Walaupun memiliki tingkat kematian yang tinggi, tetapi Nipah bukanlah virus yang menyerang semua orang secara acak. Penularannya sangat bergantung pada pola hidup, pekerjaan, dan lingkungan tertentu.
Indonesia bukan wilayah asing bagi faktor-faktor ekologis yang berkaitan dengan virus Nipah. Negara ini memiliki populasi kelelawar buah (Pteropus spp.) yang luas, aktivitas peternakan rakyat yang dekat dengan pemukiman, serta komunitas rural yang bergantung pada sumber pangan alami. Namun, keberadaan faktor risiko bukan berarti wabah tak terelakkan. Yang menentukan adalah siapa yang paling sering terpapar.
Berbagai studi dan laporan dari WHO, CDC, serta jurnal penyakit menular menunjukkan bahwa kasus virus Nipah di negara lain hampir selalu terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Pemetaan risiko menjadi kunci untuk memahami siapa saja yang rentan terhadap virus Nipah.
