Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi vaksinasi.
ilustrasi vaksinasi (IDN Times/Aditya Pratama)

Intinya sih...

  • Paparan aluminium dari makanan jauh lebih besar dibanding dari vaksin.

  • Total aluminium dari vaksin seumur hidup sekitar 12 mg, sementara aluminium yang diserap dari makanan selama 100 tahun diperkirakan berkisar antara 468 hingga 2.785 mg.

  • Tidak ada bukti paparan aluminium vaksin membahayakan kesehatan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kekhawatiran tentang aluminium dalam vaksin sudah ada selama puluhan tahun. Padahal, aluminium digunakan sebagai ajuvan—zat yang membantu memperkuat respons imun—sejak 1920-an. Dalam tinjauan terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA, para peneliti dari Vaccine Education Center, Children’s Hospital of Philadelphia, Amerika Serikat (AS), menghitung secara rinci paparan aluminium dari vaksin dan membandingkannya dengan paparan dari makanan sehari-hari.

Jika seseorang menerima seluruh vaksin yang mengandung aluminium sesuai jadwal imunisasi Amerika Serikat per Januari 2025, total paparan aluminium seumur hidupnya diperkirakan sekitar 12 miligram (mg). Sebagai perbandingan, aluminium yang diserap dari makanan selama 100 tahun diperkirakan berkisar antara 468 hingga 2.785 mg. Bahkan, angka terendahnya pun berkali-kali lipat lebih besar dibanding paparan dari vaksin.

Perbedaan ini sudah terlihat sejak dini. Dalam dua tahun pertama kehidupan, paparan maksimum aluminium dari vaksin sekitar 4,4 mg. Pada periode yang sama, paparan dari makanan berkisar 3–18 mg. Hingga usia 18 tahun, total paparan dari pola makan diperkirakan 73–438 mg, sementara dari vaksin kurang dari 8 mg.

Aluminium ada di sekitar kita

Aluminium adalah unsur ketiga terbanyak di kerak bumi, menyusun sekitar 8–9 persen permukaan bumi. Aluminium terdapat di tanah, air, udara, dan berbagai bahan pangan. Aluminium juga digunakan dalam kemasan makanan dan minuman, alat masak, bahan bangunan, kosmetik, hingga produk perawatan pribadi seperti antiperspiran.

Rata-rata orang dewasa di AS mengonsumsi sekitar 7–9 mg aluminium per hari dari makanan dan air. Bayi pun terpapar melalui asupan harian: dalam enam bulan pertama kehidupan, perkiraan asupan kumulatif aluminium sekitar 5,3 mg dari ASI, 19 mg dari susu formula berbasis susu, dan hingga 127 mg dari formula berbasis kedelai.

Namun, penting dicatat bahwa hanya sebagian kecil aluminium yang tertelan benar-benar diserap ke dalam aliran darah—diperkirakan antara 0,01 persen hingga 5 persen, tergantung bentuk kimianya. Pada orang dewasa, total aluminium dalam tubuh biasanya sekitar 30–50 mg pada satu waktu tertentu, terutama berasal dari makanan.

Dalam konteks vaksin, asumsi lama bahwa seluruh aluminium yang disuntikkan langsung masuk ke aliran darah kini telah diperbarui. Bukti menunjukkan bahwa ajuvan aluminium sebagian besar tetap berada di lokasi suntikan dalam bentuk granuloma—kumpulan kecil sel imun—yang membantu melepaskan antigen secara perlahan dan membatasi paparan sistemik.

Apakah aluminium dalam vaksin berbahaya?

ilustrasi vaksinasi (IDN Times/Aditya Pratama)

Aluminium pada kadar sangat tinggi memang dapat memengaruhi sistem saraf. Salah satu contohnya adalah kondisi langka yang disebut dialysis encephalopathy syndrome, yang terjadi pada pasien dialisis jangka panjang akibat akumulasi aluminium dari cairan dialisis yang terkontaminasi. Namun, gejalanya berbeda dari gangguan neurologis seperti autisme atau Alzheimer, sehingga tidak menunjukkan ancaman luas terhadap populasi umum.

Vaksin yang beredar di AS dibatasi maksimal 0,85 mg aluminium per dosis. Vaksin yang mengandung aluminium antara lain hepatitis B, DTaP/Tdap, Hib, pneumokokus, hepatitis A, HPV, dan meningokokus B.

Dalam kesimpulan tinjauan tersebut, para peneliti menyatakan bahwa berdasarkan pemahaman tentang bagaimana aluminium diproses tubuh, perbandingan tingkat paparan dari diet dan vaksin, serta bukti efek toksisitas aluminium pada kadar tinggi, paparan aluminium dari vaksin sesuai jadwal imunisasi 2025 tidak menyebabkan dampak kesehatan merugikan pada anak-anak maupun di kemudian hari.

Apa yang ditunjukkan oleh studi ini penting, bahwa paparan aluminium adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, dan kontribusi dari vaksin hanya sebagian kecil dari total paparan seumur hidup.

Referensi

Charlotte A. Moser and Paul A. Offit, “Aluminum Exposure From Vaccines and Diet,” JAMA, February 9, 2026, https://doi.org/10.1001/jama.2026.0056.

Editorial Team