Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dari Tikus ke Manusia, Begini Hantavirus Menyebar
ilustrasi tikus pembawa hantavirus. (pexels.com/freestocks.org)
  • Hantavirus berasal dari hewan pengerat dan menular ke manusia melalui partikel kotoran atau urine yang mengering lalu terhirup, bukan lewat kontak sosial seperti COVID-19.
  • Mayoritas hantavirus tidak menular antarmanusia, kecuali Andes virus di Amerika Selatan yang bisa menyebar lewat kontak dekat namun sangat jarang terjadi.
  • Pencegahan difokuskan pada pengendalian hewan pengerat dan pembersihan aman area tertutup, karena infeksi dapat menyebabkan sindrom paru berat dengan tingkat fatalitas tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian setelah laporan klaster penyakit di kapal ekspedisi MV Hondius yang sedang diselidiki oleh otoritas kesehatan global.

Ada pemberitaan seperti ini biasanya memicu kekhawatiran masyarakat, bertanya-tanya apakah bisa menjadi pandemi selanjutnya, atau apakah semua tikus membawa virus ini.

Mungkin karena pengalaman dengan pandemi COVID-19, saat membaca berita tentang wabah virus, banyak orang khawatir akan terjadi penularan cepat antarmanusia. Faktanya, pola penyebaran hantavirus berbeda.

Hantavirus berasal dari hewan pengerat

Hantavirus adalah kelompok virus yang secara alami hidup pada hewan pengerat tertentu. Tikus dan celurut atau hewan pengerat pembawa virus sering tampak sehat dan tidak sakit. Namun, mereka tetap bisa menyebarkan virus melalui urine, feses, dan air liur selama hidupnya.

Manusia biasanya terinfeksi ketika partikel kecil dari kotoran atau urine hewan pengerat mengering lalu beterbangan di udara dan terhirup. Ini adalah alasan banyak kasus hantavirus terjadi setelah seseorang membersihkan gudang, kabin, loteng, atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.

Setiap strain hantavirus biasanya terkait dengan spesies hewan pengerat tertentu. Ini berarti penyebaran virus sangat bergantung pada interaksi manusia dengan habitat hewan tersebut, bukan pada interaksi sosial sehari-hari seperti berjabat tangan atau duduk berdekatan.

Kenapa membersihkan bangunan tertutup yang lama tidak digunakan bisa berisiko?

Salah satu situasi paling berisiko adalah saat seseorang membersihkan area yang penuh debu dan kemungkinan terkontaminasi kotoran hewan pengerat. Banyak orang spontan menyapu atau menggunakan penyedot ruangan tanpa tahu ini bisa membuat partikel virus beterbangan.

Proses aerosolization—partikel kecil yang terangkat ke udara—menjadi jalur utama penularan hantavirus ke manusia. Ketika partikel tersebut terhirup, virus dapat masuk melalui saluran napas dan mulai menginfeksi tubuh.

Karena itu, ekstra hati-hatilah saat bersih-bersih. Area tertutup sebaiknya diangin-anginkan terlebih dahulu, lalu dibersihkan menggunakan disinfektan, bukan disapu kering. Cara sederhana ini bisa secara signifikan mengurangi risiko paparan.

Apakah hantavirus bisa menular lewat udara?

ilustrasi hantavirus (commons.wikimedia.org/CDC/Cynthia Goldsmith)

Jawabannya iya, tetapi konteksnya berbeda dari virus airborne seperti COVID-19 atau campak.

Hantavirus bisa terbawa udara dalam bentuk partikel dari kotoran hewan pengerat yang mengering. Namun, ini bukan berarti virus menyebar bebas dari manusia ke manusia melalui udara di ruang publik sehari-hari. Dalam kebanyakan kasus, penularan tetap berasal dari lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat.

Sementara itu pada COVID-19, kamu bisa tertular hanya karena berada dekat dengan individu yang terinfeksi. Pada hantavirus, risiko terbesar justru berasal dari paparan terhadap habitat hewan pengerat, terutama di ruang tertutup dengan ventilasi yang buruk.

Bisakah menular antarmanusia?

Mayoritas hantavirus tidak menular antarmanusia. Namun, ada pengecualian penting, yaitu Andes virus, strain yang banyak ditemukan di Amerika Selatan.

Penelitian menemukan bukti bahwa Andes virus dapat menular dari manusia ke manusia dalam kontak dekat dan intens, seperti pasangan atau anggota keluarga. Mekanisme ini diperkirakan melibatkan droplet atau kontak erat pada fase awal penyakit.

Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa penularan ini tetap sangat jarang dan jauh lebih terbatas dibanding virus pernapasan lain. Bahkan dalam kasus klaster di MV Hondius, para ahli masih melakukan investigasi untuk memastikan pola transmisinya. Ini menyiratkan penularan antarmanusia bukan mekanisme utama hantavirus secara umum.

Siapa yang paling berisiko?

Orang yang tinggal atau bekerja di daerah dengan populasi hewan pengerat tinggi memiliki kemungkinan paparan lebih besar.

Kelompok yang berisiko meliputi petani, pekerja gudang, pendaki, pekerja kehutanan, serta orang yang membersihkan bangunan lama atau kabin tertutup, menurut studi.

Risiko juga meningkat setelah banjir atau perubahan lingkungan yang membuat hewan pengerat berpindah lebih dekat ke manusia.

Disebutkan juga bahwa sebagian besar kasus terjadi bukan karena seseorang ceroboh, tetapi karena mereka tidak sadar sedang berada di lingkungan berisiko. Karenanya, edukasi penting sekali dalam hal pencegahan.

Kenapa hantavirus dianggap serius?

Memang hantavirus penularannya tidak semudah itu. Namun, virus ini tetap dipantau karena dampaknya bisa berat. Infeksi dapat berkembang cepat menjadi hantavirus pulmonary syndrome (HPS), kondisi yang menyebabkan gangguan paru dan gagal napas.

Penelitian menunjukkan tingkat fatalitas HPS dapat mencapai sekitar 30–40 persen. Banyak pasien awalnya hanya mengalami gejala mirip flu seperti demam dan nyeri otot sebelum kondisinya memburuk drastis.

Inilah alasan mengapa hantavirus sering digambarkan sebagai penyakit “low transmission but high consequence”. Risiko tertular mungkin rendah bagi masyarakat umum, tetapi ketika infeksi terjadi, konsekuensinya bisa sangat serius.

Pencegahan

ilustrasi bangunan kotor yang sudah lama tidak digunakan bisa menjadi tempat paparan hantavirus (pexels.com/Francesco Paggiaro)

Fokus pencegahan hantavirus adalah pengendalian hewan pengerat serta memahami cara membersihkan lingkungan dengan aman. Hindari menyapu kotoran hewan pengerat secara langsung, melainkan menyemprot area dengan disinfektan terlebih dahulu.

Menutup akses masuk tikus ke rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, dan menjaga kebersihan lingkungan juga dapat mengurangi risiko infestasi. Pada area dengan kemungkinan kontaminasi tinggi, penggunaan masker dan sarung tangan sangat dianjurkan.

Selain itu, penting untuk mengenali gejala awal setelah paparan berisiko. Jika seseorang mengalami demam, nyeri otot, dan sesak napas setelah membersihkan area penuh rodent, lakukan evaluasi medis sesegera mungkin.

Hantavirus bukan virus yang menyebar semudah flu atau COVID-19. Risiko terbesar berasal dari lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat, terutama ruang tertutup yang lama tidak digunakan. Dalam banyak kasus, tindakan sederhana seperti membersihkan ruangan dengan benar dan mengendalikan populasi hewan pengerat sudah dapat menurunkan risiko secara signifikan.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. “Hantavirus.” Diakses Mei 2026.

Colleen B. Jonsson, Luiz Tadeu Moraes Figueiredo, and Olli Vapalahti, “A Global Perspective on Hantavirus Ecology, Epidemiology, and Disease,” Clinical Microbiology Reviews 23, no. 2 (April 1, 2010): 412–41, https://doi.org/10.1128/cmr.00062-09.

Valeria P. Martinez et al., “Person-to-Person Transmission of Andes Virus,” Emerging Infectious Diseases 11, no. 12 (December 1, 2005): 1848–53, https://doi.org/10.3201/eid1112.050501.

World Health Organization. “Hantavirus – Multi-country (MV Hondius), Disease Outbreak News.” Diakses Mei 2026.

Adam MacNeil, Thomas G. Ksiazek, and Pierre E. Rollin, “Hantavirus Pulmonary Syndrome, United States, 1993–2009,” Emerging Infectious Diseases 17, no. 7 (July 1, 2011): 1195–1201, https://doi.org/10.3201/eid1707.101306.

Editorial Team