Comscore Tracker

Post-Exposure Prophylaxis, Pertolongan Pertama saat Terpapar HIV 

Mencegah virus berkembang biak dalam tubuh 

Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan virus yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh. Ia dapat ditularkan melalui cairan tubuh seperti darah, air mani, atau cairan yang keluar dari vagina atau rektum.

Mereka yang mencurigai dirinya terpapar HIV harus segera melakukan pengobatan yang disebut dengan post-exposure prophylaxis (PEP). Ini ditujukan untuk mencegah perkembangan virus tersebut dalam tubuh.

PEP umumnya direkomendasikan sebagai pertolongan pertama ketika seseorang diduga terpapar HIV. Misalnya, pekerja medis yang tak sengaja tertusuk jarum suntik di rumah sakit, penggunaan narkoba suntikan, mengalami kekerasan atau pelecehan seksual, atau ketika berhubungan seks yang berisiko tinggi menularkan HIV.

Apa sebenarnya definisi PEP dan apakah ini efektif mencegah penularan HIV? Simak ulasan di bawah ini untuk mendapatkan informasi selengkapnya.

1. Definisi post-exposure prophylaxis 

Post-Exposure Prophylaxis, Pertolongan Pertama saat Terpapar HIV ilustrasi dokter perempuan (pexels.com/Mix and Match Studio)

Post-exposure prophylaxis, atau profilaksis pascapajanan merupakan pengobatan darurat jangka pendek yang digunakan untuk mencegah atau menurunkan risiko terkena infeksi. Ini dapat digunakan untuk mencegah beberapa jenis infeksi, tetapi umumnya, PEP hanya digunakan untuk mencegah infeksi yang dianggap sangat berbahaya, misalnya HIV, seperti yang diterangkan oleh Verywell Health.

PEP harus diberikan segera setelah seseorang berisiko tinggi atau terpapar HIV. Pengobatan ini juga hanya diberikan pada orang yang berstatus HIV negatif yang baru saja terpajan virus secara tidak sengaja. PEP bekerja dengan mencegah virus menguasai sistem kekebalan tubuh, sehingga semakin cepat pemberian PEP, semakin kecil risiko tertular infeksi.

Namun, jika kamu sering atau secara teratur mendapatkan paparan HIV, misalnya memiliki banyak pasangan seks atau pasangan terinfeksi HIV, pemberian PEP tidak berlaku. Ini membutuhkan perawatan yang berbeda yang disebut dengan profilaksis prapajanan (pre-exposure prophylaxis).

2. Kapan seseorang harus mendapatkan PEP? 

Post-Exposure Prophylaxis, Pertolongan Pertama saat Terpapar HIV ilustrasi orang sedang berpikir (pexels.com/Andrea Piacquadio)

PEP harus diberikan segera setelah kemungkinan terpapar virus. Mengutip WebMD, kamu harus memulai PEP dalam waktu 72 jam (3 hari) setelah terpajan HIV. Sedangkan jika lebih dari waktu ini, PEP hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak berpengaruh terhadap pencegahan.

Dilansir CDC, paparan HIV merupakan kondisi darurat medis. Ini dikarenakan virus dapat membentuk infeksi dengan sangat cepat, sering kali dalam waktu 24 hingga 36 jam setelah terkena paparan. Oleh karena itu, laman Healthline menyebut bahwa waktu adalah faktor penting dalam pemberian PEP. Semakin cepat kamu memulainya, semakin baik.

Baca Juga: 5 Infeksi Oportunistik HIV/AIDS, Muncul saat Sistem Imun Melemah

3. Cara menjalani pengobatan PEP

Post-Exposure Prophylaxis, Pertolongan Pertama saat Terpapar HIV ilustrasi minum obat (pexels.com/JESHOOTS.com)

PEP terdiri dari tiga obat antiretroviral yang harus diminum setiap hari selama 28 hari (4 minggu) setelah terpapar virus. Obat-obatan tersebut meliputi tenofoir, emtricitabine, dan raltegravir atau dolutegravif.

