ilustrasi insulin (vecteezy.com/Srinrat Wuttichaikitcharoen)
Resistensi insulin adalah kondisi saat sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik. Akibatnya, pankreas terus memompa lebih banyak insulin untuk menurunkan gula darah. Kadar insulin yang tinggi secara terus-menerus mendorong hati untuk memproduksi lebih banyak VLDL, yaitu partikel pembawa trigliserida dalam darah. Hasilnya, lemak darah meningkat meski asupan lemak dari makanan sangat sedikit.
Kondisi ini sering tidak terdeteksi karena gula darah puasa masih terlihat normal di awal. Namun, trigliserida yang tinggi dan HDL yang rendah adalah tanda awal bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam metabolisme insulin. Resistensi insulin bisa terjadi pada siapa saja, bukan hanya pada orang dengan berat badan berlebih.
Lemak darah yang tinggi bukan selalu cerminan dari piring makan yang penuh minyak. Tubuh punya cara sendiri untuk memproduksi lemak dari berbagai sumber, mulai dari gula, stres, hingga pola tidur yang berantakan. Memahami ini penting agar langkah yang diambil benar-benar menyasar akar masalahnya, bukan sekadar menghindari hal yang terlihat berlemak dari luar.
Referensi
"Fasting and Nonfasting Lipid Levels: Influence of Normal Food Intake on Lipids, Lipoproteins, Apolipoproteins, and Cardiovascular Risk Prediction." AHA ASA Journal. Diakses pada Mei 2026.
"Is There a Correlation between Dietary and Blood Cholesterol? Evidence from Epidemiological Data and Clinical Interventions." Nutrients. Diakses pada Mei 2026.
"6 Factors That May Cause a Sudden Increase in Cholesterol." Healthline. Diakses pada Mei 2026.