Long COVID didefinisikan sebagai kumpulan gejala yang bertahan setidaknya dua bulan setelah infeksi awal SARS-CoV-2, tanpa penjelasan medis lain yang jelas. Kondisi ini kini memengaruhi sekitar 65 juta orang di seluruh dunia. Meski jumlah penderitanya terus bertambah, tetapi hingga saat ini belum ada pengobatan berbasis bukti yang disetujui secara luas.
Para peneliti meyakini bahwa long COVID tidak disebabkan oleh satu mekanisme tunggal. Sebaliknya, kondisi ini dipicu oleh serangkaian gangguan biologis yang saling tumpang tindih. Virus yang tertinggal di dalam tubuh, peradangan tingkat rendah yang berlangsung lama, hingga gangguan sistem imun diduga bekerja bersamaan, menciptakan efek domino pada berbagai organ.
Salah satu temuan penting adalah peran peradangan kronis yang ditandai dengan peningkatan penanda inflamasi seperti IL-1β, IL-6, dan TNF-α. Selain itu, interaksi antara protein spike virus dengan fibrinogen dapat memicu terbentuknya bekuan darah mikro—bekuan sangat kecil yang dapat mengganggu aliran darah dan fungsi jaringan.
