Carlos Alberto De Carvalho Fraga et al., “Periostin-positive Stellate Cells Associated With Perineural Invasion in Pancreatic Adenocarcinoma,” Molecular and Cellular Endocrinology 611 (October 15, 2025): 112678, https://doi.org/10.1016/j.mce.2025.112678.
Studi Ini Temukan Alasan Kenapa Kanker Pankreas Mematikan

- Kanker pankreas sangat mematikan karena mampu menyebar sejak tahap awal.
- Sel pendukung pankreas membantu tumor “membuka jalan” melalui saraf.
- Protein periostin berpotensi menjadi target terapi presisi di masa depan.
Kanker pankreas kerap datang tanpa suara. Gejalanya samar, diagnosis sering terlambat, dan angka harapan hidupnya masih menjadi salah satu yang terendah di antara kanker lainnya. Di balik agresivitasnya, para ilmuwan menduga ada mekanisme biologis yang membuat tumor ini mampu menyebar bahkan sebelum benar-benar terdeteksi.
Sebuah studi baru dari Brasil memberi gambaran lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Molecular and Cellular Endocrinology ini menunjukkan bahwa kanker pankreas tidak bekerja sendirian, yang ternyata juga “merekrut” sel-sel sehat di sekitarnya untuk membantunya menyerang jaringan saraf dan menyebar ke bagian tubuh lain.
Temuan ini tidak hanya membantu menjelaskan mengapa kanker pankreas begitu sulit diobati, tetapi juga membuka peluang baru untuk terapi yang lebih presisi dan personal di masa depan.
Kanker pankreas: jarang, tetapi sangat mematikan
Jenis kanker pankreas yang paling umum adalah adenokarsinoma pankreas, yang berkembang dari jaringan kelenjar penghasil cairan pencernaan. Sekitar 90 persen kasus kanker pankreas berasal dari tipe ini. Meski tidak termasuk kanker dengan jumlah kasus tertinggi, tetapi tingkat kematiannya hampir sebanding dengan angka kejadiannya.
Secara global, diperkirakan ada lebih dari 500 ribu kasus baru kanker pankreas setiap tahun, dengan jumlah kematian yang hampir sama. Artinya, sebagian besar pasien tidak bertahan lama setelah diagnosis. Bahkan, peluang hidup lima tahun setelah terdiagnosis hanya sekitar 10 persen.
Salah satu alasan utama keganasan ini adalah fenomena yang disebut perineural invasion, yaitu ketika sel kanker menyusup dan menyebar mengikuti jalur saraf. Proses ini bukan hanya memicu nyeri hebat, tetapi juga mempercepat penyebaran kanker ke jaringan dan organ lain. Dalam banyak kasus, invasi saraf ini sudah terjadi sejak tahap awal, tetapi baru terdeteksi saat operasi.
Saat tumor mengubah lingkungannya sendiri

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Center for Research on Inflammatory Diseases (CRID), Brasil, dengan menganalisis 24 sampel jaringan kanker pankreas menggunakan teknologi canggih yang mampu membaca aktivitas ribuan gen di tingkat sel tunggal.
Hasilnya menunjukkan bahwa jaringan pendukung di sekitar tumor (disebut stroma) berperan aktif dalam memperparah penyakit. Fokus utama tertuju pada pancreatic stellate cells, sel yang awalnya berfungsi dalam perbaikan jaringan, tetapi pada kanker justru berubah menjadi “sekutu” tumor.
Sel-sel ini memproduksi protein bernama periostin, yang mengubah struktur extracellular matrix—kerangka jaringan yang menopang sel-sel sehat. Perubahan ini membuat jaringan menjadi lebih kaku, tidak teratur, dan lebih mudah ditembus sel kanker. Saraf kemudian berfungsi seperti “jalan tol” yang memungkinkan kanker menyebar lebih cepat.
Lingkungan ini juga memicu reaksi desmoplastik, yaitu pembentukan jaringan fibrotik tebal di sekitar tumor. Dampaknya fatal: obat kemoterapi dan imunoterapi menjadi sulit menembus jaringan, sehingga efektivitas pengobatan menurun drastis.
Harapan baru dari terapi presisi
Di balik kabar buruk ini, studi tersebut juga membawa secercah harapan. Karena periostin berperan besar dalam membantu invasi kanker, protein ini dinilai sebagai target terapi yang menjanjikan. Menghambat periostin atau sel stellata yang memproduksinya berpotensi memperlambat penyebaran kanker sejak dini.
Pendekatan ini sejalan dengan arah pengobatan modern menuju precision medicine, yakni terapi yang disesuaikan dengan perubahan molekuler dan genetik spesifik, bukan sekadar jenis kankernya. Menariknya, antibodi anti-periostin saat ini sudah mulai diuji pada jenis kanker lain, membuka peluang untuk diaplikasikan juga pada kanker pankreas.
Para peneliti menekankan bahwa tantangan berikutnya adalah mengubah temuan ini menjadi strategi klinis yang dapat digunakan sebelum invasi saraf terjadi. Jika berhasil, langkah ini bukan hanya relevan untuk kanker pankreas, tetapi juga kanker lain seperti kanker usus dan payudara yang memiliki mekanisme penyebaran serupa.
Kanker pankreas mungkin masih menjadi salah satu musuh paling tangguh dalam dunia onkologi. Namun, dengan pemahaman yang makin dalam tentang cara kerjanya, harapan untuk mengubah prognosis penyakit ini perlahan mulai terbuka.
Referensi

















