Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi pasien kanker.
ilustrasi pasien kanker (pexels.com/Thirdman)

Intinya sih...

  • Banyak kanker tidak menunjukkan gejala jelas pada tahap awal, sehingga sering terdeteksi pada stadium lanjut.

  • Beberapa kanker seperti pankreas, ovarium, atau hati secara biologis tumbuh tanpa tanda khas yang mudah ditemukan.

  • Strategi deteksi dini masih terus berkembang, termasuk riset screening baru untuk jenis-jenis tersebut.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Deteksi dini adalah dasar dari upaya melawan kanker sejak awal, karena umumnya jika kanker diketahui lebih cepat, peluang keberhasilan pengobatan akan jauh lebih baik. Banyak kanker yang dapat diatasi lebih efektif ketika ditemukan pada stadium awal melalui skrining atau pemeriksaan berkala.

Namun kenyataannya, tidak semua kanker mudah diidentifikasi sejak awal. Sebagian tumbuh perlahan tanpa menimbulkan gejala yang khas atau cukup ringan untuk diabaikan. Selain itu, keterbatasan teknologi skrining untuk beberapa jenis kanker membuat mereka cenderung ditemukan setelah penyakit berkembang lebih jauh.

Berikut ini jenis-jenis kanker yang sering sulit terdeteksi pada tahap awal.

1. Kanker pankreas

Kanker pankreas dikenal sebagai salah satu kanker yang paling menantang untuk dideteksi lebih awal, karena hampir tidak menimbulkan gejala pada fase awal tumbuhnya tumor. Tumor berada di organ dalam rongga perut, sehingga bahkan pemeriksaan fisik pun tidak cukup sensitif untuk menemukan massa kecil.

Bahkan penggunaan teknologi pencitraan standar seperti CT atau MRI sering kali baru menunjukkan tanda yang mencurigakan ketika tumor telah berkembang cukup besar atau telah menyebar ke struktur di sekitarnya. Bahkan ketika ada gejala, seperti penurunan berat badan, nyeri perut, atau ikterus (kulit menguning), itu sering terjadi pada stadium lanjut.

Karena alasan ini, hingga 80–85 persen kasus kanker pankreas didiagnosis ketika sudah tidak bisa dioperasi, yang sangat membatasi pilihan terapi dan menurunkan angka harapan hidup. Penelitian sedang berlangsung untuk menemukan biomarker atau tes darah seperti liquid biopsy, tetapi saat ini belum ada skrining yang direkomendasikan untuk populasi umum.

2. Kanker ovarium

ilustrasi pasien kanker (IDN Times/Novaya Siantita)

Kanker ovarium sering dijuluki “silent killer” karena berkembang di dalam rongga perut perempuan tanpa gejala yang spesifik di awal. Banyak perempuan hanya menyadari sesuatu yang salah ketika keluhan seperti distensi perut (perut membesar) berulang, kembung yang persisten, atau nyeri panggul, dan ini sering kali berarti kanker sudah dalam kondisi lanjut.

Tidak adanya skrining populasi efektif seperti yang tersedia untuk kanker serviks atau payudara membuat deteksi dini kanker ovarium sangat sulit. Bahkan, tes darah yang mengukur biomarker seperti CA-125 tidak cukup sensitif dan spesifik untuk digunakan secara luas dalam skrining umum.

Akibatnya, sebagian besar kasus kanker ovarium terdiagnosis pada stadium lanjut ketika perawatan menjadi lebih kompleks dan prognosis cenderung buruk dibanding jika terdeteksi deteksi dini. Upaya penelitian sedang diarahkan untuk mengembangkan teknologi deteksi berbasis genom atau cairan tubuh yang lebih sensitif.

3. Kanker paru-paru

Kanker paru-paru sering tidak menunjukkan gejala di tahap awal tumbuhnya tumor, terutama kanker paru non-sel kecil/non-small cell lung cancer, yang merupakan bentuk paling umum.

Gejala seperti batuk, sesak napas, atau nyeri dada biasanya hanya muncul setelah kanker berkembang lebih jauh dan mengganggu fungsi paru.

Meskipun ada skrining dengan low-dose computed tomography yang direkomendasikan untuk kelompok berisiko tinggi (misalnya perokok berat), sebagian besar populasi tidak memenuhi kriteria ini sehingga peluang deteksi dini tetap rendah. Bahkan dengan skrining, tingkat false positive dan akses yang terbatas dapat menjadi hambatan implementasi luasnya.

Karena keterlambatan diagnosis, kanker paru-paru sering kali didiagnosis ketika sudah menyebar, dan ini berkaitan dengan angka kematian yang tinggi dibanding banyak kanker lain yang lebih mudah dideteksi sejak dini.

4. Kanker hati (hepatoseluler)

ilustrasi pasien kanker hati (freepik.com/gpointstudio)

Kanker hati primer, terutama hepatoseluler, sering berkembang dari penyakit hati kronis seperti sirosis atau hepatitis B/C.

Pada tahap awal, tumor kecil di hati sering tidak menimbulkan gejala yang khas, seperti rasa tidak nyaman di perut bagian kanan atas atau kelelahan, yang bisa disalahartikan sebagai gangguan lain.

Skrining rutin untuk kanker hati biasanya hanya direkomendasikan bagi mereka dengan penyakit hati kronis tertentu, karena biaya dan efektivitasnya belum teruji untuk populasi umum. Itu berarti sebagian besar kasus tanpa riwayat penyakit hati kronis tidak terdeteksi sampai mencapai stadium lanjut.

