Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Lebaran Bisa Berbahaya bagi Pasien Hipertensi?
ilustrasi silaturahmi Lebaran (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Pola makan tinggi garam dan lemak saat Lebaran memicu lonjakan tekanan darah.

  • Kurang tidur, stres, dan aktivitas fisik rendah memperburuk kondisi hipertensi.

  • Perubahan rutinitas dapat mengganggu kontrol tekanan darah yang sudah stabil.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi orang dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi, periode Lebaran bisa menjadi tantangan tersendiri. Kenapa?

Dalam beberapa hari, pola hidup berubah drastis—makanan lebih kaya rasa, jadwal tidur tidak teratur, dan aktivitas fisik cenderung menurun. Perubahan ini sering terjadi secara bersamaan, sehingga tubuh harus beradaptasi dalam waktu singkat. Pada pasien hipertensi, kondisi ini dapat memicu lonjakan tekanan darah yang tidak terkontrol.

Yang membuatnya berisiko, banyak faktor pemicunya dianggap “normal” saat Lebaran. Padahal, jika tidak diwaspadai, dampaknya bisa serius, mulai dari pusing hingga komplikasi kardiovaskular.

1. Asupan garam lebih banyak dari biasanya

Hidangan Lebaran seperti lontong balap, rawon lengkap dengan telur asin, semur daging, dan makanan olahan sering mengandung natrium tinggi. Garam (natrium) berperan langsung dalam mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh.

Konsumsi natrium berlebih berkaitan erat dengan peningkatan tekanan darah. Natrium menyebabkan tubuh menahan lebih banyak cairan, sehingga volume darah meningkat dan tekanan pada dinding pembuluh darah menjadi lebih tinggi.

Penelitian menunjukkan bahwa pengurangan asupan natrium secara signifikan dapat menurunkan tekanan darah, terutama pada pasien hipertensi.

2. Makanan tinggi lemak memperburuk kesehatan pembuluh darah

ilustrasi gulai kikil sapi santan pedas (commons.wikimedia.org/S Kartika)

Selain tinggi garam, makanan Lebaran juga kaya akan lemak jenuh. Lemak ini dapat memengaruhi elastisitas pembuluh darah dan meningkatkan kadar kolesterol.

Konsumsi lemak jenuh berlebih berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan hipertensi.

Dalam jangka pendek, makanan tinggi lemak dapat menyebabkan disfungsi endotel, yaitu lapisan dalam pembuluh darah, yang berperan penting dalam mengatur tekanan darah.

3. Frekuensi makan yang meningkat tanpa kontrol

Selama Lebaran, makan tidak hanya terjadi saat waktu utama, tetapi juga saat berkunjung ke rumah kerabat. Kalau setiap mampir kamu makan, ini akan meningkatkan total asupan kalori, garam, dan lemak tanpa disadari.

Frekuensi makan yang sering tanpa kontrol porsi dapat berdampak pada tekanan darah dan kesehatan metabolik. Kondisi ini membuat tekanan darah lebih sulit dikontrol, terutama pada pasien yang sudah memiliki hipertensi.

4. Kurangnya aktivitas fisik

ilustrasi mengobrol santai (pexels.com/Mikhail Nilov)

Saat Lebaran, biasanya lebih banyak orang yang duduk atau rebahan lama sambil mengobrol, makan, dan berpindah tempat tanpa banyak aktivitas fisik. Padahal, studi telah mengaitkan perilaku sedenter dengan peningkatan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular.

Aktivitas fisik membantu menjaga elastisitas pembuluh darah dan mengontrol tekanan darah. Ketika aktivitas menurun, efek perlindungan ini juga ikut berkurang.

5. Gangguan pada pola tidur

Perubahan jadwal tidur selama Lebaran, baik karena perjalanan, acara keluarga, atau begadang, dapat memengaruhi tekanan darah.

Kurang tidur berkaitan dengan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik yang dapat menaikkan tekanan darah.

Selain itu, kurang tidur juga meningkatkan hormon stres, yang memperburuk kondisi hipertensi.

6. Stres dan kelelahan emosional

ilustrasi kelelahan mental saat Lebaran (pexels.com/Liza Summer)

Silaturahmi tidak selalu mudah bagi semua orang. Ada tekanan sosial, perjalanan panjang, hingga kelelahan fisik yang bisa memicu stres.

Stres itu sendiri dapat meningkatkan tekanan darah melalui aktivasi hormon seperti kortisol dan adrenalin. Pada pasien hipertensi, respons ini bisa lebih signifikan.

7. Tidak teratur minum obat

Perubahan rutinitas selama Lebaran bisa membuat jadwal minum obat menjadi tidak konsisten. Padahal, kepatuhan terhadap pengobatan sangat penting dalam mengontrol tekanan darah.

Melewatkan dosis obat, bahkan dalam waktu singkat, dapat menyebabkan tekanan darah naik lagi.

Bukannya harus dihindari, pasien hipertensi harus lebih aware dengan kondisinya. Banyak kebiasaan yang tampak wajar ternyata memiliki dampak langsung terhadap tekanan darah. Mengatur porsi makan, aktif bergerak, patuh pengobatan dari dokter, dan tetap memperhatikan kondisi tubuh adalah langkah sederhana namun berdampak besar bagi pengelolaan tekanan darah saat Lebaran.

Referensi

World Health Organization. “Hypertension.” Diakses Maret 2026.

Feng J He and Graham A MacGregor, “Salt Reduction Lowers Cardiovascular Risk: Meta-analysis of Outcome Trials,” The Lancet 378, no. 9789 (July 1, 2011): 380–82, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(11)61174-4.

American Heart Association. “Saturated Fat.” Diakses Maret 2026.

Richard Patterson et al., “Sedentary Behaviour and Risk of All-cause, Cardiovascular and Cancer Mortality, and Incident Type 2 Diabetes: A Systematic Review and Dose Response Meta-analysis,” European Journal of Epidemiology 33, no. 9 (March 27, 2018): 811–29, https://doi.org/10.1007/s10654-018-0380-1.

National Sleep Foundation. “Sleep and Blood Pressure.” Diakses Maret 2026.

American Psychological Association. “Stress Effects on the Body.” Diakses Maret 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “High Blood Pressure Management.” Diakses Maret 2026.

Editorial Team