Comscore Tracker

Herniasi Otak: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Penanganan

Herniasi otak merupakan keadaan darurat medis

Herniasi otak, kadang disebut herniasi serebral, terjadi saat jaringan otak, darah, dan cairan serebrospinal bergeser dari posisi normalnya di dalam tengkorak. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh pembengkakan akibat cedera kepala, stroke, pendarahan, atau tumor otak.

Herniasi otak merupakan keadaan darurat medis dan membutuhkan perhatian medis segera. Seringkali berakibat fatal jika tidak segera diobati.

1. Jenis

Seperti diterangkan dalam laman National Library of Medicine, ada lima jenis herniasi otak, tergantung pada bagian otak yang terkena:

  • Herniasi subfalcine: Cingulate gyrus, bagian otak yang berbentuk lengkung, menekan falx cerebri, bagian berbentuk bulan sabit di antara sisi kiri dan kanan otak. Ini adalah jenis herniasi otak yang paling umum.
  • Herniasi transtentorial atau uncal: Massa dapat menekan lobus temporal medial di bawah dan melintasi membran yang disebut tentorium.
  • Herniasi sentral: Kedua lobus temporal bergeser melalui lubang di tentorium, yang disebut takik tentorial.
  • Herniasi tonsil: Massa di area infratentorial otak memaksa tonsil serebelar, struktur kecil di dasar otak, melalui foramen magnum, sebuah lubang di tengkorak.
  • Herniasi upward: Massa di area infratentorial otak menekan batang otak.

2. Penyebab

Herniasi Otak: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Penangananilustrasi jenis herniasi otak atau herniasi serebral (commons.wikimedia.org/RupertMillard)

Peristiwa otak yang signifikan dan tiba-tiba biasanya menyebabkan herniasi otak, mengutip WebMD. Ini dapat meliputi:

  • Pembengkakan otak: Pembengkakan otak sering disebabkan oleh infeksi seperti campak, gondong, polio, atau rabies. Namun, dengan adanya vaksin dan perawatan medis modern, pembengkakan otak tidak terlalu umum.
  • Cedera pada kepala: Trauma tumpul pada kepala yang mengakibatkan perdarahan, gegar otak, patah tulang tengkorak, atau hematoma dapat dengan mudah menyebabkan herniasi otak.
  • Stroke: Baik stroke iskemik (akibat penyumbatan arteri) maupun stroke hemoragik (disebabkan oleh pendarahan yang berlebihan) dapat menyebabkan herniasi otak. Stroke menyebabkan stres dan kerusakan sel-sel otak, yang menyebabkan herniasi otak.
  • Tumor otak: Tumor otak metastatik (yang berasal dari bagian lain dari tubuh) atau tumor otak primer (yang tumbuh di otak) keduanya menyebabkan tekanan yang cukup untuk menyebabkan herniasi otak.
  • Nanah: Nanah dapat terkumpul di otak, biasanya melalui semacam infeksi. Penumpukan nanah inilah yang menciptakan tekanan yang dapat menggerakkan jaringan dan menyebabkan herniasi.
  • Terapi radiasi: Perawatan radiasi sering kali membuat otak membengkak. Ini biasanya pembengkakan jangka pendek, tetapi perhatikan jika mulai mengalami sakit kepala parah, sakit, atau kejang setelah perawatan radiasi.

3. Gejala

Beberapa jenis herniasi otak, seperti herniasi subfalcine, mungkin awalnya tidak muncul dengan gejala yang parah. Seseorang mungkin mengalami:

  • Sakit kepala.
  • Mual dan muntah.
  • Perubahan status mental, seperti kebingungan.

Gejala herniasi otak lainnya mungkin termasuk:

  • Pelebaran atau dilatasi pupil. Ukuran pupil yang tidak sama, yang mana satu pupil mungkin lebih melebar daripada yang satunya.
  • Kelemahan pada tungkai bawah atau pada satu sisi tubuh.
  • Perubahan kondisi mental, seperti kebingungan atau perubahan kewaspadaan yang tidak biasa.
  • Penumpukan cairan di otak, yang dapat menyebabkan sakit kepala, mual, dan masalah penglihatan.
  • Postur tubuh yang tidak normal, misalnya, kepala melengkung ke belakang dengan lengan dan kaki lurus, atau lengan tertekuk, tangan terkepal, dan kaki lurus.
  • Ketidakmampuan untuk menggerakkan mata ke atas atau ke bawah.
  • Sering buang air kecil.
  • Perubahan pernapasan, seperti hiperventilasi.
  • Henti napas, yaitu saat seseorang berhenti bernapas.

