksin MMR adalah demam ringan. Namun, beda dengan beberapa vaksin lain, demam ini biasanya tidak muncul langsung setelah imunisasi.
"MMR itu memang bisa bikin demam yang tidak terlalu tinggi, tapi munculnya nggak di hari pertama habis suntik," Dr. Piprim mengatakan.
Ia membandingkannya dengan vaksin DPT yang umumnya menimbulkan demam dan bengkak segera setelah penyuntikan. Pada vaksin MMR, reaksi tubuh cenderung muncul beberapa hari kemudian, biasanya sekitar hari ke-5 atau ke-6. Ini terjadi karena vaksin menggunakan virus yang dilemahkan sehingga tubuh memerlukan waktu untuk membentuk respons imun.
"Jadi jangan heran kalau 5–6 hari sesudah imunisasi MMR anak, kok, agak hangat. Biasanya sehari saja," ujarnya.
Selain demam, dalam beberapa kasus dapat muncul ruam ringan yang menyerupai campak, tetapi gejalanya jauh lebih ringan dan jarang terjadi. Dokter Piprim menegaskan bahwa efek samping ini tergolong ringan dan sementara, serta jauh lebih ringan dibandingkan risiko komplikasi jika anak terkena penyakit aslinya.
3. Obat penurun panas tidak perlu langsung diberikan
Setelah diimunisasi, Dr. Piprim mengingatkan orang tua untuk tidak langsung memberikan obat. Menurutnya, pemberian obat seperti parasetamol sebaiknya menunggu hingga benar-benar muncul gejala, bukan sebagai langkah pencegahan.
"Sebetulnya jangan dibiasakan memberi obat sesudah vaksin. Tunggu saja reaksinya dulu, karena belum tentu terpakai juga."
Dokter Piprim menambahkan, ada penelitian yang menunjukkan pemberian parasetamol langsung setelah vaksin dapat sedikit menurunkan efektivitas vaksin, meski efeknya tidak besar.
Obat penurun panas sebaiknya diberikan jika suhu tubuh anak sudah mencapai sekitar 38,5 hingga 39 derajat Celsius atau jika demam mulai mengganggu kondisi anak. Jika demam masih ringan, orang tua bisa melakukan cara sederhana seperti kompres, skin to skin, serta memastikan kebutuhan cairan anak tetap terpenuhi.
"Kalau tidak terlalu mengganggu, kompres saja sambil dicukupi cairannya. Biasanya juga tidak lama demamnya,” Dr. Piprim menyarankan.
Untuk reaksi seperti bengkak di area suntikan, saran dari Dr. Piprim adalah penggunaan kompres hangat, bukan kompres dingin. Kompres dingin atau es lebih tepat digunakan pada kasus cedera seperti benturan, bukan untuk reaksi setelah imunisasi.
Dengan memahami efek samping yang wajar setelah imunisasi, orang tua diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru mengenai vaksin campak. Ingat, manfaat vaksin jauh lebih besar dibanding risiko efek samping ringan yang mungkin muncul. Memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap menjadi langkah penting untuk melindungi mereka dari penyakit menular seperti campak.

![[QUIZ] Seberapa Lelah Matamu? Cek dengan Tebak Karakter One Piece](https://image.idntimes.com/post/20240928/snapinstaapp-452636034-827692952790694-3801622178133972082-n-1080-f33a875018adce7eefd5054721cbef1e-ed62346690aea3bb6677ab87f39e4157.jpg)











![[QUIZ] Dari Kebiasaan Saat Lebaran, Kami Tahu Kecenderungan NPD dalam Dirimu](https://image.idntimes.com/post/20260319/tren-ingin-kabur-saat-lebaran-mestinya-jadi-renungan_b9be83fe-6f16-41d0-8b73-932e3a33441d.jpeg)



![[QUIZ] Latihan Kardio Pilihanmu Bisa Ungkap Siapa Dirimu Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20250717/5593_035c0cfe-bc9b-4152-a4fa-a826ddc77043.jpg)
