Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Virus Nipah Kembali Muncul, Apakah Indonesia Berisiko?

Virus Nipah Kembali Muncul, Apakah Indonesia Berisiko?
ilustrasi partikel virus Nipah (commons.wikimedia.org/NIAID)
Intinya Sih
  • Virus Nipah adalah patogen zoonotik mematikan dengan fatalitas tinggi (sekitar 40–70 persen).

  • Reservoir utama Nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus yang tidak cuma ada di Asia Selatan, tetapi juga tersebar di Asia tenggara, termasuk Indonesia.

  • Deteksi dini, surveilans hewan dan manusia, serta perilaku pencegahan adalah kunci mitigasi risiko.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Virus Nipah (NiV) adalah patogen zoonotik berbahaya yang dapat menyerang manusia dan hewan. Penyakit ini ditularkan dari hewan ke manusia, umumnya melalui reservoir alami—kelelawar buah (Pteropus spp.)— atau lewat hewan perantara seperti babi; dan juga bisa menyebar dari manusia ke manusia melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien atau sekret pernapasan.

Infeksi NiV dapat menyebabkan spektrum gejala bervariasi, mulai dari demam ringan hingga penyakit pernapasan berat dan ensefalitis fatal (radang otak). Kasus fatalitas yang tinggi, yang berkisar 40–70 persen dari mereka yang terinfeksi, menjadikannya patogen serius bagi kesehatan masyarakat.

Setelah beberapa dekade mengalami wabah sporadis di Asia selatan dan tenggara, termasuk Malaysia, Singapura, Bangladesh, dan India, NiV kembali mendapatkan perhatian global karena laporan kasus baru di India pada awal 2026 di beberapa distrik.

Table of Content

Potensi risikonya di Indonesia

Potensi risikonya di Indonesia

Berikut beberapa hal yang perlu dipahami mengenai potensi risiko NiV di Indonesia.

  • Reservoir alaminya ada di Indonesia

Reservoir utama Nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus yang tidak cuma ada di Asia Selatan, tetapi juga tersebar di Asia tenggara, termasuk Indonesia. Sebuah laporan menyebut bahwa deteksi NiV telah ditemukan pada kelelawar Pteropus hypomelanus di Jawa Tengah. Ini menunjukkan bahwa reservoir alami virus ini memang sudah ada, meskipun sejauh ini belum ditemukan kasus penularan ke manusia di Indonesia.

  • Risiko dari perdagangan dan perjalanan global

Mobilitas manusia dan barang di era globalisasi memperbesar peluang patogen lintas batas. Kasus NiV di India yang dilaporkan pada awal 2026 menunjukkan bahwa negara-negara Asia kini aktif meningkatkan screening kesehatan di bandara mirip era COVID-19 untuk mencegah ekspor kasus lewat perjalanan internasional.

  • Kapabilitas deteksi dan respons lokal

Deteksi dini menjadi penentu utama pengendalian wabah. Sistem surveilans Indonesia perlu diperkuat untuk mendeteksi gejala klinis yang mungkin menyerupai infeksi NiV, terutama di fasilitas kesehatan di daerah dengan populasi kelelawar buah tinggi. Meskipun Indonesia hingga kini belum melaporkan kasus konfirmasi, tetapi kapasitas laboratorium dan surveilans zoonosis harus siap siaga untuk diagnosis cepat dan tindakan respons yang efektif.

  • Ekologi dan interaksi manusia-hewan

Interaksi masyarakat dengan fauna liar, misalnya panen nira atau nira buah yang bisa tercemar sekresi kelelawar, serta kontak dengan hewan ternak yang berpotensi menjadi perantara, adalah faktor risiko perilaku yang meningkatkan peluang perpindahan patogen dari hewan ke manusia. Perubahan penggunaan lahan dan fragmentasi habitat kelelawar juga dapat meningkatkan kontak antara kelelawar dan manusia.

Langkah pencegahan yang dapat dilakukan

Virus Nipah Kembali Muncul, Apakah Indonesia Berisiko?
ilustrasi penyebaran virus Nipah (IDN Times/NRF)

Pencegahan NiV perlu dilakukan pada beberapa level:

  • Surveilans dan deteksi dini: Meningkatkan kapasitas pemeriksaan klinis dan laboratorium untuk deteksi virus pada pasien dengan gejala akut pernapasan dan ensefalitis potensial.
  • Pemantauan fauna liar dan ternak: Menjalankan surveilans virus pada populasi kelelawar Pteropus dan hewan ternak rentan.
  • Edukasi masyarakat: Mengurangi kontak dengan kelelawar dan cairannya; menghindari konsumsi makanan atau minuman yang bisa terkontaminasi oleh sekresi kelelawar.
  • Proteksi petugas kesehatan dan respon cepat: Standar perlindungan diri yang ketat bagi tenaga kesehatan, terutama saat merawat pasien dengan gejala yang mencurigakan.
  • Koordinasi internasional: Mengikuti panduan WHO dan berbagi data epidemiologi dengan negara-negara tetangga serta organisasi kesehatan global untuk respon lebih terkoordinasi.

Kemunculan kembali Nipah di Asia mengingatkan kita bahwa patogen zoonotik dengan fatalitas tinggi tetap menjadi ancaman global meski kasusnya jarang. Reservoir alami virus ini memang hadir di Indonesia, tetapi sampai sekarang belum ada kasus manusia yang dikonfirmasi. Risiko perpindahan patogen dari hewan ke manusia tidak boleh diabaikan, terutama di wilayah dengan interaksi manusia–hewan yang intens.

Kunci mitigasi risiko adalah surveilans yang kuat, deteksi dini, edukasi masyarakat, serta kesiapan sistem kesehatan untuk merespon potensi kasus baru. Dengan langkah preventif dan deteksi dini yang tepat, Indonesia dapat meminimalkan peluang masuk dan penyebaran Nipah di masyarakat.

Referensi

"Nipah virus." World Health Organization (WHO). Diakses Januari 2026.

"About Nipah Virus." Centers for Disease Control and Prevention. Diakses Januari 2026.

"Nipah virus infection - India." WHO. Diakses Januari 2026.

"Airports launch COVID-style health checks after outbreak of deadly virus." New York Post. Diakses Januari 2026.

Dimas Bagus Wicaksono Putro et al., “Nipah Virus Detection in Pteropus Hypomelanus Bats, Central Java, Indonesia,” Emerging Infectious Diseases 31, no. 4 (March 18, 2025): 867–70, https://doi.org/10.3201/eid3104.241872.

Emily S. Gurley et al., “Convergence of Humans, Bats, Trees, and Culture in Nipah Virus Transmission, Bangladesh - Volume 23, Number 9—September 2017 - Emerging Infectious Diseases Journal - CDC,” Emerging Infectious Diseases Journal, September 1, 2017, https://doi.org/10.3201/eid2309.161922.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Delvia Y Oktaviani
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More