Untuk mengetahui apakah gangguan tulang berkaitan dengan penyakit ginjal, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan.
Tes darah digunakan untuk melihat kadar hormon paratiroid, kalsium, fosfat, serta vitamin D.
Pada beberapa kasus, dokter juga dapat menggunakan pemeriksaan pencitraan atau biopsi tulang untuk melihat kondisi tulang secara lebih detail.
Penanganan biasanya berfokus pada memperbaiki keseimbangan mineral dalam tubuh. Beberapa terapi yang digunakan antara lain obat pengikat fosfat, analog vitamin D, serta obat yang membantu mengontrol kadar hormon paratiroid.
Selain pengobatan, perubahan gaya hidup juga penting. Pola makan yang seimbang, olahraga ringan secara rutin, serta upaya mencegah jatuh dapat membantu mengurangi risiko patah tulang. Pada beberapa pasien, transplantasi ginjal dapat memperbaiki gangguan metabolisme mineral yang terjadi.
Gangguan tulang akibat penyakit ginjal sering berkembang secara perlahan. Karena itu, deteksi dan penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Pemantauan kesehatan biasanya mulai dianjurkan pada tahap awal penyakit ginjal kronis. Dengan pengelolaan yang tepat, risiko patah tulang dan komplikasi lain dapat ditekan, sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga.
Referensi
Cleveland Clinic. Diakses pada Maret 2026. "Renal Osteodystrophy."
Felix Hospital. Diakses pada Maret 2026. "Renal Osteodystrophy: How Kidney Disease Affects Your Bone."
National Institues of Health. Diakses pada Maret 2026. "Mineral & Bone Disorder in Chronic Kidney Disease."
Salera, D., Merkel, N., Bellasi, A., & De Borst, M. H. (2025). "Pathophysiology of chronic kidney disease–mineral bone disorder (CKD-MBD): from adaptive to maladaptive mineral homeostasis." Clinical Kidney Journal, 18(Supplement_1), i3–i14. https://doi.org/10.1093/ckj/sfae431