Comscore Tracker

Sulit Hamil? Mungkin PCOS Penyebabnya!

PCOS terjadi pada 10-15 persen perempuan

Sebagian perempuan lebih sulit hamil dibanding yang lain. Salah satu penyebabnya adalah gangguan hormonal dan ovulasi seperti sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS).

Sindrom ini menyebabkan perempuan sulit berovulasi karena sel telurnya berukuran kecil dan membuat siklus haid tidak teratur. Namun, jangan khawatir, karena pengidap PCOS masih bisa hamil meski memang perlu penanganan khusus.

Atas dasar itu, RS Pondok Indah Group mengadakan diskusi medis bertajuk "PCO Sindroma & Infertilitas" pada Kamis (27/5/2021). Bersama dr. Gita Pratama, Sp.OG-KFER, M.RepSc, dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang berpraktik di RS Pondok Indah IVF Centre, kenali topik ini lebih dalam, yuk!

1. Menstruasi tidak teratur adalah tanda tidak terjadi ovulasi

Sulit Hamil? Mungkin PCOS Penyebabnya!ilustrasi menstruasi (pexels.com/Sora Shimazaki)

Apakah siklus haidmu tepat waktu atau justru sering terlambat? Kata dr. Gita, siklus haid yang teratur adalah cerminan ovulasi yang teratur.

Normalnya, siklus haid berkisar antara 21-35 hari sekali. Dari mana kita tahu sedang terjadi ovulasi? Tanda-tandanya ialah payudara kencang, libido meningkat, kembung, perut bawah agak nyeri, hingga keluar lendir dengan tekstur seperti putih telur dari vagina.

"Masa subur bisa diketahui dari siklus haid. Misal, siklus haid 28 hari sekali, maka 28 dikurangi 14, itu adalah hari ovulasinya," terang dr. Gita.

2. Biasanya, pasien PCOS haidnya tidak teratur dan indung telurnya tidak normal

Sulit Hamil? Mungkin PCOS Penyebabnya!ilustrasi siklus menstruasi (freepik.com/user18526052)

Pasien PCOS sering kali mengalami keterlambatan haid, mulai dari seminggu hingga berbulan-bulan. Untuk mengatasinya, dokter akan memberi obat pemancing haid.

Setelah diberi obat tersebut, akan keluar flek hingga pendarahan, bahkan bisa disertai dengan bekuan atau gumpalan darah (blood clot), dr. Gita menjelaskan.

Selain itu, saat dilakukan ultrasonografi (USG), terlihat indung telur yang tidak normal. Sel telur yang dihasilkan berukuran kecil, banyak, dan tidak membesar saat masa subur.

"Gangguan pembesaran ukuran telur di dalam indung telur akan menghalangi fertilisasi. Akibatnya, tidak terjadi kehamilan," ujar dr. Gita.

Dampak jangka panjang pasien PCOS yang tidak haid lebih dari 2-3 bulan akan mengalami risiko penebalan dinding rahim. Selain itu, kanker endometrium mungkin akan terjadi di kemudian hari.

Baca Juga: Waspadai 5 Tanda Ovulasi Gagal, Perempuan Wajib Tahu!

3. Apa langkah yang tepat untuk menangani PCOS?

Sulit Hamil? Mungkin PCOS Penyebabnya!ilustrasi lari (unsplash.com/Andrew Tanglao)

Setidaknya, ada empat penanganan utama PCOS, yaitu modifikasi gaya hidup, terapi obat penyubur pada pasien yang ingin hamil, terapi obat untuk mengatur haid pada pasien yang belum berencana hamil, serta terapi obat untuk memperbaiki resistansi insulin.

Timbunan lemak viseral (lemak berlebihan di rongga perut) bisa meningkatkan risiko terjadinya sindrom metabolik dan resistansi insulin. Inilah kenapa pengidap PCOS harus mengubah pola makan menjadi lebih sehat dan rutin berolahraga.

"Penting untuk menjaga berat badan di BMI (body mass index) normal dan lingkar pinggang kurang dari 80 cm. Kalau di atas 80 cm, ada risiko obesitas," ungkap dr. Gita mewanti-wanti.

Pilih karbohidrat dengan indeks glikemik rendah, seperti nasi merah dan roti gandum. Perbanyak serat minimal 25-30 gram per hari serta lemak sehat yang mengandung omega-3 dari ikan laut atau alpukat. Tak lupa, melakukan olahraga intensitas sedang minimal 250 menit per minggu.

Dari segi obat-obatan, yang diberikan adalah metformin sekitar 500-2.000 mg per hari. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan sel tubuh mengambil insulin dan membuat haid jadi teratur, jelas dr. Gita.

Obat untuk memicu terjadinya ovulasi juga diberikan, seperti clomiphene citrate, letrozole, hingga obat suntik hormon FSH (gonadotropin). Apabila masih belum berhasil, program in vitro fertilization (bayi tabung) sangat disarankan.

Bagaimana jika memiliki gangguan haid, sering terjadi pendarahan, dan gumpalan darah? Dokter akan menyarankan obat hormonal seperti pil KB untuk membuat haid jadi reguler.

"Pil KB bisa mengurangi risiko penebalan dinding rahim, mengurangi kelebihan hormon androgen, hingga mengurangi jerawat. Tetapi, obat hormonal tidak boleh diberikan pada pasien tertentu, seperti pasien hipertensi," tutupnya.

Baca Juga: Hamil di Masa Pandemik? Ini yang Harus Diketahui Calon Mama!

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya