Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Minum Air Dingin vs Air Biasa saat Haji, Mana yang Lebih Aman?
ilustrasi air dingin (freepik.com/freepik)
  • Pedoman kesehatan haji menekankan pentingnya menjaga hidrasi untuk mencegah dehidrasi dan heatstroke, tanpa melarang konsumsi air dingin selama jemaah cukup minum cairan.

  • Air dingin umumnya aman bagi orang sehat, meski bisa memengaruhi fungsi paru sementara atau memperlambat aliran lendir pada individu dengan tenggorokan sensitif.

  • Tidak ada bukti kuat bahwa air dingin menyebabkan pilek; pilihan terbaik adalah suhu air yang paling nyaman agar jemaah tetap terhidrasi di cuaca panas ekstrem.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cuaca ekstrem dan kepadatan aktivitas membuat jemaah haji sangat rentan mengalami dehidrasi hingga heat exhaustion (kondisi akibat paparan panas berlebih di mana tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit).

Di tengah suhu panas Arab Saudi, banyak jemaah memilih minum air dingin untuk menyegarkan tubuh. Namun, tidak sedikit pula yang khawatir air dingin bisa memicu batuk, radang tenggorokan, atau membuat tubuh "kaget". Sebenarnya mana yang lebih aman saat haji, air dingin atau air suhu biasa?

Suhu air bukan masalah

Pedoman kesehatan haji tidak secara khusus melarang konsumsi air dingin. Fokus utamanya adalah memastikan jemaah haji minum cukup cairan agar terhindar dari dehidrasi dan heatstroke.

Dalam kondisi cuaca panas ekstrem, kekurangan cairan menjadi risiko yang jauh lebih serius dibanding suhu air yang diminum.

Jemaah dianjurkan rutin minum air dan cairan untuk menjaga keseimbangan tubuh, terutama saat beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama. Jemaah, khususnya lansia dan mereka yang memiliki penyakit kronis, juga harus selalu menjaga hidrasi dan menghindari paparan panas berlebihan.

Efek air dingin ke tubuh

ilustrasi jemaah haji (pexels.com/Mido Makasardi)

Secara ilmiah, air dingin sebenarnya tidak berbahaya bagi orang sehat. Namun, beberapa penelitian menunjukkan suhu air tertentu bisa memberi efek sementara pada tubuh.

Studi menemukan konsumsi air dingin dalam jumlah besar dapat menyebabkan penurunan sementara pada beberapa parameter fungsi paru. Sedangkan, air suhu ruang tidak menunjukkan efek yang sama.

Penelitian lain mengenai saluran pernapasan menemukan air hangat dapat membantu mempercepat aliran lendir di hidung, sedangkan air dingin justru memperlambatnya.

Karena itu, orang yang tenggorokannya sensitif, mudah batuk, atau sedang mengalami gangguan pernapasan mungkin merasa lebih nyaman dengan air suhu ruang atau tidak terlalu dingin.

Air dingin bikin pilek?

Keyakinan bahwa air dingin bisa menyebabkan pilek atau sakit tenggorokan belum memiliki bukti ilmiah kuat sebagai hubungan sebab-akibat. Dalam banyak kasus, keluhan muncul karena sensitivitas individu, kondisi tubuh yang sedang lelah, atau perubahan suhu ekstrem secara mendadak.

Dalam konteks ibadah haji, pilihan terbaik sebenarnya adalah suhu air yang paling nyaman dan mudah ditoleransi tubuh. Jika air dingin membuat tenggorokan terasa tidak nyaman, jemaah bisa memilih air suhu ruang. Sebaliknya, jika air dingin membantu tubuh terasa lebih segar dan membuat jemaah lebih banyak minum, itu juga dapat membantu menjaga hidrasi.

Yang terpenting, jangan menunggu haus untuk minum. Tubuh yang sudah merasa haus sering kali menandakan awal dehidrasi. Juga, dianjurkan untuk membatasi aktivitas di bawah terik matahari langsung, menggunakan pelindung kepala dan segera beristirahat jika muncul tanda heat exhaustion seperti pusing, lemas, atau keringat berlebihan.

Pada akhirnya, persoalan utama saat haji bukanlah air dingin atau air biasa, melainkan bagaimana menjaga tubuh tetap terhidrasi di tengah suhu panas ekstrem. Air suhu ruang mungkin lebih nyaman bagi sebagian orang, tetapi air dingin pun umumnya aman bagi kebanyakan jemaah sehat selama dikonsumsi secukupnya dan tidak menimbulkan keluhan pada tubuh.

Referensi

Turner, Louise A., and Nicholas B. Tiller. “Lung Function Responses to Cold Water Ingestion: A Randomised Controlled Crossover Trial.” Respiratory Physiology & Neurobiology 318 (September 12, 2023): 104161.

Alnaim, Abdulrahman Ahmad, Hussain Adil AlGhadeer, Khalid Al Noaim, Muneera Alabdulqader, Zainab Al Alawi, Ghadeer Ali Alaliwat, Mohammed F Lardhi, et al. “Parental Practice and Attitude toward Cold Beverages and Common Cold among Children.” Sapporo Medical Journal. Vol. 57, January 2023.

LaFata, Danielle, Amanda Carlson-Phillips, Stacy T Sims, and Elizabeth M Russell. “The Effect of a Cold Beverage during an Exercise Session Combining Both Strength and Energy Systems Development Training on Core Temperature and Markers of Performance.” Journal of the International Society of Sports Nutrition 9, no. 1 (February 6, 2012): 44.

Khamnei, Saeed, Abdollah Hosseinlou, and Masumeh Zamanlu. “Water Temperature, Voluntary Drinking and Fluid Balance in Dehydrated Taekwondo Athletes.” PubMed 10, no. 4 (January 1, 2011): 718–24. Khlifi, Mariem, Nidhal Jebabli, Nejmeddine Ouerghi, Fatma Hilal Yagin, Ashit Kumar Dutta, Reem Alwhaibi, and Anissa Bouassida. “Pre-Exercise Ingestion of Hydrogen-Rich Cold Water Enhances Endurance Performance and Lactate Response in Heat.” Medicina 61, no. 7 (June 28, 2025): 1173.

Editorial Team