Comscore Tracker

Menghentikan Mimisan Bukan dengan Mendongakkan Kepala

Menurut dokter, ini bukan cara yang tepat

Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba anak mimisan? Orang tua mungkin langsung panik dan melakukan segala cara untuk menghentikannya, termasuk mendongakkan kepala ke atas. Apakah itu cara yang tepat?

Daripada berandai-andai, ketahui penjelasan dari dr. Andreas, M.Ked(Ped), SpA, dokter spesialis anak, dalam program Thursday Parenting Class yang disiarkan secara live di Instagram @childlife.id pada Kamis (14/7/2022). Tema yang diangkat adalah "Anak Sering Mimisan? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya". Here we go!

1. Apa itu mimisan?

Dokter Andreas menjelaskan bahwa mimisan atau epistaksis merupakan pecahnya pembuluh darah kecil di hidung. Ini adalah kondisi yang umum, diperkirakan sekitar 60 persen orang pernah mengalami mimisan setidaknya sekali seumur hidup.

"Memang di daerah tersebut sangat mudah pecah karena dindingnya lebih tipis daripada pembuluh darah yang lain. Apalagi, letaknya sangat dekat dengan permukaan kulit," tuturnya.

2. Terdapat dua jenis mimisan, yaitu anterior dan posterior

Sebenarnya, mimisan dibagi menjadi dua jenis, yaitu anterior (pembuluh darah depan) dan posterior (pembuluh darah belakang). Apa perbedaan di antara keduanya?

"Tipe anterior biasanya normal dan lebih mudah diatasi daripada posterior. Kalau yang posterior, karena itu pembuluh darah besar, jadi wajib ke dokter spesialis THT untuk mendapatkan tindakan khusus," ujar dokter yang berpraktik di Bekasi ini.

3. Pemicu mimisan ada banyak, salah satunya adalah udara kering

Menghentikan Mimisan Bukan dengan Mendongakkan Kepalailustrasi pendingin udara (pixabay.com/WebTechExperts)

Menurut dr. Andreas, pemicu mimisan yang paling umum adalah udara kering karena penggunaan pendingin udara atau air conditioner (AC). Pendingin udara bisa mengurangi kelembapan antara 40-60 persen.

"Zaman sekarang semuanya pakai AC. Akibatnya, udara menjadi terlalu kering. Walau pakai AC, tetapi (kelembapannya) perlu dikendalikan dengan pelembap ruangan," ia memberi saran.

Pemicu lainnya adalah kebiasaan mengorek-orek hidung atau mengupil terlalu dalam, memiliki riwayat alergi, trauma (misalnya hidung terantuk benda keras), efek samping pemberian obat tertentu (seperti ibuprofen), hingga menderita gangguan pembekuan darah.

Baca Juga: 7 Cara Tingkatkan Kadar Hemoglobin dalam Darah, Jangan Sampai Pingsan

4. Seperti apa cara yang tepat untuk menghentikan mimisan?

Berdasarkan informasi yang beredar di masyarakat, cara "ampuh" untuk menghentikan mimisan adalah mendongakkan kepala ke atas. Menurut dr. Andreas, ini salah kaprah.

"Harusnya posisikan kepala menunduk ke bawah. Tujuannya supaya darah tidak tertelan karena akan berbahaya," ungkapnya.

Langkah yang tepat adalah menyumbat lubang hidung dengan tampon kapas atau tisu yang bersih, lalu biarkan selama 10 menit. Normalnya, darah akan berhenti sendiri.

Tidak usah repot-repot mencari daun sirih. Apalagi, kita tidak tahu apakah daun sirih tersebut kotor atau tidak. Daripada ending-nya infeksi, lebih baik gunakan alat-alat yang steril dan sudah dipastikan kebersihannya.

5. Kapan mimisan disebut darurat dan harus segera mendapat tindakan medis?

Menghentikan Mimisan Bukan dengan Mendongakkan Kepalailustrasi ruang gawat darurat (pixabay.com/ElasticComputeFarm)

Terakhir, dr. Andreas menjelaskan kapan mimisan disebut darurat dan harus segera dibawa ke dokter, yaitu ketika:

  • Terjadi pada anak yang usianya di bawah 2 tahun.
  • Durasi mimisan terlalu lama. Darah masih mengalir lebih dari 20 menit adalah red flag.
  • Anak tiba-tiba kesulitan bernapas. Ini karena terlalu banyak darah yang keluar dan bisa mengarah ke anemia.
  • Terlalu sering mimisan. Dicurigai adalah pertanda gangguan pembekuan darah yang mungkin diturunkan dari orang tua.

Baca Juga: 7 Gejala Hemofilia atau Gangguan Pembekuan Darah, Waspadai ya!

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya