Pencegahan berfokus pada membangun hubungan yang lebih sadar dengan teknologi. Membuat batasan waktu penggunaan, terutama sebelum tidur, merupakan langkah sederhana namun efektif.
Banyak ahli dan institusi kesehatan merekomendasikan digital breaks secara berkala, yang artinya memberi ruang bagi aktivitas tanpa layar, seperti bergerak, bersosialisasi langsung, atau beristirahat.
Penting juga menata ulang lingkungan digital, seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, menghapus aplikasi yang memicu doomscrolling, dan menggunakan teknologi sebagai alat, bukan pelarian emosional.
Kecanduan smartphone berkaitan dengan cara kerja otak, desain aplikasi, dan kebutuhan emosional manusia modern. Dengan memahami gejala, dampak, serta cara pencegahannya, kamu bisa membangun hubungan yang lebih sehat dengan smartphone tanpa harus sepenuhnya menjauhi teknologi yang memang sudah menjadi bagian dari hidup.
Referensi
Éilish Duke and Christian Montag, “Smartphone Addiction and Beyond: Initial Insights on an Emerging Research Topic and Its Relationship to Internet Addiction,” in Studies in Neuroscience, Psychology and Behavioral Economics, 2017, 359–72, https://doi.org/10.1007/978-3-319-46276-9_21.
Billieux, J., Maurage, P., Lopez-Fernandez, O. et al. "Can Disordered Mobile Phone Use Be Considered a Behavioral Addiction? An Update on Current Evidence and a Comprehensive Model for Future Research." Curr Addict Rep 2, 156–162 (2015). https://doi.org/10.1007/s40429-015-0054-y.
"Blue Light: What It Is and How It Affects Sleep." Sleep Foundation. Diakses Februari 2026.
"WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour." World Health Organization. Diakses Februari 2026.