ilustrasi steroid anabolik injeksi (commons.wikimedia.org/Wikidudeman)
Hubungan antara penggunaan steroid dan kanker payudara pada laki-laki bersifat kompleks. Sejumlah studi menunjukkan, meskipun steroid anabolik tidak secara langsung menyebabkan kanker payudara, tetapi penggunaannya bisa memicu ketidakseimbangan hormon dalam tubuh.
Ketika kadar testosteron dan estrogen terganggu, ini bisa menyebabkan kondisi yang disebut ginekomastia, yaitu pembesaran jaringan payudara pada laki-laki. Kondisi ini umumnya menjadi tanda awal adanya perubahan hormon yang tidak normal. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan risiko kanker pada jaringan payudara. Risiko ini juga cenderung lebih tinggi pada laki-laki berusia di atas 40 tahun.
"Kalau pasien yang saya tangani sekarang, saat ini masih dalam pengobatan, masih kemoterapi. Usianya masih sekitar 40–50 tahun," kata dr. Feyona.
Walaupun begitu, ia mengingatkan bahwa penyebab kanker payudara, baik pada laki-laki maupun perempuan, bersifat multifaktor, tidak ada penyebab tunggal.
Lagi-lagi, penyebab kanker payudara ini kompleks. Tidak bisa dikotak-kotakkan penyebabnya. Bisa jadi pasien punya faktor risiko lain, seperti gaya hidup, merokok, atau bahkan genetik," ia menambahkan.