ilustrasi microsleep (vecteezy.com/Srinrat Wuttichaikitcharoen)
Duduk terlalu lama saat mudik membuat tubuh minim aktivitas, sehingga aliran darah melambat dan rasa kantuk cepat datang. Musik keras tidak mengubah kondisi fisik ini karena tubuh tetap berada dalam posisi yang sama. Tanpa gerakan, sinyal lelah akan terus meningkat.
Berbeda dengan berhenti sejenak untuk berjalan atau peregangan, suara keras tidak memberi efek pada tubuh secara langsung. Akibatnya, rasa kantuk menumpuk dan memicu microsleep secara tiba-tiba. Inilah alasan mengapa istirahat tetap jauh lebih efektif dibandingkan sekadar menaikkan volume musik.
Microsleep tidak bisa dicegah hanya dengan mengandalkan musik keras, karena penyebab utamanya berasal dari kelelahan tubuh dan otak yang membutuhkan istirahat nyata. Mengatur waktu tidur, berhenti sejenak, serta menjaga kondisi fisik jauh lebih efektif untuk mencegah risiko di perjalanan. Jika tanda kantuk mulai muncul, jangan putar musik keras. Hal ini dikarenakan musik keras tak mampu cegah microsleep saat mudik. Keputusan terbaik adalah memberi waktu bagi tubuh untuk istirahat hingga pulih. Jadi, masih yakin musik keras cukup untuk melawan microsleep saat mudik?
Referensi:
"What You Should Know About Microsleep" Cleveland Clinic. Diakses pada Maret 2026
"Microsleep While Driving: Why It’s Dangerous?" Wuling. Diakses pada Maret 2026
"What You Need to Know About the Dangers of Microsleep" Healthline. Diakses pada Maret 2026
"What Happens When You’re Awake, but Your Brain Goes to Sleep?" Better Sleep. Diakses pada Maret 2026
"Music can affect your driving – but not always how you’d expect" The University of Melbourne. Diakses pada Maret 2026
"Effect of Music Tempo on Long-Distance Driving: Which Tempo Is the Most Effective at Reducing Fatigue?" iPERCEPTION. Diakses pada Maret 2026