Saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara dengan wabah campak terbanyak di dunia, berada di urutan kedua setelah Yaman berdasarkan data Global Measles Outbreaks. Dari periode pertengahan 2025 hingga akhir tahun, Indonesia melaporkan lebih dari 10.700 kasus campak, jauh lebih banyak dibandingkan negara lain seperti India yang berada di posisi ketiga.
Secara medis, campak dikenal dengan nama measles atau rubeola. Masyarakat sering menyebutnya "tampek". Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus yang sangat mudah menular melalui udara, misalnya saat penderita batuk atau bersin.
Gejalanya sering kali mirip flu di awal, sehingga banyak orang gak langsung menyadarinya. Biasanya dimulai dengan demam tinggi, batuk dan pilek, mata merah dan berair, hingga badan yang terasa lemas. Beberapa hari kemudian, muncul ruam kemerahan yang biasanya mulai dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh. Ruam inilah yang sering bikin orang akhirnya sadar bahwa itu bukan sekadar flu biasa.
Meski terdengar umum, campak bukan penyakit sepele. Pada sebagian kasus, terutama pada anak kecil atau orang dengan daya tahan tubuh lemah, campak bisa menyebabkan komplikasi seperti radang paru (pneumonia) atau radang otak (ensefalitis). Karena itulah, ketika kasusnya meningkat seperti sekarang, penting bagi masyarakat, termasuk orang dewasa yang merasa sudah divaksin, untuk kembali memahami penyakit ini dengan benar.
Karena rupanya, seseorang tetap berpotensi terkena campak di masa dewasa meskipun sudah divaksin ketika kecil. Kok bisa? Simak penjelasannya berikut ini.
