Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Manfaat Tak Terduga Matcha untuk Rinitis Alergi
ilustrasi teh matcha (unsplash.com/@zedcan77)
  • Penelitian dari Universitas Hiroshima menemukan matcha mampu menurunkan frekuensi bersin pada tikus dengan gejala mirip rinitis alergi, bahkan saat terpapar alergen secara berulang.

  • Efek matcha tidak melalui perubahan sistem imun klasik, melainkan menekan aktivitas gen c-Fos di batang otak yang mengatur refleks bersin, sehingga respons alergi jadi lebih terkendali.

  • Meski hasilnya menjanjikan, tetapi masih perlu penelitian lanjutan pada manusia untuk memastikan efektivitas serta dosis aman sebagai terapi pendukung alergi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Penelitian dari Universitas Hiroshima memberikan pandangan segar tentang potensi matcha yang melampaui manfaat kesehatannya yang sudah dikenal. Dengan menunjukkan bahwa matcha dapat menekan refleks bersin melalui mekanisme saraf, studi ini memperkaya pemahaman ilmiah tentang hubungan antara makanan dan sistem tubuh. Temuan tersebut membuka arah baru bagi pendekatan alami dalam mengelola gejala alergi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Matcha selama ini dikenal sebagai minuman yang kaya antioksidan dan sering dikaitkan dengan manfaat kesehatan jantung hingga fungsi otak. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaatnya mungkin lebih dari itu.

Sebuah studi baru dari Universitas Hiroshima, Jepang, membuka kemungkinan bahwa matcha juga dapat memengaruhi gejala alergi dengan cara yang tidak biasa. Temuan ini menambah dimensi baru dalam memahami bagaimana makanan dapat berinteraksi dengan tubuh, bahkan hingga ke sistem saraf.

1. Matcha bisa mengurangi bersin akibat alergi

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal npj Science of Food melibatkan tikus yang direkayasa untuk mengalami gejala mirip rinitis alergi atau hay fever. Tikus-tikus ini diberikan matcha secara rutin selama lebih dari lima minggu.

Hasilnya cukup menarik:

  • Tikus yang mengonsumsi matcha mengalami penurunan frekuensi bersin secara signifikan.

  • Efek ini tetap terlihat bahkan saat tikus terpapar alergen.

Para peneliti juga memberikan dosis tambahan matcha sebelum paparan alergen, dan efek perlindungannya tetap konsisten. Ini menunjukkan matcha mungkin memiliki efek akut sekaligus kumulatif terhadap gejala alergi.

Temuan ini memperkuat dugaan sebelumnya bahwa teh hijau memiliki potensi dalam meredakan alergi, meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.

2. Mekanismenya tidak seperti yang diduga

ilustrasi rinitis alergi (vecteezy.com/dao_kp20226443)

Yang membuat studi ini menarik adalah bagaimana matcha bekerja.

Biasanya, reaksi alergi melibatkan antibodi IgE, sel mast, dan sel T. Ketiga komponen ini berperan dalam pelepasan histamin yang menyebabkan gejala seperti bersin, gatal, dan hidung tersumbat. Namun dalam penelitian ini:

  • Tidak ditemukan perubahan signifikan pada IgE.

  • Aktivitas sel mast tetap relatif sama.

  • Respons imun klasik tidak banyak berubah.

Sebaliknya, matcha justru memengaruhi sistem saraf. Peneliti menemukan bahwa matcha menekan aktivitas gen c-Fos, yang merupakan penanda aktivasi neuron.

Fokusnya ada pada area otak bernama ventral spinal trigeminal nucleus caudalis, bagian dari batang otak yang mengatur refleks bersin.

Ketika tikus mengalami alergi:

  • Aktivitas c-Fos meningkat tajam.

  • Refleks bersin menjadi lebih aktif.

Namun setelah konsumsi matcha:

  • Aktivitas c-Fos turun mendekati normal.

  • Refleks bersin menjadi lebih terkendali.

Dengan kata lain, matcha tidak menghentikan alergi, tetapi mengurangi respons tubuh terhadap alergi, khususnya refleks bersin.

3. Berpotensi, tetapi masih perlu bukti pada manusia

Meskipun hasilnya menjanjikan, tetapi studi ini masih terbatas pada hewan. Dikatakan oleh tim peneliti, langkah selanjutnya adalah menguji apakah efek yang sama juga terjadi pada manusia.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dosis pada tikus tidak selalu setara pada manusia. Selanjutnya, respons sistem saraf manusia lebih kompleks. Terakhir, faktor gaya hidup dan lingkungan juga memengaruhi alergi.

Akan tetapi, temuan ini membuka peluang baru mengenai pendekatan berbasis makanan (food-based intervention) sebagai pelengkap terapi alergi.

Selama ini, penanganan rinitis alergi lebih banyak berfokus pada antihistamin, kortikosteroid, dan menghindari alergen. Jika terbukti pada manusia, matcha bisa menjadi tambahan strategi nonfarmakologis yang lebih alami.

Referensi

Sawako Ogata et al., “Matcha Alleviates Sneezing Response in a Murine Model of Allergic Rhinitis,” Npj Science of Food, March 5, 2026, https://doi.org/10.1038/s41538-026-00777-9.

"Could a hot cup of matcha dial down the ‘sneeze switch’ in allergic rhinitis?" Hiroshima University. Diakses Maret 2026.

Editorial Team