- Demam tinggi, sering di atas 40 derajat Celcius.
- Nyeri hebat di belakang mata.
- Badan sangat lemas.
- Ruam menyebar ke seluruh tubuh.
- Bintik merah (petechiae) sering muncul.
- Nyeri sendi dan otot terasa berat.
Perbedaan Demam Berdarah dan Zika, Kenali agar Tidak Salah Diagnosis

- Sekilas DBD dan Zika memang mirip di awal, tetapi dampaknya berbeda jauh.
- DBD lebih berbahaya secara fisik dan cepat, sedangkan Zika berbahaya secara jangka panjang, terutama bagi janin.
- Pemeriksaan sejak awal bisa menyelamatkan nyawa dan mencegah komplikasi serius.
Di banyak negara tropis, seperti Indonesia, penyakit yang ditularkan oleh nyamuk masih jadi ancaman setiap tahunnya. Dua yang sering membuat kebingungan karena gejalanya mirip adalah demam berdarah (DBD/DB) dan infeksi virus Zika. Keduanya sama-sama disebabkan oleh virus dari keluarga Flaviviridae dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
Walaupun masih dalam satu keluarga, tetapi dampak, tingkat keparahan, dan risikonya sangat berbeda. Supaya tidak salah langkah saat mengalami gejala, yuk kenali perbedaan DBD dan Zika dari berbagai aspek.
Table of Content
1. Penyebab dan cara penularan
DBD disebabkan oleh virus dengue yang memiliki empat serotipe: DENV-1 sampai DENV-4. Virus ini dibawa oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Artinya, kamu bisa terkena dengue lebih dari sekali seumur hidup, dan infeksi berikutnya justru bisa lebih berat.
Sementara itu, Zika hanya memiliki satu jenis virus utama. Uniknya, selain lewat gigitan nyamuk, Zika juga bisa menular lewat hubungan seksual, dari ibu ke janin saat hamil, serta transfusi darah. Hal-hal inilah yang menyebabkan Zika sangat berbahaya bagi ibu hamil.
2. Pola penyebaran
DBD jauh lebih sering muncul dan jumlah kasusnya sangat besar setiap tahun, terutama saat musim hujan. Individu usia berapa pun bisa terkena penyakit ini.
Sementara itu, Zika biasanya muncul dalam wabah kecil dan sporadis. Dampaknya di masyarakat lebih ringan, tetapi risikonya tinggi untuk ibu hamil karena bisa memengaruhi perkembangan janin. Di wilayah tropis seperti Indonesia, dua virus ini bisa beredar bersamaan sehingga potensi salah diagnosis cukup tinggi.
3. Gejala klinis: sekilas mirip, tetapi sebenarnya berbeda

Pada awalnya, DBD dan Zika sama-sama bisa menyebabkan demam, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta ruam kulit. Namun, kalau diperhatikan lebih detail, ada perbedaan penting:
DBD:
Zika:
- Demam ringan, biasanya di bawah 39 derajat Celcius.
- Mata merah dan berair (konjungtivitis) sering terjadi.
- Ruam muncul dari wajah lalu menyebar.
- Nyeri sendi lebih ringan.
- Kondisi umum terasa lebih ringan dibanding DBD.
Pasien DBD biasanya baru ke dokter setelah 4–5 hari, sedangkan orang yang terinfeksi Zika cenderung datang lebih cepat karena ruam dan mata merah cukup mengganggu.
4. Hasil pemeriksaan laboratorium
Pada DBD, hasil tes darah biasanya menunjukkan:
- Trombosit turun drastis.
- Leukosit rendah.
- Enzim hati meningkat.
Hal-hal di atas menandakan keterlibatan sistem tubuh yang luas.
Pada Zika, perubahan darah biasanya ringan dan sering hampir normal.
5. Komplikasi dan tingkat bahaya
DBD lebih berbahaya secara akut. Komplikasi yang mungkin terjadi bisa berupa:
- Perdarahan.
- Syok.
- Kegagalan organ.
- Bahkan kematian jika tidak ditangani dengan benar.
Tanda bahaya biasanya muncul hari ke-3 sampai ke-7, seperti:
- Nyeri perut hebat.
- Muntah terus-menerus.
- Mimisan atau perdarahan.
Zika jarang mematikan, tetapi dampaknya sangat serius untuk:
- Sistem saraf: sindrom Guillain-Barre pada orang dewasa.
- Janin: bisa menyebabkan mikrosefali dan sindrom Zika kongenital.
6. Diagnosis dan pengobatan

Belum ada obat antivirus khusus untuk DBD maupun Zika. Perawatan bersifat suportif, seperti:
- Istirahat cukup.
- Banyak minum.
- Mengonsumsi obat penurun panas (hindari aspirin dan ibuprofen pada DBD).
Pemeriksaan laboratorium (PCR, NS1, atau antibodi) penting karena gejala saja sering tidak cukup untuk membedakan.
7. Pencegahan
Pencegahan utama untuk keduanya:
- Memberantas sarang nyamuk.
- Memakai losion antinyamuk.
- Penggunaan kelambu.
- Menjaga kebersihan lingkungan, jangan sampai ada genangan air.
Vaksin:
- DBD sudah ada vaksinnya, tetapi penggunaannya terbatas.
- Zika belum ada vaksin sampai sekarang.
- Untuk Zika, pencegahan tambahan adalah seks aman, terutama jika salah satu pasangan baru dari daerah wabah.
Sekilas DBD dan Zika memang mirip di awal, tetapi dampaknya berbeda jauh. DBD lebih berbahaya secara fisik dan cepat, sedangkan Zika berbahaya secara jangka panjang, terutama bagi janin. Pemeriksaan sejak awal bisa menyelamatkan nyawa dan mencegah komplikasi serius.
Referensi
Cleveland Clinic. Diakses pada Januari 2026. "Dengue Fever."
Cleveland Clinic. Diakses pada Januari 2026. "Zika Virus."
Difference Between. Diakses pada Januari 2026. "What is the Difference Between Zika and Dengue."
Hiolski, E. (2017). Distinguishing between Zika and dengue. C&EN Global Enterprise, 95(40), 7. https://doi.org/10.1021/cen-09540-notw3
Yan, G., Pang, L., Cook, A. R., Ho, H. J., Win, M. S., Khoo, A. L., Wong, J. G., Lee, C. K., Yan, B., Jureen, R., Ho, S. S., Lye, D. C., Tambyah, P. A., Leo, Y. S., Fisher, D., Oon, J., Bagdasarian, N., Chow, A., Smitasin, N., & Chai, L. Y. A. (2018). Distinguishing Zika and Dengue Viruses through Simple Clinical Assessment, Singapore. Emerging Infectious Diseases, 24(8), 1565–1568. https://doi.org/10.3201/eid2408.171883


















