Menanggapi video Prince, Kevin mengatakan bahwa ia telah berbicara sendiri dengan pemilik oyster bar tersebut perihal keamanan tiram tempatnya. Kevin menjelaskan bahwa tiram dari oyster bar tersebut sudah terbukti aman dan memiliki surat keterangan asal yang sah.
Dari sisi lokal, tiram dibudidayakan di lingkungan yang terkontrol. Menanggapi perihal efek samping makan tiram, Kevin menekankan bahwa pemilik oyster bar tersebut langsung follow up dan menemukan bahwa tiram dibungkus untuk dibawa pulang dan dimakan di tempat yang sudah cukup jauh. Oleh karena itu, terjadi cross contamination atau kontaminasi silang.
Bahkan, Kevin mengatakan kalau pemilik oyster bar tersebut punya pengalaman bekerja di Dubai. Menyentil sang "sultan", Kevin mengatakan kalau tak semua tiram dijual di restoran atau hotel bintang lima.
"Mau coba silakan, nggak juga nggak apa-apa. Jadi, jangan judge dulu kalau belum tahu aslinya seperti apa," kata Kevin.
Akan tetapi, video klarifikasi yang ditonton hampir 320.000 kali ini menuai komentar pedas netizen. Membela Prince, mereka mengatakan kalau Prince tidak "menghakimi" Kevin, melainkan hanya memberikan edukasi. Selain itu, mereka menyayangkan sikap Kevin yang terlalu defensif.
Merespons reaksi Kevin, Prince langsung mengunggah konten balasan di hari yang sama. Tujuannya untuk membuktikan bahwa klarifikasi yang diberikan Kevin dan pemilik oyster bar tersebut tetap salah karena terkesan misleading.
"Saya nggak suka dengan orang yang keluar, memberikan informasi yang salah di media sosial, dan coba membodohi masyarakat terhormat," katanya.
Pertama, Prince mengatakan bahwa Dubai memproduksi tiram sejak 2016 di Dibba Bay, Fujairah, sehingga tidak selalu impor. Seluas 9 hektar di laut, lebih dari 200.000 tiram asal Dubai justru diekspor ke berbagai negara setiap bulannya.
Lalu, ia membedakan surat keterangan asal lokal dan internasional. Tak ada surat keterangan ini, pemerintah tidak dapat mengetahui asal dari produk yang terinfeksi tersebut.
Kemudian, Prince menyayangkan mesin yang diperlihatkan bukan untuk konservasi, melainkan untuk pembudidayaan, sementara yang dipermasalahkan oleh Prince adalah kurangnya hygiene di oyster bar. Lalu, kebanyakan tiram dijual oleh restoran dan hotel bintang lima karena para chef memiliki kemampuan untuk menangani tiram dengan baik.
"Saya lebih dari 5 tahun di international diplomacy... Belum pernah ada sashimi atau oyster [yang dihidangkan] karena ini adalah high contamination product. Jadi, meskipun ada alat atau chef yang berpengalaman, mereka tidak berani," ujar Prince yang sempat jadi Diplomat di PBB pada 2016–2020.