ilustrasi nyeri dada (freepik.com/Racool_studio)
Pada individu berusia di bawah 35 tahun, henti jantung mendadak paling sering disebabkan oleh kondisi jantung bawaan, seperti sindrom Brugada, sindrom QT panjang, kardiomiopati hipertrofi, atau kardiomiopati aritmogenik. Kondisi ini menyebabkan lemak dan jaringan parut menggantikan sel-sel jantung yang sehat, sehingga terjadi gangguan kelistrikan jantung atau aritmia yang fatal. Orang dengan kondisi ini mungkin tidak menyadari bahwa mereka memiliki masalah jantung bawaan.
Sementara itu, pada orang berusia di atas 35 tahun, henti jantung mendadak terutama disebabkan oleh serangan jantung akibat penyakit arteri koroner aterosklerotik. Pada kondisi ini, pembuluh darah tersumbat, yang menyebabkan menurunnya aliran darah ke jantung dan menyebabkan aritmia fatal, yang disebut takikardi ventrikel tanpa nadi atau fibrilasi ventrikel.
Pada kasus yang jarang terjadi, seseorang dapat mengalami henti jantung setelah terkena pukulan keras di dada misalnya karena bola bisbol, hoki, atau kontak dengan pemain lain. Fenomena ini dikenal sebagai commotio cordis.