Ada empat kategori gangguan fungsi seksual:
Gangguan hasrat seksual (desire disorder). Ini juga dikenal sebagai hipoaktif hasrat seksual (hypoactive sexual desire disorder/HSDD), yaitu kondisi ketika seseorang kehilangan minat untuk berhubungan seks sehingga membuatnya merasa tertekan atau stres. Gangguan ini bisa muncul berbeda pada laki-laki dan perempuan.
Gangguan arousal (arousal disorder). Pada gangguan ini, seseorang sebenarnya punya keinginan untuk berhubungan seks, tetapi tubuhnya sulit atau bahkan tidak bisa merespons rangsangan seksual.
Pada laki-laki, biasanya berupa disfungsi ereksi, yaitu tidak bisa ereksi atau sulit mempertahankan ereksi.
Pada perempuan, biasanya berupa vagina kering sehingga sulit terangsang atau merasa tidak nyaman.
Gangguan orgasme (orgasm dysfunction). Orang dengan gangguan orgasme merasa sulit atau bahkan tidak bisa mencapai orgasme, meski sudah terangsang dan mendapat rangsangan seksual.
Gangguan nyeri saat berhubungan seks (pain disorder). Ini termasuk kondisi seperti vaginismus (vagina menegang saat akan dimasuki), dispareunia (sakit saat berhubungan), atau nyeri saat ejakulasi pada laki-laki. Nyeri ini bisa membuat aktivitas seksual terasa menyakitkan dan tidak menyenangkan.
Gangguan fungsi seksual pada laki-laki
Gangguan fungsi seksual cukup umum dialami oleh laki-laki. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen laki-laki usia 40–70 tahun pernah mengalaminya. Masalah yang paling sering adalah disfungsi ereksi dan gangguan ejakulasi.
Disfungsi ereksi adalah kondisi ketika seseorang tidak bisa mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup keras untuk melakukan hubungan seks yang memuaskan. Biasanya dialami oleh laki-laki di atas 40 tahun. Gejalanya bisa berupa:
Tidak bisa ereksi sama sekali.
Kadang bisa ereksi, tetapi tidak selalu saat dibutuhkan.
Bisa ereksi, tetapi cepat hilang sebelum selesai berhubungan seks.
Ada tiga jenis gangguan ejakulasi:
Ejakulasi dini: Ejakulasi terlalu cepat, lebih cepat dari keinginan sendiri atau pasangan.
Ejakulasi tertunda: Sulit atau sangat lama untuk ejakulasi meski ereksi normal.
Ejakulasi retrograd: Jarang terjadi, yaitu sperma justru masuk ke kandung kemih, bukan keluar melalui penis.
Gangguan fungsi seksual pada perempuan
Gangguan fungsi seksual juga sering dialami perempuan. Penelitian menemukan sekitar 41% perempuan usia subur mengalaminya.
Masalah umum pada perempuan adalah nyeri saat berhubungan seks dan sulit mencapai orgasme.
Nyeri dan rasa tidak nyaman
Nyeri bisa dirasakan di vagina atau panggul saat berhubungan. Penyebabnya bisa karena:
Kurang terangsang.
Vagina kering, misalnya karena menopause.
Iritasi dari kondom lateks atau spermisida.
Trauma psikologis akibat pengalaman buruk di masa lalu.
Beberapa kondisi kesehatan juga bisa memicu nyeri saat berhubungan, seperti:
Vaginismus (otot vagina menegang saat penetrasi).
Infeksi menular seksual (IMS).
Endometriosis.
Cedera pada organ genital.
Penyakit radang panggul.
Fibroid rahim.
Kista ovarium.
Sistitis (radang kandung kemih).
Sindrom iritasi usus besar.
Prolaps uterus (turunnya posisi rahim).
Kesulitan orgasme bisa berupa:
Primer: Tidak pernah mencapai orgasme sama sekali.
Sekunder: Pernah bisa orgasme, tetapi sekarang tidak lagi.
Ada juga perempuan yang bisa orgasme sendirian (saat masturbasi), tetapi tidak bisa orgasme dengan pasangan. Penyebabnya bisa karena faktor fisik, psikologis, atau gabungan keduanya.