ilustrasi menimbang berat badan (pexels.com/Annushka Ahuja)
Terakhir, ciri-ciri gaya hidup sedentari yang sering tidak disadari adalah kenaikan berat badan. Saat tubuh minim aktivitas, kebutuhan energi ikut berkurang sehingga kalori dari makanan tidak terbakar secara maksimal. Kondisi ini membuat tubuh menyimpan kelebihan energi dalam bentuk lemak, terutama di area perut, paha, dan lengan.
Selain itu, kebiasaan duduk lama sering kali dibarengi dengan pola makan tidak terkontrol, seperti ngemil atau mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak. Dalam jangka panjang, penumpukan lemak ini dapat memperlambat metabolisme dan membuat berat badan semakin sulit dikendalikan. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara asupan kalori dan aktivitas fisik menjadi kunci penting untuk mencegah kenaikan berat badan berlebih.
Mulailah dengan langkah sederhana seperti rutin berdiri, berjalan kaki singkat, atau menyisipkan aktivitas fisik ringan di sela-sela kesibukan harian. Konsistensi jauh lebih penting daripada intensitas, karena perubahan kecil yang dilakukan setiap hari dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan tubuh. Dengan pola hidup yang lebih aktif dan seimbang, risiko gaya hidup sedentari bisa ditekan dan kualitas hidup pun meningkat secara signifikan.
Referensi:
“Prevalence of a Sedentary Lifestyle as a Predictor of Risk of Chronic Diseases and Stress Levels in Malang, Indonesia.” Malaysian Journal of Public Health Medicine. Diakses April 2026.
“Compared with Dietary Behavior and Physical Activity Risk, Sedentary Behavior Risk is an Important Factor in Overweight and Obesity.” BMC Pediatrics. Diakses April 2026.
“Sedentary Behaviours and Obesity in Adults: The Cardiovascular Risk in Young Finns Study.” BMJ Open / PubMed Central. Diakses April 2026.
“Sedentary Lifestyle and the Threat of Obesity Among Young People.” The Journal of Academic Science. Diakses April 2026.
“Sedentary Lifestyle as a Risk Factor for Obesity in Adolescents.” Nursing Sciences Journal. Diakses April 2026.