Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang laki-laki mengalami long COVID.
ilustrasi long COVID (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Intinya sih...

  • Long COVID melibatkan peradangan kronis dan pembentukan bekuan darah mikro.

  • Belum ada terapi baku; penanganan masih bersifat bertahap dan individual.

  • Riset global terus mengeksplorasi obat, rehabilitasi, hingga terapi biologis baru.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Long COVID didefinisikan sebagai kumpulan gejala yang bertahan setidaknya dua bulan setelah infeksi awal SARS-CoV-2, tanpa penjelasan medis lain yang jelas. Kondisi ini kini memengaruhi sekitar 65 juta orang di seluruh dunia. Meski jumlah penderitanya terus bertambah, tetapi hingga saat ini belum ada pengobatan berbasis bukti yang disetujui secara luas.

Para peneliti meyakini bahwa long COVID tidak disebabkan oleh satu mekanisme tunggal. Sebaliknya, kondisi ini dipicu oleh serangkaian gangguan biologis yang saling tumpang tindih. Virus yang tertinggal di dalam tubuh, peradangan tingkat rendah yang berlangsung lama, hingga gangguan sistem imun diduga bekerja bersamaan, menciptakan efek domino pada berbagai organ.

Salah satu temuan penting adalah peran peradangan kronis yang ditandai dengan peningkatan penanda inflamasi seperti IL-1β, IL-6, dan TNF-α. Selain itu, interaksi antara protein spike virus dengan fibrinogen dapat memicu terbentuknya bekuan darah mikro—bekuan sangat kecil yang dapat mengganggu aliran darah dan fungsi jaringan.

Dampak multisistem dan upaya rehabilitasi

Gabungan peradangan dan bekuan mikro ini dapat merusak banyak sistem tubuh sekaligus. Dampaknya meliputi gangguan pembuluh darah, peradangan jantung, peradangan otak, nyeri saraf halus, kelelahan mirip ME/CFS (myalgic encephalomyelitis/chronic fatigue syndrome), perubahan siklus menstruasi, gangguan kontrol gula darah, hingga masalah ginjal dan hati. Itulah sebabnya long COVID sering terasa berbeda pada setiap orang.

Untuk gejala ringan pada fase awal, pendekatan nonobat masih menjadi pilihan utama. Uji klinis menunjukkan bahwa program rehabilitasi fisik dan mental berbasis kelompok—termasuk yang dilakukan secara daring—dapat meningkatkan kualitas hidup. Latihan pernapasan dan penguatan otot inspirasi juga terbukti membantu kebugaran jantung dan paru.

Pendekatan lain mencakup pengaturan ritme aktivitas harian (pacing), terapi kognitif dan wicara, latihan penciuman, serta konseling gizi. Namun, aktivitas fisik yang tidak diawasi dengan baik justru dapat memperburuk peradangan. Karena itu, program latihan harus bertahap dan disesuaikan dengan respons tubuh.

Obat, suplemen, dan harapan terapi baru

ilustrasi minum obat atau suplemen (IDN Times/Novaya Siantita)

Pengobatan antivirus yang diberikan sejak fase akut COVID-19 tampaknya dapat sedikit menurunkan risiko long COVID. Beberapa studi menunjukkan penurunan risiko sekitar 25–41 persen, tergantung jenis obat dan kelompok pasien. Namun, manfaatnya tidak seragam, dan sebagian obat menunjukkan efek terbatas.

Sejumlah terapi menargetkan gejala spesifik. Dosis rendah naltrekson dilaporkan dapat mengurangi kelelahan dan kecenderungan pembekuan trombosit. Prosedur apheresis mampu menghilangkan bekuan mikro dan autoantibodi dari darah, meski mahal dan efeknya sering kali sementara. Obat lain—mulai dari beta-blocker hingga agen imun—masih dalam tahap penelitian.

Penekanan besar kini diarahkan pada pengendalian peradangan sejak dini. Metformin, misalnya, dilaporkan menurunkan risiko long COVID hingga 41 persen bila diberikan dalam tujuh hari pertama infeksi. Suplemen berbasis tumbuhan seperti quercetin dan kurkumin, serta pendekatan yang mendukung kesehatan usus dan fungsi mitokondria, juga menunjukkan hasil awal yang menjanjikan.

Meski banyak terapi potensial bermunculan, tetapi sebagian besar bukti masih berasal dari studi kecil. Para ahli sepakat bahwa dibutuhkan uji klinis besar dan adaptif dengan biomarker yang jelas. Sambil menunggu jawaban pasti, pendekatan multidisipliner—menggabungkan antivirus dini, rehabilitasi personal, serta terapi antiinflamasi dan antikoagulan yang terarah—dinilai paling realistis untuk menghadapi kompleksitas long COVID saat ini.

Referensi

Jingya Zhao, Yingqi Lyu, and Jieming Qu, “Insights Into Potential Therapeutic Approaches for Long COVID,” Frontiers of Medicine 19, no. 5 (September 25, 2025): 879–85, https://doi.org/10.1007/s11684-025-1149-z.

"Long COVID may be fueled by inflammation and tiny clots." Science Daily. Diakses Januari 2026.

Editorial Team