Comscore Tracker

Pernah Dengar Istilah Stunting? Yuk Kenali Cara Pencegahannya 

Masalah gizi pada anak yang meresahkan

Di kalangan masyarakat, kita sering menganggap anak-anak bertubuh pendek sebatas faktor keturunan saja. Namun, hasil studi membuktikan bahwa pengaruh faktor keturunan hanya berkontribusi sebesar 15 persen, sementara faktor terbesar adalah terkait masalah asupan zat gizi, hormon pertumbuhan, dan terjadinya penyakit infeksi berulang.

Adalah stunting, sebuah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (tubuh dan otak), akibat anak kekurangan gizi dalam waktu lama. Kondisi ini membuat anak berperawakan lebih pendek dari anak normal seusianya, serta mengalami keterlambatan dalam berpikir. Umumnya, stunting disebabkan oleh asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. 

Dalam sudut pandang kesehatan, kondisi stunting membuat anak jadi lebih berisiko mempunyai masalah kesehatan jangka panjang yang tidak bisa dianggap remeh. Apa saja dan bagaimana pencegahannya? Yuk simak ulasan berikut.

1. Apa itu stunting? 

Pernah Dengar Istilah Stunting? Yuk Kenali Cara Pencegahannya Pixabay/460273

Berdasarkan keterangan sebuah laporan dalam Jurnal Kesehatan Komunitas tahun 2005, stunting merupakan masalah gizi kronis. Indikator seorang anak mengalami stunting adalah berdasarkan tinggi badan menurut umur (Z-score TB/U), di mana pertumbuhan anak tidak sejalan seiring bertambahnya usia.

Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama, mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2018, terdapat perbaikan status gizi buruk pada balita di Indonesia. Proporsi status gizi sangat pendek turun dari 37,2 persen (Riskesdas 2013) menjadi 30,8 persen (Riskesdas 2018). Demikian juga pada proporsi status gizi kurang, turun menjadi 17,7 persen (Riskesdas 2018), dari 19,6 persen (Riskesdas 2013).

Walaupun tercatat penurunan, tetapi itu masih kurang signifikan. Pasalnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas prevalensi 20 persen untuk gizi buruk alias stunting.

2. Penyebab stunting 

Pernah Dengar Istilah Stunting? Yuk Kenali Cara Pencegahannya pixabay.com/skalekar1992

Mencuplik dari Jurnal Gizi Klinik Indonesia tahun 2016, ada banyak faktor yang menyebabkan kejadian stunting. Asupan energi dan zat gizi yang tidak memadai serta penyakit infeksi merupakan faktor yang paling berperan terhadap stunting.

Di sisi lain, faktor seperti pengetahuan ibu terhadap pemenuhan nutrisi selama hamil, sosial ekonomi keluarga, serta pengaruh paparan asap rokok maupun polusi asap juga turut berpengaruh.

Baca Juga: 5 Cara Utama Cegah Stunting di Indonesia, Harus Dimulai sebelum Hamil

3. Dampak stunting pada anak 

Pernah Dengar Istilah Stunting? Yuk Kenali Cara Pencegahannya pixabay.com/lucdecleir

Berdasarkan laporan dalam Jurnal Kesehatan tahun 2019 yang diterbitkan oleh Politeknik Kesehatan Tanjungkarang, konsekuensi akibat stunting dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada masa balita, rendahnya fungsi kognitif, dan fungsi psikologis pada masa sekolah.

Anak yang tumbuh pendek pada usia dini (0-2 tahun) dan tetap pendek pada usia 4-6 tahun memiliki risiko 27 kali untuk tetap pendek sebelum memasuki usia pubertas.

Stunting juga dapat merugikan kesehatan jangka panjang seperti menurunnya sistem kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.

Bila masalah kesehatan yang bersifat kronis ini terus berlanjut, maka akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia.

4. Upaya pencegahan stunting 

Pernah Dengar Istilah Stunting? Yuk Kenali Cara Pencegahannya pixabay.com/AndisBilderwerkstatt

Sesuai dengan yang tertulis dengan laporan dalam Buletin Penelitian Kesehatan tahun 2017, periode 1.000 hari pertama kehidupan (1.000 HPK) merupakan simpul kritis sebagai awal pencegahan terjadinya stunting, mulai dari hamil, hingga anak berusia 24 bulan. Pemenuhan nutrisi tetap perlu dilanjutkan hingga masa remaja, agar anak dapat tumbuh optimal.

Status kesehatan dan gizi ibu hamil berperan penting dalam mencegah stunting. Pemenuhan zat gizi yang adekuat, baik gizi makro maupun gizi mikro, sangat dibutuhkan. Kualitas dan kuantitas MPASI yang baik merupakan komponen penting dalam makanan, karena mengandung sumber gizi makro dan mikro yang berperan dalam pertumbuhan linear.

5. Peran gizi dalam penanganan stunting 

Pernah Dengar Istilah Stunting? Yuk Kenali Cara Pencegahannya pixabay.com/dhanelle

Pemberian makanan yang tinggi protein, kalsium, vitamin A, dan zink dapat memacu pertumbuhan tinggi badan anak.  

Sebuah studi yang dimuat dalam Jurnal Gizi Klinik Indonesia tahun 2016 menunjukkan bahwa asupan protein, kalsium, dan fosfor signifikan lebih rendah pada anak dengan stunting daripada anak yang tidak mengalami stunting.

Selama pertumbuhan, tuntutan terhadap mineralisasi tulang sangat tinggi. Rendahnya asupan kalsium dapat mengakibatkan rendahnya mineralisasi matriks deposit tulang baru dan disfungsi osteoblas.

Studi lain dalam Jurnal Gizi Indonesia tahun 2017 menunjukkan suplementasi zink terbukti efektif dalam meningkatkan Z-score TB/U pada balita stunting. Jadi, zink ini berperan penting pada banyak fungsi tubuh seperti pertumbuhan sel, pembelahan sel, metabolisme tubuh, fungsi imunitas, dan perkembangan.

Itulah ulasan mengenai stunting pada anak. Tentu kamu yang sudah menjadi orang tidak ingin anaknya mengalami kurang gizi hingga gizi buruk, sehingga berdampak pada kehidupannya di masa mendatang. Oleh sebab itu, pemenuhan gizi, bahkan dari sebelum dan selama kehamilan, dapat memengaruhi kehidupan anak di masa mendatang. Yuk, cegah stunting!

Baca Juga: Kenalilah, Ini 7 Tanda Anak Stunting yang Perlu Kamu Tahu Sejak Dini

ilham Photo Verified Writer ilham

dimana-mana hatiku senang, lalala~

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya