Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Beragam produk daging olahan.
ilustrasi beragam produk daging olahan (pixabay.com/stafichukanatoly)

Intinya sih...

  • Daging olahan dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam darah karena kandungan lemak jenuh yang tinggi.

  • Pola makan saat perayaan Imlek cenderung berubah drastis, dengan peningkatan konsumsi daging dan penurunan asupan sayur dan serat.

  • Strategi menjaga profil lipid tetap sehat termasuk membatasi porsi daging olahan, menyeimbangkan dengan sayuran tinggi serat, dan memilih metode masak rendah lemak.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perayaan Imlek identik dengan berbagai hidangan berbahan daging, mulai dari sosis, ham, hingga daging asap dan panggang. Di Indonesia, variasinya makin beragam karena berbaur dengan selera lokal.

Meski praktis dan lezat, tetapi konsumsi daging olahan saat Imlek, apalagi dalam jumlah banyak, perlu dicermati, terutama dampaknya terhadap profil lipid, yakni parameter penting yang mencerminkan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Pengaruh ke profil lipid

Daging olahan adalah daging yang diawetkan atau diproses melalui pengasinan, pengasapan, fermentasi, atau penambahan bahan kimia tertentu untuk meningkatkan rasa dan daya simpan. Contohnya meliputi sosis, ham, bacon, daging asap, hingga kornet.

Daging olahan beda dengan daging segar karena kandungan lemak jenuh, natrium, dan aditif yang lebih tinggi.

Beberapa komponen utama dalam daging olahan berperan langsung terhadap perubahan profil lipid, di antaranya:

  • Lemak jenuh. Ini dapat meningkatkan kadar low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dalam darah.

  • Kolesterol diet. Meski pengaruhnya bervariasi antarindividu, tetapi konsumsi berlebihan tetap berkontribusi pada peningkatan kolesterol total.

  • Natrium dan pengawet. Tidak berdampak langsung pada kolesterol, tetapi berkaitan dengan inflamasi dan risiko kardiovaskular yang lebih luas.

Kenapa harus diwaspadai?

ilustrasi makan-makan dalam rangka perayaan Imlek (unsplash.com/tommao wang)

Saat Imlek, pola makan cenderung berubah drastis, seperti:

  • Porsi makan lebih besar.

  • Frekuensi konsumsi daging meningkat.

  • Asupan sayur dan serat sering kali menurun.

Kondisi ini dapat mempercepat lonjakan kolesterol, terutama pada orang dengan faktor risiko seperti riwayat dislipidemia, obesitas, diabetes, atau usia di atas 40 tahun.

Para ahli merekomendasikan pembatasan lemak jenuh harian karena efek kumulatifnya terhadap kadar LDL.

Tips menjaga profil lipid tetap sehat

Kamu tidak harus menghilangkan tradisi, beberapa strategi ini bisa membantu menjaga profil lipid tetap sehat:

  • Batasi porsi daging olahan, jangan dijadikan menu utama setiap kali makan.

  • Imbangi dengan sayuran tinggi serat (sawi, brokoli, jamur, wortel).

  • Pilih metode masak rendah lemak (kukus, rebus, tumis ringan).

  • Perbanyak minum air dan tetap aktif bergerak.

  • Kembali ke pola makan seimbang setelah perayaan selesai.

Daging olahan memang menjadi bagian dari kemeriahan Imlek, tetapi konsumsi berlebihan dapat berdampak negatif pada profil lipid, terutama meningkatkan LDL dan trigliserida. Dengan porsi yang terkontrol dan kombinasi makanan berserat tinggi, perayaan tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan jantung.

Referensi

Kim, Seong-Ah, and Sangah Shin. “Red Meat and Processed Meat Consumption and the Risk of Dyslipidemia in Korean Adults: A Prospective Cohort Study Based on the Health Examinees (HEXA) Study.” Nutrition Metabolism and Cardiovascular Diseases 31, no. 6 (February 15, 2021): 1714–27.

"Saturated Fat". American Heart Association. Diakses Februari 2026.

Nouri, Mehran, Sevda Eskandarzadeh, Maede Makhtoomi, Milad Rajabzadeh-Dehkordi, Niloofar Omidbeigi, Maryam Najafi, and Shiva Faghih. “Association Between Ultra-processed Foods Intake With Lipid Profile: A Cross-sectional Study.” Scientific Reports 13, no. 1 (May 4, 2023): 7258.

Editorial Team