Baca Juga: Gaji Kecil Bikin Otak Cepat Tua? Begini Kata Studi!

4. Diagnosis

Herniasi Otak: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Penangananilustrasi CT scan kepala (pexels.com/MART PRODUCTION)

Dijelaskan dalam laman MedlinePlus, pemeriksaan otak dan sistem saraf menunjukkan perubahan kewaspadaan. Tergantung pada tingkat keparahan herniasi dan bagian otak yang ditekan, akan ada masalah dengan satu atau lebih refleks yang berhubungan dengan otak dan fungsi saraf.

Tes yang diperlukan bisa termasuk:

  • Sinar-X leher dan tengkorak.
  • Pemindaian CT kepala.
  • Pemindaian MRI kepala.
  • Tes darah jika dokter mencurigai ada abses atau gangguan perdarahan.

5. Penanganan

Perawatan ditujukan untuk menghilangkan pembengkakan dan tekanan di dalam otak yang menyebabkan otak mengalami herniasi dari satu kompartemen ke kompartemen lainnya. Perawatan dapat mencegah kerusakan otak lebih lanjut atau kematian.

Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan, perawatan herniasi otak mungkin melibatkan:

  • Operasi untuk mengangkat tumor, bekuan darah, atau abses.
  • Ventrikulostomi, operasi yang menempatkan saluran melalui lubang di tengkorak untuk membuang cairan.
  • Terapi osmotik atau diuretik, seperti manitol atau salin hipertonik, untuk menarik cairan keluar dari jaringan otak.
  • Kortikosteroid untuk mengurangi peradangan.
  • Kraniektomi, yakni operasi yang menghilangkan bagian tengkorak untuk membuat lebih banyak ruang.

Biasanya, kombinasi dari perawatan di atas diperlukan.

Sementara penyebab herniasi otak sedang ditangani, pasien yang sedang dirawat juga dapat menerima:

  • Oksigen.
  • Tabung yang ditempatkan di jalan napas untuk mendukung pernapasan.
  • Sedasi.
  • Obat untuk mengontrol kejang.
  • Antibiotik untuk mengobati abses atau untuk mencegah infeksi.

6. Komplikasi yang dapat terjadi

Herniasi Otak: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Penangananilustrasi kondisi darurat medis (pexels.com/RODNAE Productions)

Herniasi otak bisa menyebabkan sejumlah komplikasi, antara lain:

  • Hidrosefalus, yaitu penumpukan cairan di otak.
  • Tekanan darah tinggi pada pembuluh darah, yang mana ini bisa menyebabkan stroke.
  • Masalah yang memengaruhi saraf kranial.

Apabila herniasi otak berkembang, ini dapat mengakibatkan:

  • Perubahan status kesadaran.
  • Postur abnormal, seperti tubuh kaku atau posisi tubuh yang tidak biasa.
  • Henti napas, yang mana ini bisa berpotensi fatal.

Herniasi otak biasanya merupakan akibat dari penyakit yang tidak diobati atau cedera kepala yang parah. Sulit untuk mencegah situasi ini karena sering kali tidak disengaja. Namun, pastikan untuk mencari perhatian medis jika memiliki kondisi parah seperti tumor, atau pernah mengalami trauma kepala yang signifikan pada masa lalu.

Prospek herniasi otak tergantung pada jenis dan tingkat keparahan cedera yang menyebabkan herniasi, dan lokasi herniasi terjadi di otak. Herniasi otak dapat memotong suplai darah ke otak. Karena itu, ada kemungkinan akibatnya fatal jika tidak segera ditangani. Bahkan dengan pengobatan, herniasi otak dapat memotong suplai darah ke suatu area otak.

Karena dianggap sebagai kondisi darurat medis, segera ke ruang gawat darurat jika seseorang dengan cedera kepala atau tumor otak menjadi kurang waspada atau kebingungan, kejang, atau menjadi tidak sadar.

Baca Juga: Polusi Udara Berpotensi Merusak Otak? Ini Faktanya

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya