Kiran Thapaliya, Maira Inderyas, and Leighton Barnden, “Altered Brain Tissue Microstructure and Neurochemical Profiles in Long COVID and Recovered COVID-19 Individuals: A Multimodal MRI Study,” Brain Behavior & Immunity - Health 50 (November 25, 2025): 101142, https://doi.org/10.1016/j.bbih.2025.101142.
Studi: COVID-19 Bisa Mengubah Otak, Bahkan setelah Sembuh

- COVID-19 dapat menyebabkan perubahan struktur dan kimia otak, bahkan pada orang yang merasa sudah pulih sepenuhnya.
- Perubahan ini ditemukan tidak hanya pada pasien long COVID, tetapi juga pada individu tanpa gejala sisa.
- Temuan ini membantu menjelaskan keluhan kognitif seperti brain fog, sulit fokus, dan gangguan memori pasca-COVID-19.
Selama pandemi, COVID-19 dikenal sebagai penyakit pernapasan. Namun, seiring waktu dan riset yang terus berkembang, gambaran itu mulai bergeser. Bukti terbaru menunjukkan bahwa virus ini juga menyentuh sistem saraf pusat, dan dampaknya bisa bertahan lama setelah dinyatakan sembuh.
Sebuah studi terbaru dari tim peneliti Griffith University, Australia, menemukan bahwa orang yang pernah terinfeksi COVID-19 menunjukkan perubahan yang terdeteksi di otak, bahkan ketika mereka merasa sudah sepenuhnya sembuh. Penelitian ini menggunakan teknik MRI multimodal canggih untuk menilai kondisi jaringan otak secara lebih mendalam, bukan cuma melihat gambaran struktural permukaan.
Hasilnya cukup mencolok. Dibandingkan dengan kelompok yang tidak pernah terinfeksi, peserta yang punya riwayat COVID-19 menunjukkan perbedaan pada materi abu-abu dan materi putih otak, area yang berperan penting dalam memori, konsentrasi, pengolahan informasi, dan kesehatan kognitif secara keseluruhan. Perubahan ini ditemukan bukan hanya pada pasien long COVID, tetapi juga pada mereka yang menganggap diri “sudah pulih total”.
Menurut peneliti utama, Dr. Kiran Thapaliya, pendekatan MRI yang digunakan dalam studi ini memungkinkan tim melihat perubahan neurokimia, intensitas sinyal otak, hingga struktur jaringan. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa COVID-19 dapat meninggalkan “jejak biologis” di otak, tanpa selalu disertai gejala yang terasa jelas.
Temuan ini membantu menjelaskan keluhan kognitif seperti brain fog, sulit fokus, dan gangguan memori pasca-COVID-19
Temuan ini membantu menjawab pertanyaan yang selama ini sering muncul: mengapa sebagian orang mengalami gangguan memori, sulit fokus, atau merasa tidak setajam dulu setelah COVID-19, bahkan berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian. Studi ini menunjukkan bahwa perubahan di otak bisa tetap ada meski gejala klinis sudah menghilang.
Pada peserta dengan long COVID, para peneliti menemukan bahwa tingkat perubahan jaringan otak berkorelasi dengan tingkat keparahan gejala. Artinya, makin berat keluhan yang dialami, makin jelas pula perubahan yang terdeteksi lewat pencitraan otak. Namun yang penting, pola perubahan juga muncul pada kelompok yang tidak lagi melaporkan gejala apa pun, menguatkan dugaan adanya dampak jangka panjang yang sifatnya diam-diam.
Direktur NCNED, Profesor Sonya Marshall-Gradisnik, salah satu penulis studi, menekankan bahwa riset macam ini penting bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan untuk memperluas pemahaman medis. Dengan teknologi pencitraan mutakhir, para ahli kini bisa melihat bagaimana infeksi virus memengaruhi otak secara halus. Ini membuka peluang baru untuk deteksi dini, pemantauan jangka panjang, dan pengembangan strategi pemulihan neurologis.
Kesimpulannya, pemulihan dari COVID-19 tidak selalu berarti tubuh kembali ke kondisi semula. Otak, organ yang sering luput dari perhatian pascainfeksi, mungkin membutuhkan waktu, perhatian, dan riset lanjutan untuk benar-benar pulih. Temuan ini menjadi pengingat bahwa dampak COVID-19 tidak selalu keras dan dramatis, tetapi bisa hadir dalam perubahan kecil yang berlangsung lama.
Referensi


















