Campak sering dianggap sebagai penyakit lama yang sudah jarang ditemui. Namun kenyataannya, kasus campak masih terus muncul, bahkan mengalami peningkatan di berbagai wilayah. Penyakit ini sangat mudah menular dan dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Di tengah banyaknya informasi yang beredar, tidak sedikit pertanyaan dan kesalahpahaman seputar campak—mulai dari gejala awal, cara penularan, hingga keamanan dan efektivitas vaksin. Informasi yang tidak lengkap atau keliru bisa membuat seseorang terlambat mengenali gejala atau ragu mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Berikut ini FAQ seputar campak, menjawab pertanyaan-pertanyaan paling umum tentang campak dengan bahasa yang mudah dipahami dan berbasis medis.
FAQ seputar Campak
Apa itu campak? | Campak disebabkan oleh virus yang sangat mudah menular dan menyebar melalui droplet pernapasan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Partikel virus juga dapat bertahan di udara atau permukaan selama beberapa jam sehingga orang lain bisa terinfeksi jika menghirup atau menyentuhnya. |
Apa saja gejala campak? | Gejala biasanya muncul 7–14 hari setelah terpapar virus dan umumnya meliputi: demam tinggi; batuk; hidung tersumbat atau hidung meler; mata merah dan berair; ruam merah yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh. Ruam sering muncul beberapa hari setelah gejala awal. |
Seberapa cepat campak menyebar? | Campak sangat menular. Hingga 90 persen orang yang tidak kebal yang berada dekat dengan penderita bisa terinfeksi. Virus dapat menyebar dari 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah ruam muncul. |
Apa saja komplikasi serius dari campak? | Beberapa komplikasi serius akibat campak termasuk: pneumonia; ensefalitis (radang otak); infeksi telinga; serta diare berat dan dehidrasi. Pada anak kecil dan orang dengan sistem imun lemah, komplikasi dapat berakibat fatal. |
Siapa saja yang berisiko mengalami komplikasi? | Komplikasi lebih sering terjadi pada: anak usia <5 tahun; orang dewasa >30 tahun; orang dengan sistem imun lemah; anak yang kekurangan nutrisi, misalnya vitamin A. Campak juga dapat melemahkan kekebalan tubuh, membuat orang lebih rentan terhadap infeksi lain. |
Bagaimana cara mengobati campak? | Tidak ada obat antivirus spesifik untuk campak. Perawatan fokus pada meringankan gejala dan memperbaiki komplikasi, misalnya dengan cairan, istirahat, dan pengawasan medis untuk masalah pernapasan atau infeksi tambahan. Vitamin A kadang diberikan pada anak untuk mengurangi keparahan, tetapi hanya boleh diberikan oleh tenaga kesehatan. |
Apakah vaksin campak efektif? | Ya! Vaksin campak yang sering diberikan sebagai bagian dari vaksin MMR sangat efektif. Satu dosis memberikan sekitar 93 persen perlindungan. Dua dosis mencapai sekitar 97 persen perlindungan. Ini sangat membantu mencegah wabah dan melindungi orang yang tidak bisa divaksinasi (misalnya terlalu muda atau memiliki sistem imun lemah). |
Apakah orang yang sudah divaksinasi masih bisa sakit campak? | Ya. Sekitar 3 dari 100 orang yang mendapatkan dua dosis vaksin kadang masih bisa terinfeksi jika terpapar virus sangat intens. Tetapi jika terkena, gejalanya umumnya lebih ringan dan risiko menular ke orang lain juga lebih rendah dibanding pada orang yang tidak divaksinasi. |
Siapa yang tidak boleh menerima vaksin campak? | Vaksin MMR sebaiknya tidak diberikan kepada: orang dengan sistem imun yang sangat lemah; ibu hamil; serta orang yang pernah mengalami reaksi alergi parah terhadap komponen vaksin. Jika tidak yakin tentang status imun atau vaksinasi, konsultasikan dengan tenaga kesehatan. |
