Menjelang Natal dan akhir tahun, ritme hidup banyak orang berubah. Jadwal menjadi lebih longgar, meja makan lebih penuh dan bervariasi, dan gelas minuman tak jarang terisi ulang tanpa terasa. Bagi sebagian orang, ini adalah momen jeda setelah setahun bekerja keras—waktu untuk berkumpul, merayakan, dan bersulang.
Namun, di balik suasana hangat dan euforia liburan, tubuh tetap bekerja mengikuti aturannya sendiri. Jantung, yang berdetak tanpa henti, bisa bereaksi terhadap perubahan ekstrem dalam pola tidur, stres, dan konsumsi alkohol. Pada sebagian orang, reaksinya bukan cuma rasa lelah, melainkan irama yang tiba-tiba terasa tidak beres. Fenomena inilah yang dikenal sebagai holiday heart syndrome. Istilah medis yang sudah dikenali sejak puluhan tahun lalu ini kerap luput dari perhatian karena gejalanya sering dianggap sepele.
