ilustrasi perempuan membuka jendela (freepik.com/tirachardz)
Banyak ahli percaya bahwa penularan flu lewat udara memainkan peran besar, tetapi bukti kuat dari uji klinis terkontrol masih terbatas. Studi ini menjadi salah satu yang pertama menunjukkan bahwa penularan tidak selalu terjadi, bahkan dalam kontak dekat jika kondisi lingkungannya tidak mendukung.
Poin penting dari studi ini adalah:
Ruang tertutup dengan udara yang stagnan dan kontak dekat dengan orang yang batuk adalah situasi paling berisiko.
Sirkulasi udara yang baik dapat secara signifikan menurunkan risiko.
Jika berada sangat dekat dengan orang yang sakit, masker, terutama N95, masih menjadi perlindungan paling efektif.
Setiap tahun, influenza tetap menyebabkan hingga 1 miliar infeksi secara global, dengan jutaan rawat inap dan ribuan kematian. Namun, studi ini memberi harapan bahwa lingkungan yang dirancang dengan baik bisa membuat perbedaan besar.
Eksperimen di hotel ini mengingatkan bahwa pencegahan flu bukan hanya soal vaksin dan obat, tetapi juga soal udara yang kita hirup, jarak yang kita jaga, dan kebiasaan sehari-hari. Ventilasi, menerapkan etika batuk yang baik, serta pakai masker saat diperlukan bisa menghentikan virus bahkan sebelum ia sempat menyebar.
Temuan studi ini membuka jalan menuju strategi pencegahan yang lebih cerdas, dengan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana virus benar-benar berpindah dari satu orang ke orang lain.
Referensi
Jianyu Lai et al., “Evaluating Modes of Influenza Transmission (EMIT-2): Insights From Lack of Transmission in a Controlled Transmission Trial With Naturally Infected Donors,” PLoS Pathogens 22, no. 1 (January 7, 2026): e1013153, https://doi.org/10.1371/journal.ppat.1013153.
"Study: How can we stop the spread of flu?" University of Maryland School of Public Health. Diakses Januari 2026.