Apa yang harus dilakukan jika terpapar campak? | Jika berkontak dengan orang yang terkena campak: cek status vaksinasimu; diskusikan dengan dokter apakah perlu vaksin tambahan atau imunoglobulin. Selain itu, perhatikan gejala selama 7–21 hari setelah paparan. Isolasi diri dari orang lain jika gejala berkembang. |
Apa itu SSPE? | Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE) adalah penyakit yang sangat jarang namun fatal pada sistem saraf pusat, biasanya berkembang 7–10 tahun setelah seseorang sakit campak. |
Kapan waktu terbaik untuk mendapatkan vaksinasi campak? | Imunisasi campak termasuk imunisasi rutin yang harus diperoleh anak dengan dosis pemberian tiga kali. Waktu terbaik untuk melakukan imunisasi campak pada anak: dosis 1 pada usia 9 bulan; dosis 2 pada usia 18 bulan; dan dosis 3 pada usia 5−7 tahun. Orang dewasa yang belum imunisasi campak sama sekali perlu mendapat dua dosis vaksin MMR. Pemberiannya dapat dilakukan pada usia 19−59 tahun, dengan jeda minimal 28 hari antara dosis pertama dan kedua. Namun, jika sudah pernah, satu dosis saja cukup.Pemberian imunisasi MMR juga termasuk dalam jenis vaksin untuk perempuan sebelum menikah dan hamil. Tujuannya untuk mencegah penularan ke janin melalui ari-ari selama kehamilan.Perempuan setidaknya perlu menyelesaikan dosis imunisasi campak 4 minggu sebelum hamil agar vaksinasi tersebut tidak memengaruhi kehamilan. |
Berapa lama vaksin campak bekerja di dalam tubuh? | Agar vaksin campak dapat bekerja, tubuh butuh waktu untuk menghasilkan antibodi pelindung sebagai respons terhadap vaksin. Antibodi yang dapat dideteksi biasanya muncul dalam beberapa hari setelah vaksinasi. Orang dianggap terlindungi setelah sekitar 2 atau 3 minggu, meskipun vaksin dapat memberi perlindungan lebih cepat. Jika kamu bepergian ke luar negeri, pastikan vaksinasi campak kamu sudah lengkap. Rencanakan untuk divaksinasi setidaknya 2 minggu sebelum keberangkatan. Jika perjalanan kamu kurang dari 2 minggu lagi dan kamu belum terlindungi dari campak, satu dosis vaksin MMR tetap dianjurkan. |
Bagaimana cara kerja vaksin campak? | Saat mendapatkan vaksin MMR, sistem kekebalan tubuh akan membentuk antibodi pelindung yang melawan virus campak yang dilemahkan dalam vaksin. Vaksin MMR melindungi dari campak karena jika kamu sudah divaksinasi lalu terpapar orang yang sakit campak, tubuh akan “mengingat” cara melawan virus tersebut. Ini berkat vaksin yang telah melatih sistem kekebalan tubuh. |
Apa saja efek samping vaksin MMR? | Seperti semua obat dan vaksin lain, vaksin MMR dapat menimbulkan efek samping, tetapi tidak semua orang akan mengalaminya. Efek samping yang umum biasanya ringan dan hanya berlangsung 2–3 hari. Ini meliputi: ruam merah berbintik (mirip ruam campak), tidak enak badan, dan demam tinggi sekitar 7–11 hari setelah vaksinasi; pembengkakan kelenjar di sekitar pipi, leher, dan rahang serta nyeri pada persendian (mirip bentuk ringan gondongan) sekitar 2–3 minggu setelah vaksinasi. Efek samping yang lebih serius, seperti reaksi alergi berat (anafilaksis), jarang terjadi. Petugas vaksinasi telah dilatih untuk menangani reaksi alergi dan segera memberikan perawatan. Informasi penting: vaksin MMR tidak menyebabkan autisme. Penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara vaksin MMR dan autisme. |
Referensi
"Frequently Asked Questions about Measles." National Foundation for Infectious Diseases. Diakses Januari 2026.
"Measles Frequently Asked Questions." American Academy of Pediatrics. Diakses Januari 2026.
"Questions About Measles." Centers for Disease Control and Prevention. Diakses Januari 2026.
"MMR (measles, mumps and rubella) vaccine." National Health Service. Diakses Januari 2026.
