Berikut ini beberapa alasan kenapa DBD kedua bisa lebih parah:
Virus dengue bukan satu entitas tunggal. Ada empat serotipe berbeda (DENV-1 sampai DENV-4) yang secara genetik cukup mirip namun berbeda secara imunologis.
Saat kamu pertama kali terinfeksi oleh satu serotipe, tubuh membentuk antibodi spesifik yang mampu melawan serotipe itu dalam jangka panjang. Namun, antibodi ini hanya aktif dan efektif terhadap serotipe yang sama. Kalau kamu mengalami DBD lagi dan serotipe virus berbeda, antibodi lama tidak cukup kuat untuk menetralkan virus baru tersebut.
Itu artinya tubuh mengingat serotipe pertama, tetapi ketika "bertemu" dengan serotipe lain, sistem imun bisa disebut "tidak relevan". Bukannya melindungi, antibodi lama justru berinteraksi dengan virus baru dengan cara menciptakan masalah baru.
Fenomena utama yang membuat infeksi DBD kedua lebih berat disebut antibody-dependent enhancement (ADE).
Pada infeksi DBD kedua dengan serotipe yang berbeda, antibodi yang tersisa dari infeksi pertama bisa mengikat virus baru tanpa benar-benar menetralkannya. Ketika antibodi yang tidak netral ini terikat virus, mereka justru membantu virus masuk ke sel-sel imun seperti makrofag dan monosit melalui reseptor Fcγ.
Dalam kondisi normal, antibody-virus kompleks akan dihancurkan. Namun pada ADE, kompleks ini malah berfungsi sebagai “pintu masuk” yang mempercepat virus memasuki sel itu sendiri, yang mana virus kemudian bisa memperbanyak diri lebih efisien. Hasilnya, lebih banyak sel yang terinfeksi, viral load lebih tinggi, dan respons imun yang lebih agresif yang berujung pada gejala yang lebih berat.
Secara harfiah, antibodi yang seharusnya melindungi tubuh justru bertindak semacam “kartu VIP” yang memberi virus akses lebih cepat ke targetnya.
Penelitian longitudinal pada anak-anak yang sakit DBD menunjukkan bahwa viral load yang lebih tinggi berkaitan erat dengan keparahan penyakit, termasuk peningkatan risiko demam berdarah dengue/dengue hemorrhagic fever, atau kondisi syok fatal seperti dengue shock syndrome.
Ketika antibodi yang tersisa membantu virus masuk ke lebih banyak sel imun lewat mekanisme ADE, volume virus yang berkembang juga dapat melonjak lebih cepat.
Makin tinggi jumlah virus dalam darah, makin besar kemungkinan sistem kekebalan tubuh akan melepaskan sitokin pro-inflamasi secara berlebihan, memicu kebocoran pembuluh darah, trombosit turun drastis, dan gejala berat yang menjadi ciri DBD parah. Ini bisa menjelaskan mengapa banyak pasien menunjukkan gejala yang tampak jauh lebih serius pada infeksi kedua dibanding DBD pertama mereka.