Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi cokelat
ilustrasi cokelat (pexels.com/alleksana)

Intinya sih...

  • Kandungan gula memberi energi singkat pada otak

  • Lemak cokelat tidak langsung diubah menjadi energi

  • Senyawa aktif cokelat lebih banyak bekerja di otak

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cokelat sering dianggap sebagai makanan kecil yang bisa memperbaiki suasana hati dalam waktu singkat, sehingga tidak heran jika banyak orang mencarinya saat tubuh terasa lelah atau pikiran mulai berat. Cokelat memang memiliki kandungan yang dapat memengaruhi kerja otak dan sistem saraf, tetapi efek tersebut tidak selalu sejalan dengan kondisi fisik tubuh secara keseluruhan. Di sinilah muncul kebingungan, mengapa setelah mengonsumsi cokelat bikin mood naik tetapi badan tetap capek?

Fenomena ini berkaitan dengan cara tubuh memproses zat aktif dalam cokelat, mulai dari gula, lemak, hingga senyawa bioaktif lain yang bekerja cepat tetapi tidak bertahan lama. Untuk memahami hubungan tersebut, berikut penjelasan selengkapnya!

1. Kandungan gula memberi energi singkat pada otak

ilustrasi cokelat (pexels.com/Gratisography)

Gula dalam cokelat mudah diserap oleh tubuh dan langsung digunakan sebagai sumber energi cepat, terutama oleh otak yang sangat bergantung pada glukosa. Kondisi ini membuat rasa segar dan nyaman muncul dalam waktu singkat setelah konsumsi. Namun, lonjakan gula darah tersebut tidak berlangsung lama karena tubuh segera menurunkannya kembali melalui kerja insulin.

Saat kadar gula turun, tubuh tidak otomatis mendapatkan energi baru yang cukup untuk otot dan sistem metabolisme lain. Akibatnya, badan tetap terasa lelah meski suasana hati sempat membaik. Efek ini lebih terasa jika cokelat dikonsumsi tanpa disertai asupan makanan bergizi lain.

2. Lemak cokelat tidak langsung diubah menjadi energi

ilustrasi cokelat (pexels.com/Ray Suarez)

Cokelat, terutama jenis susu dan manis, mengandung lemak yang cukup tinggi. Lemak memang sumber energi, tetapi proses pemecahannya dalam tubuh berlangsung lebih lambat dibandingkan karbohidrat. Hal ini membuat tubuh tidak langsung merasakan tambahan tenaga setelah mengonsumsi cokelat.

Di sisi lain, lemak dapat memberi rasa kenyang dan nyaman yang sering disalahartikan sebagai tanda tubuh sudah cukup bertenaga. Padahal, otot tetap memerlukan pasokan energi yang mudah diakses untuk beraktivitas. Tanpa kombinasi nutrisi yang seimbang, lemak dalam cokelat tidak cukup membantu mengurangi rasa capek.

3. Senyawa aktif cokelat lebih banyak bekerja di otak

ilustrasi cokelat (pexels.com/Sylwester Ficek)

Cokelat mengandung senyawa seperti theobromine dan sejumlah kecil kafein yang bekerja ringan pada sistem saraf pusat. Zat ini membantu meningkatkan kewaspadaan dan memberi efek nyaman pada otak. Dampaknya terasa lebih ke arah perasaan, bukan kekuatan fisik.

Namun, senyawa tersebut tidak berperan besar dalam pemulihan otot atau pengisian ulang energi tubuh. Jika tubuh sudah lelah karena kurang tidur, kurang cairan, atau aktivitas fisik berat, efek ini tidak cukup untuk mengatasinya. Otak memang terasa lebih segar, tetapi tubuh masih memerlukan istirahat dan nutrisi dasar.

4. Kurangnya mikronutrien pendukung energi

ilustrasi cokelat (pexels.com/Anete Lusina)

Cokelat bukan sumber utama vitamin dan mineral yang berperan langsung dalam produksi energi tubuh, seperti zat besi, magnesium dalam jumlah cukup, atau vitamin B kompleks. Tanpa mikronutrien tersebut, proses pembentukan energi di dalam sel tidak berjalan optimal. Akibatnya, tubuh tetap berada dalam kondisi lelah meski asupan kalori sudah masuk.

Pada kondisi tertentu, rasa lelah justru berasal dari kekurangan cairan atau mineral, bukan dari kurangnya makanan manis. Mengandalkan cokelat sebagai penolong utama bisa membuat kebutuhan tubuh yang sebenarnya terlewat. Tubuh membutuhkan kombinasi nutrisi yang lebih luas agar benar-benar terasa bertenaga.

5. Rasa enak setelah makan cokelat tidak selalu sejalan dengan kondisi tubuh

ilustrasi makan cokelat (pexels.com/RDNE Stock project)

Perasaan lebih enak setelah makan cokelat sering muncul karena rangsangan rasa manis yang cepat ditangkap oleh otak. Sensasi ini membuat tubuh terasa lebih ringan, padahal yang berubah baru respons di kepala, bukan kondisi fisik secara keseluruhan. Pada saat yang sama, otot dan sistem metabolisme tetap bekerja dengan beban yang sama seperti sebelumnya.

Kalau tubuh kekurangan istirahat, cairan, atau asupan gizi utama, cokelat tidak bisa menutup kebutuhan tersebut. Efek nyamannya bersifat sementara dan tidak menyentuh sumber rasa capek yang sebenarnya. Inilah alasan mengapa seseorang bisa merasa lebih baik secara perasaan, tetapi tetap lemas saat harus bergerak. Tubuh membutuhkan dukungan yang lebih untuk benar-benar kembali bertenaga.

Cokelat bikin mood naik tetapi badan tetap capek karena makanan yang satu ini memberi dorongan pada suasana hati. Meski begitu, makanan ini tidak selalu sejalan dengan kebutuhan energi tubuh. Rasa capek sering kali berasal dari hal mendasar seperti kurang tidur, cairan, atau nutrisi penting yang tidak dipenuhi oleh cokelat. Jika perasaan terasa lebih baik tetapi badan tetap lelah, sudahkah asupan dan istirahat kamu perhatikan dengan benar?

Referensi:

"Surprising Mental Health Benefits of Dark Chocolate" GWS Medika. Diakses pada Februari 2026

"Why Does Chocolate Make Us Happy? The Science Behind Your Favourite Mood Booster" Choc Affair. Diakses pada Februari 2026

"The effects of dark chocolate on cognitive performance during cognitively demanding tasks: A randomized, single-blinded, crossover, dose-comparison study" Heliyon. Diakses pada Februari 2026

"The acute and sub-chronic effects of cocoa flavanols on mood, cognitive and cardiovascular health in young healthy adults: a randomized, controlled trial" Frontiers in Pharmacology. Diakses pada Februari 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team