Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Virus Nipah Lebih Ditakuti Ilmuwan daripada Ebola?

Mikrograf elektron transmisi berwarna dari satu partikel virus Nipah (tengah, berwarna merah) yang tumbuh dari permukaan sel yang terinfeksi (hijau).
Mikrograf elektron transmisi berwarna dari satu partikel virus Nipah (tengah, berwarna merah) yang tumbuh dari permukaan sel yang terinfeksi (hijau). (flickr.com/NIAID)
Intinya sih...
  • Virus Nipah dan Ebola sama-sama bisa menyebabkan penyakit berat dengan tingkat kematian tinggi, tetapi karakternya dalam penularan dan efek pada tubuh berbeda.
  • Ebola dikenal dengan fenomena pendarahan hebat dan sudah ada vaksin yang disetujui, sementara Nipah terkait dengan ensefalitis dan belum ada terapi spesifik maupun vaksin.
  • Meskipun penularan Nipah antarmanusia relatif kurang efisien dibanding Ebola, tetapi potensi dampaknya, terutama gangguan neurologis dan fatalitas tinggi, membuatnya menjadi sorotan para ilmuwan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sejak pertama kali diidentifikasi pada akhir 1990-an, virus Nipah (NiV) telah menjadi simbol ancaman virus zoonosis dengan potensi dampak serius pada manusia.

Virus ini berasal dari kelelawar buah, ditularkan ke hewan lain atau langsung ke manusia, dan bisa menyebabkan penyakit berat, termasuk ensefalitis (radang otak) serta gangguan pernapasan dengan angka kematian yang sangat tinggi, yaitu antara 40 hingga 75 persen.

Di sisi lain, virus Ebola, yang menyebabkan Ebola virus disease (EVD), adalah salah satu penyakit virus paling dikenali di dunia karena letalitasnya yang ekstrem dan gejala klinis yang dramatis, termasuk perdarahan hebat serta kegagalan organ ganda. Ebola juga menjadi fokus global setelah wabah besar di Afrika Barat antara tahun 2014–2016.

Namun, meskipun sama-sama berbahaya, tetapi cara virus Nipah dan virus Ebola berinteraksi dengan tubuh dan lingkungan sangat berbeda, dan inilah yang membuat para ilmuwan menyoroti virus Nipah.

Table of Content

1. Perbedaan dalam cara menyerang tubuh

1. Perbedaan dalam cara menyerang tubuh

Virus Nipah diketahui memiliki neurotropisme kuat, yang artinya virus ini cenderung menyerang jaringan saraf dan otak manusia. Ketika infeksi berkembang berat, penderita dapat mengalami ensefalitis yang cepat memburuk, menyebabkan kebingungan, kejang, hingga koma dalam hitungan hari. Ini bukan hanya ancaman sistemik, tetapi juga bisa meninggalkan efek neurologis jangka panjang pada penyintas.

Sementara itu, Ebola biasanya dikenal sebagai virus yang menyebabkan penyakit hemoragik. Artinya, tubuh penderita mengalami kehilangan darah internal dan eksternal, kegagalan organ, dan gangguan metabolik berat.

Keduanya mematikan, tetapi efek pada sistem saraf pusat Nipah membuatnya dibedakan secara klinis dari Ebola, yang lebih sering menyerang sistem peredaran darah dan jaringan tubuh secara luas.

2. Potensi mutasi dan penularan zoonosis yang efisien

Ilustrasi virus Ebola.
ilustrasi virus Ebola (flickr.com/NIAID)

Baik Nipah maupun Ebola adalah virus zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan oleh hewan. Virus Nipah menonjol karena keberagaman reservoir hewan. Selain kelelawar buah yang tersebar luas di Asia, virus ini dapat menular ke hewan ternak seperti babi, memperluas kemungkinan paparan manusia melalui kontak langsung atau konsumsi pangan yang terkontaminasi.

Ebola juga diyakini berasal dari hewan, kemungkinan besar kelelawar atau primata tertentu, tetapi jumlah spesies reservoir yang dikonfirmasi masih kurang jelas. Meski begitu, Ebola telah menunjukkan kemampuan untuk penularan antarmanusia yang intensif melalui kontak cairan tubuh dalam banyak wabah besar di Afrika.

Para ilmuwan memperhatikan potensi virus Nipah untuk berkembang menjadi bentuk yang lebih efisien menular antarmanusia jika terjadi mutasi tertentu, suatu skenario yang saat ini masih menjadi fokus penelitian karena dapat mengubah risiko epidemi secara drastis.

3. Status vaksin dan penanganan klinis

Perbedaan penting lainnya adalah status vaksin dan opsi pengobatan.

Untuk Ebola, setidaknya satu vaksin telah disetujui dan digunakan dalam respon wabah besar di Afrika, serta ada beberapa terapi yang sudah menunjukkan manfaat klinis. Ini berarti meskipun Ebola tetap berbahaya, tetapi ada alat yang dapat membantu mengendalikan penyebaran dan menurunkan angka kematian.

Sebaliknya, sampai saat ini belum ada vaksin atau terapi antivirus yang secara luas disetujui untuk digunakan di masyarakat umum terhadap infeksi virus Nipah. Meski berbagai kandidat vaksin dan terapi sedang dalam pengembangan, tetapi semuanya masih dalam penelitian lanjutan. Tanpanya, risiko klinis virus Nipah menjadi lebih sulit diatasi jika terjadi wabah besar.

Ebola dan Nipah sama-sama sangat mematikan, tetapi para ilmuwan melihat kedua virus ini dari perspektif risiko yang berbeda:

  • Ebola memiliki sejarah transmisi manusia-ke-manusia yang kuat dan wabah besar yang telah dipelajari, tetapi kini ada vaksin dan terapi yang membantu mencegah serta mengendalikan penyebarannya.
  • Nipah, meskipun secara tradisional kurang menular antarmanusia, tetapi memiliki kombinasi tingkat fatalitas tinggi, kemampuan menyerang sistem saraf pusat, reservoir hewan luas, dan keterbatasan alat medis yang membuatnya menjadi topik perhatian serius dalam strategi kesiapsiagaan global.

Tidak cuma melihat angka fatalitas, para ahli juga menyoroti pola penularan, target jaringan tubuh, kemampuan virus bermutasi, serta kesiapan respons medis. Dan dalam konteks itu, virus Nipah muncul sebagai ancaman multifaset yang memerlukan studi lanjutan, surveilans ketat, dan investasi riset global.

Referensi

"Nipah virus." World Health Organization (WHO). Diakses Januari 2026.

"Ebola disease." WHO. Diakses Januari 2026.

"Scientists Uncover Structure of Critical Component in Deadly Nipah Virus." Harvard Medical School. Diakses Januari 2026.

Side Hu et al., “Structural and Functional Analysis of the Nipah Virus Polymerase Complex,” Cell 188, no. 3 (January 20, 2025): 688-703.e18, https://doi.org/10.1016/j.cell.2024.12.021.

Rishav Madhukalya et al., “Nipah Virus: Pathogenesis, Genome, Diagnosis, and Treatment,” Applied Microbiology and Biotechnology 109, no. 1 (July 1, 2025): 158, https://doi.org/10.1007/s00253-025-13474-6.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Disfungsi Ereksi (Impotensi), 5 Hal Penting yang Perlu Kamu Tahu

31 Jan 2026, 22:56 WIBHealth