ilustrasi makan cokelat (pexels.com/RDNE Stock project)
Perasaan lebih enak setelah makan cokelat sering muncul karena rangsangan rasa manis yang cepat ditangkap oleh otak. Sensasi ini membuat tubuh terasa lebih ringan, padahal yang berubah baru respons di kepala, bukan kondisi fisik secara keseluruhan. Pada saat yang sama, otot dan sistem metabolisme tetap bekerja dengan beban yang sama seperti sebelumnya.
Kalau tubuh kekurangan istirahat, cairan, atau asupan gizi utama, cokelat tidak bisa menutup kebutuhan tersebut. Efek nyamannya bersifat sementara dan tidak menyentuh sumber rasa capek yang sebenarnya. Inilah alasan mengapa seseorang bisa merasa lebih baik secara perasaan, tetapi tetap lemas saat harus bergerak. Tubuh membutuhkan dukungan yang lebih untuk benar-benar kembali bertenaga.
Cokelat bikin mood naik tetapi badan tetap capek karena makanan yang satu ini memberi dorongan pada suasana hati. Meski begitu, makanan ini tidak selalu sejalan dengan kebutuhan energi tubuh. Rasa capek sering kali berasal dari hal mendasar seperti kurang tidur, cairan, atau nutrisi penting yang tidak dipenuhi oleh cokelat. Jika perasaan terasa lebih baik tetapi badan tetap lelah, sudahkah asupan dan istirahat kamu perhatikan dengan benar?
Referensi:
"Surprising Mental Health Benefits of Dark Chocolate" GWS Medika. Diakses pada Februari 2026
"Why Does Chocolate Make Us Happy? The Science Behind Your Favourite Mood Booster" Choc Affair. Diakses pada Februari 2026
"The effects of dark chocolate on cognitive performance during cognitively demanding tasks: A randomized, single-blinded, crossover, dose-comparison study" Heliyon. Diakses pada Februari 2026
"The acute and sub-chronic effects of cocoa flavanols on mood, cognitive and cardiovascular health in young healthy adults: a randomized, controlled trial" Frontiers in Pharmacology. Diakses pada Februari 2026