Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta Virus Nipah: Infeksi Zoonosis yang Berpotensi Mematikan
Mikrograf elektron transmisi berwarna dari satu partikel virus Nipah (tengah, berwarna merah) yang tumbuh dari permukaan sel yang terinfeksi (hijau). (flickr.com/NIAID)

Intinya sih...

  • Virus Nipah adalah infeksi zoonosis langka dengan tingkat kematian hingga 75 persen.

  • Penularan dapat terjadi dari hewan ke manusia maupun antarmanusia.

  • Hingga kini belum ada vaksin atau obat spesifik yang disetujui, menjadikan virus ini ancaman kesehatan global yang tidak boleh diabaikan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Virus Nipah adalah salah satu patogen zoonosis berpotensi mematikan yang pernah diidentifikasi dalam beberapa dekade terakhir. Meski kasusnya relatif jarang, tetapi infeksi ini mendapat perhatian serius dari komunitas kesehatan global karena tingkat kematian yang tinggi dan potensi wabah yang sulit dikendalikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memasukkan virus Nipah dalam daftar penyakit prioritas yang memerlukan riset dan kesiapsiagaan global.

Virus ini pertama kali dikenali pada tahun 1998–1999 saat terjadi wabah ensefalitis misterius di Malaysia dan Singapura. Investigasi epidemiologi kemudian mengaitkan penyakit tersebut dengan kontak manusia terhadap babi yang terinfeksi, sementara reservoir alaminya diketahui berasal dari kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus. Sejak saat itu, virus Nipah dipahami sebagai ancaman lintas spesies yang nyata.

Secara global, infeksi virus Nipah tergolong langka, tetapi berpotensi fatal. WHO mencatat tingkat kematian (case fatality rate) berkisar antara 40–75 persen, tergantung lokasi wabah, akses layanan kesehatan, dan kecepatan diagnosis. Angka ini menjadikan virus Nipah sebagai salah satu infeksi virus dengan fatalitas tertinggi di dunia.

Kasus virus Nipah paling sering dilaporkan di Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama di Bangladesh dan India. Bangladesh melaporkan wabah hampir setiap tahun sejak 2001, dengan pola penularan yang berbeda dari wabah awal di Malaysia. India juga mengalami beberapa wabah sporadis, termasuk di Kerala pada 2018, 2021, dan 2023.

Hingga saat ini, belum ada laporan wabah global berskala besar, tetapi WHO menegaskan bahwa potensi penyebaran lintas negara tetap ada, terutama di wilayah dengan interaksi erat antarmanusia, hewan ternak, dan satwa liar. Perubahan lingkungan, deforestasi, dan urbanisasi dinilai meningkatkan risiko kemunculan kembali virus ini di masa depan.

1. Penyebab dan cara penularan virus nipah

Virus Nipah merupakan anggota genus Henipavirus dari famili Paramyxoviridae. Reservoir alaminya adalah kelelawar buah (Pteropus), yang umumnya tidak menunjukkan gejala sakit tetapi dapat menularkan virus melalui air liur, urine, atau feses.

Penularan ke manusia dapat terjadi melalui beberapa jalur. Pada wabah di Malaysia, penularan terutama terjadi dari babi yang terinfeksi ke manusia, terutama pekerja peternakan. Di Bangladesh dan India, penularan lebih sering terjadi melalui konsumsi nira kurma mentah yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar.

Selain itu, virus Nipah juga dapat menyebar melalui kontak langsung antarmanusia, terutama melalui cairan tubuh, seperti saliva dan sekresi pernapasan. Penularan nosokomial (di fasilitas kesehatan) telah dilaporkan dalam beberapa wabah.

2. Gejala infeksi virus nipah

Investigasi "dugaan wabah virus Nipah" di distrik Faridpur, Bangladesh. Foto ini diambil pada 29 Maret 2018. (flickr.com/TEPHINET Secretariat/Dr. Mohammad Gazi Shah Alam)

Gejala infeksi virus Nipah sangat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Pada fase awal, pasien biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan gejala mirip flu.

