Virus Nipah adalah salah satu patogen zoonosis berpotensi mematikan yang pernah diidentifikasi dalam beberapa dekade terakhir. Meski kasusnya relatif jarang, tetapi infeksi ini mendapat perhatian serius dari komunitas kesehatan global karena tingkat kematian yang tinggi dan potensi wabah yang sulit dikendalikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memasukkan virus Nipah dalam daftar penyakit prioritas yang memerlukan riset dan kesiapsiagaan global.
Virus ini pertama kali dikenali pada tahun 1998–1999 saat terjadi wabah ensefalitis misterius di Malaysia dan Singapura. Investigasi epidemiologi kemudian mengaitkan penyakit tersebut dengan kontak manusia terhadap babi yang terinfeksi, sementara reservoir alaminya diketahui berasal dari kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus. Sejak saat itu, virus Nipah dipahami sebagai ancaman lintas spesies yang nyata.
Secara global, infeksi virus Nipah tergolong langka, tetapi berpotensi fatal. WHO mencatat tingkat kematian (case fatality rate) berkisar antara 40–75 persen, tergantung lokasi wabah, akses layanan kesehatan, dan kecepatan diagnosis. Angka ini menjadikan virus Nipah sebagai salah satu infeksi virus dengan fatalitas tertinggi di dunia.
Kasus virus Nipah paling sering dilaporkan di Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama di Bangladesh dan India. Bangladesh melaporkan wabah hampir setiap tahun sejak 2001, dengan pola penularan yang berbeda dari wabah awal di Malaysia. India juga mengalami beberapa wabah sporadis, termasuk di Kerala pada 2018, 2021, dan 2023.
Hingga saat ini, belum ada laporan wabah global berskala besar, tetapi WHO menegaskan bahwa potensi penyebaran lintas negara tetap ada, terutama di wilayah dengan interaksi erat antarmanusia, hewan ternak, dan satwa liar. Perubahan lingkungan, deforestasi, dan urbanisasi dinilai meningkatkan risiko kemunculan kembali virus ini di masa depan.