Keterbatasan metode pencitraan dan kurangnya biomarker yang sangat sensitif juga memperumit deteksi dini kanker hati, meskipun penelitian sedang mencari tes darah yang dapat mengidentifikasi tanda tumor sebelum gejala muncul.

5. Kanker ginjal

Kanker ginjal sering menjadi tumor kecil yang berkembang di dalam jaringan ginjal, tanpa menimbulkan gejala awal yang jelas. Karena lokasi ginjal di bagian belakang tubuh, tumor kecil tidak terasa saat pemeriksaan fisik atau tidak tampak pada X-ray sederhana.

Tidak ada program skrining populasi yang disarankan untuk kanker ginjal pada orang tanpa faktor risiko tinggi. Tumor kecil sering ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan untuk masalah lain seperti urine atau kondisi punggung.

Akibatnya, banyak kasus kanker ginjal baru terdiagnosis ketika ukurannya sudah besar atau sudah memengaruhi fungsi organ, sehingga perawatan mungkin lebih kompleks dan hasilnya kurang optimal dibanding jika terdeteksi lebih awal.

6. Kanker esofagus

Salah satu pasien kanker saat menjalani perawatan di RSUD dr Iskak Tulungagung. (IDN Times/Bramanta Pamungkas)

Kanker esofagus tumbuh di bagian kerongkongan yang sulit dijangkau dan sering tidak menimbulkan gejala khas sampai tumor cukup besar untuk mengganggu menelan atau menyebabkan nyeri. Kesulitan menelan (disfagia) atau penurunan berat badan biasanya baru muncul ketika penyakit sudah lanjut.

Skrining umum untuk kanker esofagus tidak direkomendasikan secara luas karena biaya yang tinggi dan karena prevalensinya relatif rendah. Pemeriksaan endoskopi biasanya hanya dilakukan pada mereka dengan kondisi risiko tinggi seperti esofagus Barrett.

Tanpa skrining yang efektif, kanker esofagus sering tidak terdeteksi sampai stadium lanjut, yang berkaitan dengan hasil pengobatan yang lebih buruk dan tingkat kematian tinggi.

7. Kanker otak (glioblastoma dan lainnya)

Kanker otak termasuk kelompok tumor ganas seperti glioblastoma yang tidak memiliki lokasi perifer yang mudah dijangkau untuk skrining. Gejalanya bisa sangat bervariasi, dari sakit kepala, perubahan perilaku, atau gangguan fungsi saraf, yang sering kali terlihat seperti kondisi neurologis nonkanker.

Karena tidak ada tes populasi untuk skrining kanker otak, diagnosis biasanya terjadi setelah gejala neurologis berkembang dan memicu pemeriksaan pencitraan seperti MRI. Ini berarti tumor mungkin telah berkembang cukup luas sebelum ditemukan.

Selain itu, sifat biologis tumor otak yang agresif sering mempercepat perkembangannya, sehingga kesempatan deteksi dini melalui pemeriksaan pada waktu tanpa gejala sangat terbatas.

Banyak kanker yang sulit deteksi dini karena tidak menunjukkan gejala yang jelas, berada di lokasi yang tersembunyi, atau karena tidak adanya tes skrining yang efektif untuk masyarakat. Ini menyebabkan sebagian besar kasus baru diketahui ketika penyakit sudah berkembang, yang berdampak negatif pada hasil pengobatan dan harapan hidup.

Meningkatkan kesadaran tentang faktor risiko, melakukan pemeriksaan kesehatan berkala sesuai rekomendasi klinis, serta penelitian yang terus mengembangkan teknologi deteksi baru adalah kunci untuk memperbaiki deteksi dini kanker-kanker tersembunyi ini di masa depan.

Referensi

"Cancer - Screening and early detection." World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.

Shlomi Madar et al., “Innovative Approaches to Early Detection of Cancer-Transforming Screening for Breast, Lung, and Hard-to-Screen Cancers,” Cancers 17, no. 11 (June 2, 2025): 1867, https://doi.org/10.3390/cancers17111867.

Stephen P Pereira et al., “Early Detection of Pancreatic Cancer,” ˜the œLancet. Gastroenterology & Hepatology 5, no. 7 (March 2, 2020): 698–710, https://doi.org/10.1016/s2468-1253(19)30416-9.

Mitsuho Imai, Yoshiaki Nakamura, and Takayuki Yoshino, “Transforming Cancer Screening: The Potential of Multi-cancer Early Detection (MCED) Technologies,” International Journal of Clinical Oncology 30, no. 2 (January 12, 2025): 180–93, https://doi.org/10.1007/s10147-025-02694-5.

"Cancer Screenings Only Detect 14% of Cancers. Here's Why You Should Still Get Them." Verywell Health. Diakses Februari 2026.

David Crosby et al., “Early Detection of Cancer,” Science 375, no. 6586 (March 17, 2022): eaay9040, https://doi.org/10.1126/science.aay9040.

Rumiana Tenchov et al., “Biomarkers for Early Cancer Detection: A Landscape View of Recent Advancements, Spotlighting Pancreatic and Liver Cancers,” ACS Pharmacology & Translational Science 7, no. 3 (February 14, 2024): 586–613, https://doi.org/10.1021/acsptsci.3c00346.

"These 5 Cancers are Difficult to Detect." Moffitt. Diakses Februari 2026.

"Innovations to detect cancer at its origin." Nature Portfolio. Diakses Februari 2026.

Editorial Team