Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Fakta Andes Virus, Strain Hantavirus yang Ditemukan di MV Hondius

Fakta Andes Virus, Strain Hantavirus yang Ditemukan di MV Hondius
ilustrasi hantavirus (commons.wikimedia.org/CDC/Cynthia Goldsmith)
Intinya Sih
  • Laporan WHO mengungkap klaster kasus hantavirus di kapal MV Hondius, dengan dugaan keterlibatan Andes virus yang dikenal berisiko tinggi dan dapat menyebabkan kematian.
  • Andes virus menonjol karena bukti penularan antarmanusia meski jarang, berbeda dari hantavirus lain yang umumnya hanya menular lewat hewan pengerat terinfeksi.
  • Pencegahan difokuskan pada pengendalian hewan pengerat, menjaga kebersihan area tertutup, serta deteksi dini untuk mencegah komplikasi berat akibat hantavirus pulmonary syndrome.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sebuah laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang klaster penyakit di kapal ekspedisi MV Hondius membuat nama Andes virus kembali menjadi sorotan global.

Dalam laporan tersebut, sejumlah kasus hantavirus dilaporkan di antara penumpang dan kru, termasuk beberapa kasus berat dan kematian. Walaupun investigasi masih berlangsung, tetapi perhatian tertuju pada kemungkinan keterlibatan Andes virus, strain hantavirus yang paling unik dan paling ditakuti.

Berbeda dari kebanyakan hantavirus lain, ada karakteristik dari Andes virus yang membuat ilmuwan dan otoritas kesehatan lebih waspada, yaitu ada bukti penularan dari manusia ke manusia. Walaupun jarang, tetapi kemampuan ini menjadikan Andes virus berbeda dari mayoritas hantavirus lain yang umumnya hanya menyebar melalui paparan hewan pengerat (seperti tikus dan celurut) terinfeksi.

Table of Content

1. Apa itu virus Andes?

1. Apa itu virus Andes?

Andes virus adalah bagian dari kelompok hantavirus, yaitu virus RNA dari keluarga Hantaviridae yang terutama ditularkan oleh hewan pengerat.

Virus ini pertama kali diidentifikasi di wilayah Andes, Amerika Selatan, terutama di Argentina dan Cile. Reservoir utamanya adalah hewan pengerat liar, khususnya tikus padi kerdil berekor panjang (Oligoryzomys longicaudatus).

Pada manusia, Andes virus dapat menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS), kondisi serius yang menyerang paru-paru dan sistem kardiovaskular. Tingkat fatalitasnya tinggi, dengan beberapa laporan menunjukkan angka kematian mencapai 30–40 persen. Ini menjadikannya salah satu zoonosis dengan dampak klinis paling berat dalam kelompok penyakit bawaan hewan pengerat.

Selain itu, hal lain yang membuat Andes virus diperhatikan adalah sifat biologisnya yang berbeda dibandingkan dengan strain hantavirus lain. Sebagian besar hantavirus hanya menular dari hewan pengerat ke manusia, tetapi Andes virus menunjukkan bukti penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu, terutama kontak dekat dan intens.

2. Bagaimana penularannya terjadi?

Seekor tikus padi kerdil berekor panjang berwarna cokelat sedang berada di antara ranting dan daun kering di tanah hutan.
Tikus padi kerdil berekor panjang, reservoir utama virus Andes. (commons.wikimedia.org/Yamil Hussein E.)

Penularan utama Andes virus tetap berasal dari hewan pengerat. Virus bisa masuk ke tubuh manusia melalui inhalasi partikel kecil dari urine, feses, atau air liur hewan pengerat yang mengering dan tersebar di udara. Aktivitas seperti membersihkan gudang, kabin, atau area tertutup yang terkontaminasi dapat meningkatkan risiko paparan.

Sebagian besar kasus hantavirus yang dilaporkan terjadi setelah seseorang berada di lingkungan dengan infestasi hewan pengerat. Risiko meningkat di daerah pedesaan, area liar, atau lokasi dengan sanitasi buruk.

Studi mendokumentasikan penularan Andes virus antarmanusia di Argentina, terutama di antara pasangan atau anggota keluarga dengan kontak sangat dekat. Penularan ini diyakini terjadi melalui droplet atau kontak erat selama fase awal penyakit, meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.

3. Gejala infeksi Andes virus

Tahap awal infeksi Andes virus sering tampak biasa saja, seperti demam, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan kadang gangguan pencernaan seperti mual atau muntah. Gejala ini sering menyerupai influenza atau infeksi virus umum lainnya.

Masalahnya, kondisi dapat berubah drastis dalam hitungan hari. Saat memasuki fase paru, pembuluh darah di paru-paru menjadi lebih permeabel (mudah ditembus) sehingga cairan bocor ke jaringan paru. Akibatnya, pasien mengalami sesak napas berat, penurunan oksigen, dan gagal napas progresif.

Hantavirus pulmonary syndrome berkembang cepat dan butuh perawatan intensif secepat mungkin. Inilah alasan diagnosis dini sangat penting, terutama pada individu dengan riwayat paparan di daerah endemik.

4. Kenapa Andes virus disorot setelah kasus di kapal MV Hondius?

Beberapa penumpang berdiri di balkon kabin kapal pesiar besar dengan pagar kaca biru, menikmati pemandangan laut.
ilustrasi penumpang kapal pesiar (pexels.com/Ahmed)

Kasus di MV Hondius menarik perhatian bukan hanya karena temuan hantavirus, tetapi karena konteks penyebarannya. Kapal pesiar merupakan lingkungan semi tertutup dengan interaksi dekat antar individu, dan ini memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan transmisi antarmanusia.

WHO melaporkan adanya beberapa kasus dengan gejala pernapasan berat, termasuk pasien kritis dan kematian. Meski investigasi masih berlangsung, tetapi perhatian tertuju pada bagaimana mobilitas global dapat membawa penyakit zoonosis ke setting yang tidak biasa.

Penting untuk dipahami bahwa kapal bukan sumber alami Andes virus. Paparan kemungkinan besar terjadi sebelum perjalanan atau saat singgah di area tertentu. Namun, jika penularan antarmanusia memang terjadi, lingkungan seperti kapal dapat meningkatkan peluang kontak dekat yang mempermudah transmisi terbatas.

5. Apakah Andes virus bisa menjadi pandemi berikutnya?

Secara ilmiah, Andes virus memang memiliki kemampuan penularan antarmanusia, tetapi efisiensinya jauh lebih rendah dibanding virus respiratori seperti influenza atau SARS-CoV-2.

Menurut penelitian epidemiologi, penularan Andes virus butuh kontak dekat dan intens dalam waktu tertentu. Hingga saat ini, belum ada bukti bahwa virus ini mampu menyebar luas secara efisien di populasi umum.

Meski begitu, para ahli kesehatan global tetap memantau perkembangan kasus. Karakter penyakit zoonosis dinamis, dan perubahan lingkungan serta mobilitas manusia dapat memengaruhi pola penyebarannya. Dalam kesehatan masyarakat, menjadi waspada bukan berarti panik, tetapi siap menghadapi kemungkinan terburuk.

6. Pencegahan

Karena belum ada terapi antivirus spesifik yang terbukti efektif secara luas, pencegahan strategi utama dalam mencegah Andes virus. Ini meliputi pengendalian hewan pengerat, menjaga kebersihan area tertutup, serta menghindari kontak dengan kotoran atau sarang rodent.

Disarankan juga pakai masker dan memastikan ventilasi yang baik saat membersihkan area yang mungkin terkontaminasi untuk menurunkan risiko inhalasi partikel virus.

Deteksi dini dan pelaporan cepat sangat penting. Ketika infeksi dikenali lebih awal, pasien memiliki peluang lebih baik untuk mendapatkan perawatan suportif sebelum terjadi komplikasi yang mengancam nyawa.

Referensi

World Health Organization. “Hantavirus – Multi-country (MV Hondius), Disease Outbreak News.” 2026. Diakses Mei 2026.

Colleen B. Jonsson, Luiz Tadeu Moraes Figueiredo, and Olli Vapalahti, “A Global Perspective on Hantavirus Ecology, Epidemiology, and Disease,” Clinical Microbiology Reviews 23, no. 2 (April 1, 2010): 412–41, https://doi.org/10.1128/cmr.00062-09.

Adam MacNeil, Thomas G. Ksiazek, and Pierre E. Rollin, “Hantavirus Pulmonary Syndrome, United States, 1993–2009,” Emerging Infectious Diseases 17, no. 7 (July 1, 2011): 1195–1201, https://doi.org/10.3201/eid1707.101306.

Centers for Disease Control and Prevention. “Hantavirus.” Diakses Mei 2026.

Michelly De Pádua et al., “Development of a Novel Plaque Reduction Neutralisation Test for Hantavirus Infection,” Memórias Do Instituto Oswaldo Cruz 110, no. 5 (June 27, 2015): 624–28, https://doi.org/10.1590/0074-02760150102.

“Hantavirus Pulmonary Syndrome in the Americas.” Revista Panamericana de Salud Pública/Pan American Journal of Public Health 3, no. 5 (1998): 351–353.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More