ilustrasi anak batuk (vecteezy.com/Puwadon Sang-ngern)
Virus campak masuk ke tubuh melalui percikan liur (droplet) saat orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Setelah masuk lewat saluran pernapasan atau mulut, virus menyebar ke seluruh tubuh.
Awalnya muncul demam tinggi, kemudian diikuti ruam khas pada hari ke-3 sampai 4 demam. Ruam ini biasanya dimulai dari wajah atau kepala, lalu menyebar ke dada, punggung, dan akhirnya ke seluruh tubuh. Pada kasus tanpa komplikasi, demam biasanya mulai mereda pada hari ke-5, sementara ruam yang awalnya merah perlahan menggelap, mengelupas, lalu hilang.
Meski sebagian kasus bisa sembuh tanpa masalah serius, komplikasi campak cukup sering terjadi, terutama pada anak kecil dan orang dengan sistem imun lemah. Komplikasi paling umum adalah:
Radang paru-paru (pneumonia), merupakan penyebab utama kematian akibat campak.
Diare dan dehidrasi, merupakan komplikasi saluran cerna yang sering muncul.
Otitis media (radang telinga tengah), ini merupakan komplikasi yang paling umum pada anak.
Ensefalitis (radang otak). Meski jarang, bisa menyebabkan kejang, gangguan saraf, atau kerusakan otak permanen.
Diagnosis campak biasanya ditegakkan melalui gejala klinis klasik: demam tinggi, batuk, pilek, mata merah (konjungtivitis), serta ruam khas yang menyebar dari kepala ke seluruh tubuh. Riwayat kontak dengan penderita atau perjalanan ke daerah dengan kasus campak juga sangat mendukung diagnosis.
Konfirmasi laboratorium, seperti tes antibodi IgM terhadap virus campak atau PCR, bisa dilakukan, tetapi tidak selalu tersedia di semua fasilitas kesehatan. Dalam beberapa kasus, pemeriksaan darah dapat menunjukkan penurunan leukosit dan perubahan pada sel limfosit, meski hasil ini bukan penanda spesifik campak.