Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Hantavirus Bisa Menyerang Paru-Paru atau Ginjal? Ini Alasannya
ilustrasi hantavirus menyerang paru-paru (commons.wikimedia.org/Manu5)
  • Hantavirus ditularkan dari tikus melalui partikel urine, air liur, atau kotoran yang terhirup manusia dan dapat menyebabkan dua sindrom utama: HPS di paru serta HFRS di ginjal.
  • Kerusakan organ pada infeksi hantavirus terjadi karena kebocoran pembuluh darah akibat respons imun berlebihan, bukan serangan langsung virus terhadap jaringan paru atau ginjal.
  • HPS memicu gagal napas cepat akibat cairan memenuhi alveolus paru, sedangkan HFRS menimbulkan gangguan filtrasi ginjal hingga gagal ginjal akut; pencegahan fokus pada kontrol tikus dan kebersihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di awal, infeksi hantavirus gejalanya bisa terlihat seperti banyak penyakit lain, seperti demam, pegal, sakit kepala, mual, dan lemas. Namun dalam beberapa hari, kondisi sebagian pasien dapat memburuk sangat cepat.

Ada yang mendadak sesak napas hingga paru-parunya dipenuhi cairan. Ada juga yang mengalami gangguan ginjal berat sampai produksi urine menurun drastis.

Sebenarnya hantavirus tidak secara langsung menyerang paru-paru atau ginjal. Kerusakan organ pada penyakit ini berkaitan dengan pembuluh darah dan respons imun tubuh sendiri.

Apa itu hantavirus?

ilustrasi hantavirus (commons.wikimedia.org/CDC/Cynthia Goldsmith)

Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan terutama melalui rodensia seperti tikus dan mencit. Manusia biasanya terinfeksi setelah:

  • Menghirup partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering.

  • Menyentuh permukaan terkontaminasi lalu menyentuh wajah.

  • Melalui gigitan tikus, tetapi ini lebih jarang.

Hantavirus dapat menyebabkan dua sindrom utama pada manusia, yaitu:

  • Hantavirus pulmonary syndrome (HPS)

  • Hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS)

HPS lebih banyak menyerang paru-paru dan umum ditemukan di Amerika, sedangkan HFRS lebih dominan menyerang ginjal dan lebih sering ditemukan di Asia dan Eropa.

Kenapa paru-paru dan ginjal rentan?

Jawabannya berkaitan dengan pembuluh darah kecil, sistem imun, dan cara hantavirus berinteraksi dengan sel tubuh.

Hantavirus "menyukai" sel pembuluh darah. Virus ini terutama menginfeksi sel endotel, yaitu sel yang melapisi bagian dalam pembuluh darah.

Sel endotel ada di seluruh tubuh, tetapi paru-paru dan ginjal memiliki jaringan pembuluh darah yang sangat padat dan sensitif terhadap perubahan cairan. Akibatnya, dua organ ini menjadi sangat rentan ketika pembuluh darah mulai bocor.

Menurut penelitian, hantavirus menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular atau kebocoran pembuluh darah tanpa selalu menghancurkan sel secara langsung.

Masalah utama: pembuluh darah menjadi bocor

Dalam kondisi normal, pembuluh darah menjaga cairan tetap berada di dalam sirkulasi. Pada infeksi hantavirus, respons imun tubuh dapat membuat dinding pembuluh darah menjadi terlalu permeabel.

Akibatnya:

  • Cairan keluar ke jaringan.

  • Tekanan darah turun.

  • Organ mulai kesulitan bekerja secara normal.

Fenomena inilah yang menjadi inti penyakit hantavirus berat.

Kenapa paru-paru bisa terdampak?

ilustrasi organ paru-paru (IDN Times/NRF)

Pada HPS, kebocoran pembuluh darah terjadi sangat berat di paru-paru.

Paru-paru memiliki jutaan alveolus kecil yang berfungsi menukar oksigen. Ketika pembuluh darah di paru-paru bocor, yang terjadi adalah:

  • Cairan masuk ke jaringan paru.

  • Alveolus mulai terisi cairan.

  • Pertukaran oksigen terganggu.

Akibatnya pasien bisa mengalami:

  • Sesak napas berat.

  • Napas cepat.

  • Kadar oksigen turun drastis.

  • Gagal napas.

Karena prosesnya bisa berlangsung sangat cepat, sebagian pasien tampak baik-baik saja pada awal penyakit sebelum tiba-tiba memburuk dalam hitungan jam.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), HPS memiliki tingkat kematian tinggi karena edema paru dan gangguan pernapasan akut.

Kenapa ginjal bisa menjadi target?

ilustrasi masalah pada ginjal (IDN Times/NRF)

Pada HFRS, kebocoran pembuluh darah lebih dominan terjadi di ginjal.

Ginjal menyaring darah dalam jumlah besar setiap hari. Organ ini memiliki jaringan kapiler yang sangat kompleks untuk:

  • Menyaring limbah.

  • Menjaga keseimbangan cairan.

  • Mengatur elektrolit.

  • Mengontrol tekanan darah.

Ketika pembuluh darah terganggu, bisa terjadi:

  • Penurunan filtrasi ginjal.

  • Kebocoran protein ke urine.

  • Perubahan produksi urine.

  • Cedera akut pada ginjal.

Pasien HFRS akhirnya bisa mengalami nyeri pinggang, urine menjadi sedikit, pembengkakan, tekanan darah tidak stabil, hingga gagal ginjal akut.

