Yasuaki Mohri et al., “Antagonistic Stem Cell Fates under Stress Govern Decisions between Hair Greying and Melanoma,” Nature Cell Biology 27 (2025): 1647–1659, https://doi.org/10.1038/s41556-025-01769-9.
Ken Inomata et al., “Genotoxic Stress Abrogates Renewal of Melanocyte Stem Cells by Triggering Their Differentiation,” Cell 137, no. 6 (2009): 1088–1099, https://doi.org/10.1016/j.cell.2009.03.037.
Büşra Şensoy Gün, “Hair Graying as an Evolutionary Checkpoint against Malignancy: A Stem Cell Perspective,” Stem Cell Reviews and Reports 22 (2026): 1499–1501, https://doi.org/10.1007/s12015-026-11056-1.
Institute of Medical Science, The University of Tokyo, “Graying Hair May Reflect a Natural Defense Against Cancer Risk, New Study Finds,” diakses Agustus 2026.
Uban Bisa Jadi Mekanisme Tubuh Menghindari Kanker?

Studi pada tikus menemukan sel induk pembentuk pigmen rambut yang mengalami kerusakan DNA dapat berhenti memperbarui diri dan menghilang, sehingga rambut memutih.
Proses tersebut sekaligus dapat mencegah sel rusak bertahan dan berkembang menjadi melanoma.
Temuan ini tidak berarti orang yang memiliki banyak uban otomatis memiliki risiko kanker lebih rendah.
Uban biasanya dianggap sebagai tanda penuaan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan proses di balik rambut yang memutih mungkin memiliki fungsi biologis lain yang tidak terduga, yaitu membuang sel rusak yang berpotensi berkembang menjadi kanker.
Studi dalam jurnal Nature Cell Biology pada 2025 menemukan bahwa sel induk pembentuk pigmen rambut dapat mengambil dua jalan berbeda setelah mengalami kerusakan DNA.
Pada satu jalur, sel tersebut berhenti mempertahankan sifat sebagai sel induk dan akhirnya menghilang—rambut pun kehilangan warna. Pada jalur lain, sel rusak tetap bertahan dan berkembang biak, kondisi yang dapat mengarah pada melanoma.
Table of Content
1. Warna rambut berasal dari sel induk melanosit
Warna rambut bergantung pada melanosit, yaitu sel yang menghasilkan pigmen melanin. Melanosit baru berasal dari melanocyte stem cells (McSCs) yang tinggal di bagian tertentu folikel rambut.
Selama siklus pertumbuhan rambut, McSCs menghasilkan melanosit yang memberikan warna pada rambut baru. Ketika persediaan sel induk tersebut berkurang atau tidak lagi berfungsi dengan baik, rambut baru kehilangan pigmennya dan terlihat abu-abu atau putih.
Hubungan antara kerusakan DNA dan hilangnya McSCs sudah lama diketahui. Penelitian pada 2009 menemukan bahwa kerusakan DNA yang tidak dapat diperbaiki dapat mendorong sel induk melanosit pada tikus untuk berdiferensiasi terlalu dini. Akibatnya, persediaan sel induk berkurang dan rambut menjadi putih secara permanen.
Penelitian 2025 kemudian mengungkap bahwa hilangnya sel induk itu mungkin sekaligus menjadi mekanisme perlindungan terhadap kanker.
2. Sel rusak dipaksa berhenti berkembang
Dalam penelitian terbaru, tim dari Universitas Tokyo mengikuti nasib McSCs pada tikus setelah sel mengalami berbagai jenis kerusakan DNA.
Ketika terjadi patahan pada kedua untai DNA atau DNA double-strand breaks, McSCs memasuki proses yang disebut senescence-coupled differentiation atau seno-differentiation.
Sederhananya, sel yang rusak tersebut dipaksa berhenti mempertahankan kemampuan sebagai sel induk. Sel berdiferensiasi, kemudian hilang dari “gudang” sel induk folikel rambut. Persediaan sel pembentuk pigmen akhirnya menurun dan rambut menjadi putih.
Proses ini melibatkan jalur p53–p21, sistem penting yang membantu sel merespons kerusakan DNA.
Dari sisi penampilan, hasilnya memang uban. Namun, dari sisi keamanan sel, menghilangkan sel yang telah mengalami kerusakan DNA dapat membawa keuntungan, bahwa sel tersebut tidak mendapat kesempatan terus membelah dan menumpuk mutasi tambahan.
3. Ketika mekanisme perlindungan ini tidak berjalan, hasilnya bisa berbeda

ilustrasi uban, rambut beruban (vecteezy.com/Geiza Macedo Silva) Peneliti kemudian memberikan jenis stres yang berbeda, termasuk paparan zat karsinogenik DMBA dan sinar ultraviolet B (UVB).
Hasilnya, McSCs yang mengalami kerusakan DNA tidak menjalani proses seno-differentiation seperti sebelumnya. Sinyal dari lingkungan sekitar sel, termasuk aktivasi metabolisme asam arakidonat dan KIT ligand, membantu sel mempertahankan kemampuan memperbarui diri dan berkembang biak.
Sebagian sel kemudian berkembang menjadi lesi melanositik dan mengarah ke pembentukan melanoma pada model tikus.
Dengan kata lain, penelitian tersebut menggambarkan dua kemungkinan, bahwa kerusakan DNA dapat membuat sel induk dihabiskan sehingga rambut beruban, atau sel yang rusak tetap mempertahankan kemampuan memperbarui diri dan berkembang biak sehingga risiko pembentukan melanoma meningkat.
Karena itu, peneliti menyebut rambut beruban dan melanoma sebagai dua hasil yang berlawanan dari cara sel induk merespons stres.
4. Jadi, makin banyak uban berarti makin terlindungi dari kanker?
Peneliti Universitas Tokyo secara khusus menegaskan bahwa penelitian tersebut tidak menunjukkan bahwa rambut beruban mencegah kanker. Yang terlihat adalah bahwa salah satu proses seluler yang dapat menyebabkan uban juga mempunyai fungsi protektif dengan menghilangkan sel induk yang berpotensi berbahaya.
Studi utamanya menggunakan model tikus dan eksperimen seluler. Penelitian ini tidak mengikuti manusia beruban untuk melihat apakah mereka lebih jarang mengalami melanoma atau jenis kanker lain.
Selain itu, penelitian secara spesifik membahas melanoma, yaitu kanker yang berasal dari sel pembentuk pigmen. Hasilnya tidak dapat menjadi klaim bahwa uban melindungi tubuh dari kanker payudara, kanker paru, kanker usus, atau kanker lainnya.
Uban sendiri juga dapat muncul karena berbagai proses penuaan pada sel pembentuk pigmen. Faktor genetik dan stres biologis pada folikel rambut ikut memengaruhi kapan rambut mulai kehilangan warna.
5. Uban mungkin mencerminkan keseimbangan antara penuaan dan perlindungan dari kanker
Temuan ini menunjukkan bahwa uban mungkin merupakan konsekuensi dari mekanisme tubuh untuk membuang sel induk yang DNA-nya rusak. Rambut kehilangan pigmen, tetapi sel yang berpotensi berbahaya tidak dibiarkan terus berkembang.
Namun, uban bukan obat atau tanda bahwa seseorang terlindungi dari kanker. Studi ini hanya menunjukkan bahwa sebagian proses penuaan mungkin membantu membatasi kelangsungan hidup sel yang rusak.
Referensi






















