- Mediterania Timur: naik 86 persen.
- Eropa: naik 47 persen.
- Asia Tenggara: naik 42 persen.
Kematian Campak Turun 88 Persen, tapi Kasus Dunia Justru Melonjak

- Kematian akibat campak turun 88 persen sejak tahun 2000, tetapi kasus global melonjak menjadi 11 juta pada 2024.
- Cakupan vaksin belum memadai: hanya 76 persen anak mendapat dosis kedua, jauh dari target 95 persen untuk menghentikan transmisi.
- Wabah meningkat di 59 negara, ditambah risiko pendanaan yang menipis, mengancam upaya menuju dunia bebas campak.
Campak seolah memainkan dua wajah pada beberapa tahun terakhir. Vaksin telah menyelamatkan hampir 59 juta nyawa sejak tahun 2000, dan angka kematian global turun hingga 88 persen. Namun, pada saat yang sama, jumlah kasus justru melesat di banyak wilayah dunia.
Laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan tinjauan epidemiologi global dalam Weekly Epidemiological Record (WER) yang terbit pada 28 November 2025 menggambarkan kondisi yang lebih rumit dibanding sekadar “turun” atau “naik”.
Pada tahun 2024, diperkirakan 95.000 orang meninggal akibat campak, mayoritas balita. Meski angka tersebut salah satu yang terendah dalam dua dekade terakhir, tetapi WHO menegaskan bahwa kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin murah dan efektif ini tetap tidak dapat diterima.
Di sisi lain, dunia mencatat sekitar 11 juta infeksi campak, naik hampir 800.000 kasus dibanding masa pra pandemi. Virus campak kembali memanfaatkan celah akibat penurunan cakupan vaksin, layanan imunisasi yang terganggu, serta ketimpangan akses di wilayah rawan konflik.
Lonjakan kasus: dari Eropa hingga Mediterania Timur
Beberapa wilayah mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun 2019:
Menariknya, Afrika menjadi pengecualian dengan penurunan kasus hingga 40 persen dan penurunan kematian 50 persen. WER mencatat perbaikan cakupan imunisasi rutin di sejumlah negara di Afrika, ditambah kegiatan imunisasi tambahan/program imunisasi pelengkap (supplementary immunization activities/SIA) yang berhasil menargetkan anak-anak yang terlewat.
Namun, lonjakan global tetap besar. Pada tahun 2024, sebanyak 59 negara melaporkan wabah besar atau mengganggu layanan, hampir tiga kali lipat lebih banyak dibanding tahun 2021.
Cakupan vaksinasi masih jauh dari target 95 persen

Walaupun ada kemajuan, tetapi cakupan imunisasi dunia masih belum stabil:
- Sebanyak 84 persen anak mendapat dosis pertama vaksin campak pada 2024.
- Sebanyak 76 persen anak mendapat dosis kedua.
Padahal, untuk menghentikan penularan, dunia membutuhkan setidaknya 95 persen cakupan dua dosis. Tercatat lebih dari 30 juta anak pada tahun 2024 masih belum terlindungi—tiga perempatnya tinggal di wilayah rentan seperti Afrika dan Mediterania Timur.
Kesenjangan imunisasi ini membuat campak menjadi penyakit yang paling cepat “bangkit” saat sistem kesehatan terganggu. WHO mencatat, penurunan cakupan vaksin sejak pandemi membuat banyak anak kehilangan kesempatan divaksinasi, sehingga virus menyebar.
Satu sisi yang memberi harapan adalah perbaikan surveilans:
- Lebih dari 500.000 sampel diperiksa laboratorium global Global Measles and Rubella Laboratory Network (GMRLN) pada tahun 2024.
- WER mencatat peningkatan kapasitas deteksi genotipe campak, membantu mengidentifikasi rantai penularan.
Namun, adanya pemotongan dana untuk laboratorium dan program imunisasi dapat memperlebar “immunity gap”. Tanpa pendanaan stabil, peluang wabah lebih besar pada tahun-tahun mendatang.
Mengejar eliminasi walau masih banyak PR
Pada akhir 2024, 81 negara (42 persen) telah mencapai eliminasi campak. Kabari baik tahun 2025:
- Negara-negara Pasifik diverifikasi bebas campak.
- Cabo Verde, Mauritius, dan Seychelles menjadi negara Afrika pertama yang mendapat verifikasi eliminasi.
- Total negara bebas campak bertambah menjadi 96.
Meski begitu, kemajuan ini belum merata. Wilayah Amerika sempat kembali mencapai status eliminasi pada 2024, tetapi kehilangan status itu pada 2025 akibat transmisi yang kembali terjadi di Kanada.
Campak juga kembali muncul di negara-negara berpendapatan tinggi, tempat eliminasi sebelumnya tercapai, karena adanya komunitas yang menolak atau sulit mengakses vaksin.
Untuk mengakhiri campak, WHO menekankan tiga hal, yaitu komitmen politik yang kuat, pendanaan stabil, serta cakupan dua dosis vaksin yang konsisten tinggi di semua wilayah.
Immunization Agenda 2030 (IA2030)—strategi global untuk memastikan tidak ada seorang pun tertinggal dari manfaat imunisasi, dengan target sampai tahun 2030—menempatkan campak sebagai indikator utama kesehatan sistem imunisasi global. Ketika campak naik, biasanya ada yang goyah.



