Kenapa jenis hantavirus berbeda bisa menyerang organ yang berbeda?

Berbagai jenis hantavirus memiliki reservoir tikus berbeda, distribusi geografis berbeda, dan kecenderungan menyerang organ tertentu.

Peneliti menduga perbedaan ini berkaitan dengan variasi genetik virus, respons imun host, dan target jaringan yang sedikit berbeda.

Respons imun tubuh juga berperan besar

Banyak kerusakan pada hantavirus bukan murni akibat virus itu sendiri, tetapi akibat respons imun yang terlalu kuat.

Tubuh melepaskan sitokin, mediator inflamasi, dan sel imun dalam jumlah besar. Jika respons ini terlalu intens, bisa terjadi:

  • Pembuluh darah makin bocor.

  • Peningkatan inflamasi.

  • Kerusakan organ bertambah berat.

Fenomena ini kadang disebut sebagai cytokine-mediated vascular leak atau kebocoran vaskular yang dimediasi sitokin.

Gejala yang perlu diwaspadai

ilustrasi pasien dirawat di rumah sakit (magnific.com/freepik)

Gejala awal hantavirus sering mirip flu biasa, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, dan lemas. Namun tanda bahaya biasanya muncul beberapa hari kemudian.

Pada HPS

  • Sesak napas.

  • Batuk.

  • Dada terasa berat.

  • Napas cepat.

Pada HFRS:

  • Nyeri pinggang.

  • Urine sedikit.

  • Pembengkakan.

  • Tekanan darah rendah.

  • Perdarahan ringan.

Kenapa infeksi hantavirus bisa sangat berbahaya?

Masalah terbesar adalah perburukan dapat terjadi cepat.

Pada HPS, pasien bisa masuk fase gagal napas dalam waktu singkat. Karena itu, diagnosis dini sangat penting.

Angka kematian HPS dapat mencapai sekitar 30–40 persen meski dengan perawatan modern.

Cara mencegah hantavirus

1. Hindari mengaduk debu kotoran tikus

Jangan langsung menyapu atau menggunakan vacuum cleaner pada area terkontaminasi karena partikel virus bisa beterbangan. Para ahli menyarankan:

  • Membuka ventilasi.

  • Menyemprot disinfektan.

  • Menggunakan sarung tangan dan masker.

  • Membersihkan secara basah.

2. Mengendalikan populasi tikus

Tutup lubang masuk, celah rumah, dan sumber makanan terbuka.

3. Gunakan alat pelindung

Terutama saat membersihkan gudang, loteng, rumah kosong, atau area dengan banyak kotoran tikus.

Banyak orang mengira penyakit infeksi hanya menyerang organ secara langsung. Hantavirus menunjukkan bahwa gangguan pada pembuluh darah saja bisa menyebabkan kerusakan besar di seluruh tubuh.

Saat pembuluh darah mulai bocor, organ-organ vital seperti paru-paru dan ginjal menjadi korban karena keduanya sangat bergantung pada sirkulasi cairan yang stabil dan presisi. Itulah sebabnya sebagian pasien mengalami gagal napas, sementara yang lain mengalami gagal ginjal.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. “About Hantavirus.” Diakses Mei 2026.

World Health Organization. “Hantavirus.” Diakses Mei 2026.

Antti Vaheri et al., “Hantavirus Infections in Europe and Their Impact on Public Health,” Reviews in Medical Virology 23, no. 1 (July 3, 2012): 35–49, https://doi.org/10.1002/rmv.1722.

Colleen B. Jonsson, Luiz Tadeu Moraes Figueiredo, and Olli Vapalahti, “A Global Perspective on Hantavirus Ecology, Epidemiology, and Disease,” Clinical Microbiology Reviews 23, no. 2 (April 1, 2010): 412–41, https://doi.org/10.1128/cmr.00062-09.

Patel, A., Patel, N. and Patel, J.K. (2024). Hantavirus Disease. In Rising Contagious Diseases (eds S.K. Amponsah, R. Shegokar and Y.V. Pathak). https://doi.org/10.1002/9781394188741.ch10

Irina N. Gavrilovskaya et al., “Hantaviruses Direct Endothelial Cell Permeability by Sensitizing Cells to the Vascular Permeability Factor VEGF, While Angiopoietin 1 and Sphingosine 1-Phosphate Inhibit Hantavirus-Directed Permeability,” Journal of Virology 82, no. 12 (March 27, 2008): 5797–5806, https://doi.org/10.1128/jvi.02397-07.

Universitas Gadjah Mada. "UGM Expert Explains Hantavirus Transmission Through Rats." Diakses Mei 2026.

Irina Gavrilovskaya and Erich Mackow, “Hantavirus Regulation of Endothelial Cell Functions,” Thrombosis and Haemostasis 102, no. 12 (January 1, 2009): 1030–41, https://doi.org/10.1160/th09-09-0640.

Vignesh Mariappan et al., “Viral Hemorrhagic Fever: Molecular Pathogenesis and Current Trends of Disease Management-an Update,” Current Research in Virological Science 2 (January 1, 2021): 100009, https://doi.org/10.1016/j.crviro.2021.100009.

Jan Clement, Piet Maes, and Marc Van Ranst, “Hemorrhagic Fever With Renal Syndrome in the New, and Hantavirus Pulmonary Syndrome in the Old World: Paradi(Se)Gm Lost or Regained?,” Virus Research 187 (January 16, 2014): 55–58, https://doi.org/10.1016/j.virusres.2013.12.036.

Editorial Team