Berikut aturan yang harus kamu ikuti selama perawatan PEP:

  • Untuk orang dewasa dan remaja yang sehat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika serikat (CDC), merekomendasikan pemberian obat tenofovir disoproxil fumarate (TDF) 300 mg + emtricitibine (FTC) 200 mg sekali sehari plus raltegravir (RAL) 400 mg dua kali sehari atau dolutegravir (DTG) 50 mg sekali sehari.
  • Perempuan yang berada di masa awal kehamilan harus menggunakan raltegravir untuk menghindari risiko cacat lahir.
  • Anak-anak usia 2 tahun atau lebih yang membutuhkan PEP biasanya mendapatkan obat yang sama, tetapi dengan dosis yang berbeda.

Menurut keterangan Healthline, sangat penting untuk mengambil PEP sekitar waktu yang sama setiap hari. Ini agar kadar obat antiretroviral tetap bekerja konstan dalam tubuh selama pengobatan.

4. Efek samping PEP

Post-Exposure Prophylaxis, Pertolongan Pertama saat Terpapar HIV ilustrasi sakit perut (freepik.com/KamranAydinov)

PEP merupakan metode yang sangat efektif mencegah infeksi HIV, yaitu hingga 80 persen, jika diminum dengan benar sesuai resep dokter. Namun, PEP juga memiliki kemungkinan efek samping, seperti:

  • Sakit perut.
  • Kelelahan.
  • Sakit kepala.
  • Diare.
  • Mual.
  • Insomnia.
  • Kram perut.
  • Kembung.
  • Rasa haus yang meningkat.
  • Muntah.
  • Masalah hati, tetapi ini jarang.

Jika kamu mengalami efek samping tersebut lebih dari dua minggu, atau mengalami demam atau ruam selama penggunaan PEP, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter. Bisa jadi ini adalah tanda bahwa obat tidak bekerja atau menunjukkan gejala awal infeksi HIV akut.

Adapun beberapa kondisi yang bisa menyebabkan PEP tidak bekerja secara efektif, yakni:

  • Konsumsi PEP lebih dari 72 jam setelah potensi paparan.
  • Tidak berpegang teguh pada rencana pengobatan yang diresepkan oleh dokter.
  • Terlibat perilaku yang meningkatkan risiko penularan HIV.
  • Paparan jenis HIV yang resistan terhadap obat di PEP.

5. Pemeriksaan HIV setelah penggunaan PEP 

Post-Exposure Prophylaxis, Pertolongan Pertama saat Terpapar HIV ilustrasi tes darah (pexels.com/Artem Podrez)

Setelah menjalani PEP, dokter  akan merekomendasikan untuk melakukan tes HIV. Ini diperlukan untuk memastikan bahwa kamu tidak terkena infeksi virus.

Pemeriksaan ini biasanya diambil pada 30 hari dan 90 hari setelah paparan. Terkadang waktu tambahan pemeriksaan juga diperlukan, yaitu pada 6 minggu, 12 minggu, dan 6 bulan minimal. Jika hasil tes menunjukkan HIV-positif atau mengalami gejala sindrom retroviral akut, viral load HIV dapat diperoleh.

Berikut adalah gejala yang mungkin menandakan fase akut infeksi HIV:

  • Demam.
  • Panas dingin.
  • Ruam.
  • Keringat malam.
  • Nyeri otot.
  • Sakit tenggorokan.
  • Kelelahan.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Sariawan.

Ingat, ya, PEP hanya digunakan untuk pengobatan darurat, bukan untuk menggantikan cara pencegahan HIV seperti penggunaan kondom atau metode pencegahan HIV lainnya. Sebaiknya segera temui dokter jika kamu mencurigai diri mungkin terpapar HIV seperti beberapa kemungkinan potensial yang telah disebutkan di atas.

Baca Juga: Obat HIV Bisa Jadi Obat Kanker Stadium 4? Ini Hasil Penelitiannya

Dwi wahyu intani Photo Verified Writer Dwi wahyu intani

@intanio99

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Izza Namira

Berita Terkini Lainnya