Dalam beberapa hari, infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis akut, ditandai dengan gangguan kesadaran, kebingungan, kejang, dan koma.

Gejala pernapasan seperti batuk dan sesak napas juga dapat muncul, terutama pada kasus berat.

Yang perlu diwaspadai, beberapa pasien yang selamat dapat mengalami komplikasi neurologis jangka panjang, termasuk gangguan kognitif dan kejang berulang.

3. Diagnosis virus nipah

Diagnosis virus Nipah memerlukan pemeriksaan laboratorium khusus di fasilitas dengan tingkat keamanan hayati tinggi. Metode yang digunakan meliputi RT-PCR, deteksi antibodi (ELISA), serta isolasi virus dari sampel darah, cairan serebrospinal, atau swab tenggorokan.

Karena gejalanya mirip infeksi virus lain, diagnosis dini sering menjadi tantangan, terutama di wilayah dengan keterbatasan fasilitas laboratorium. WHO menekankan pentingnya surveilans dan pelaporan cepat pada kasus ensefalitis akut yang tidak jelas penyebabnya.

4. Pengobatan virus nipah

ilustrasi obat-obatan (IDN Times/Aditya Pratama)

Hingga saat ini, belum ada obat antivirus spesifik atau vaksin yang disetujui untuk virus Nipah. Penanganan bersifat suportif, termasuk perawatan intensif untuk menjaga fungsi pernapasan dan neurologis pasien.

Beberapa terapi eksperimental, seperti penggunaan antibodi monoklonal (misalnya m102.4), telah diuji secara terbatas dan menunjukkan hasil yang menjanjikan, tetapi masih memerlukan uji klinis lebih lanjut.

5. Komplikasi yang bisa terjadi dari infeksi virus nipah

Komplikasi paling serius dari infeksi virus Nipah adalah ensefalitis fatal dan gagal napas. Selain itu, pasien yang sembuh dapat mengalami relaps ensefalitis berbulan-bulan hingga bertahun-tahun kemudian.

Dampak psikososial juga signifikan, baik bagi pasien maupun komunitas terdampak, terutama karena stigma dan ketakutan selama wabah berlangsung.

6. Pencegahan

Penampakan virus Nipah di bawah mikroskop. (commons.wikimedia.org/NIAID)

Upaya pencegahan berfokus pada mengurangi paparan terhadap sumber penularan. Kamu direkomendasikan untuk menghindari konsumsi nira kurma mentah, membatasi kontak dengan kelelawar dan hewan sakit, serta menerapkan praktik kebersihan yang ketat.

Di fasilitas kesehatan, penerapan infection prevention and control (IPC) sangat penting untuk mencegah penularan antarmanusia. Edukasi masyarakat dan surveilans aktif juga menjadi kunci utama dalam mencegah wabah.

Virus Nipah memang bukan infeksi yang sering terjadi, tetapi jika sampai terjadi dampaknya bisa fatal. Tingginya angka kematian, keterbatasan terapi, dan potensi penularan antarmanusia menjadikan virus ini ancaman kesehatan global yang tidak boleh diabaikan.

Referensi

Geisbert TW, Mire CE, Geisbert JB, Chan YP, Agans KN, Feldmann F, Fenton KA, Zhu Z, Dimitrov DS, Scott DP, Bossart KN, Feldmann H, Broder CC. "Therapeutic treatment of Nipah virus infection in nonhuman primates with a neutralizing human monoclonal antibody." Sci Transl Med. 2014 Jun 25;6(242):242ra82. doi: 10.1126/scitranslmed.3008929.

Balram Rathish and Kushal Vaishnani, “Nipah Virus,” StatPearls - NCBI Bookshelf, April 24, 2023, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK570576/.

"Nipah Virus." Cleveland Clinic. Diakses Januari 2026.

"Nipah Virus." CDC. Diakses Januari 2026.

"Nipah virus." WHO. Diakses Januari 2026.

Editorial Team