Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

1 Anak yang Sakit Campak Bisa Tularkan Virus hingga ke 18 Anak Lain

ilustrasi ibu merawat anak yang terkena campak (pexels.com/Gustavo Fring)
ilustrasi ibu merawat anak yang terkena campak (pexels.com/Gustavo Fring)
Intinya sih...
  • Campak sangat menular dengan tingkat penularan R0 12-18, lebih tinggi dari COVID-19.
  • Imunisasi penting untuk mencegah campak, karena anak yang terkena campak rentan terhadap infeksi lain dan komplikasi serius.
  • Pemerintah menyediakan vaksin MR yang diberikan sejak usia 9 bulan dan diulang saat masuk 18 bulan serta saat duduk di Sekolah Dasar.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Campak adalah salah satu contoh paling jelas betapa cepatnya sebuah virus bisa menyebar. Penyakit ini termasuk infeksi virus akut yang sangat menular. Tingkat menularnya diukur dengan istilah angka reproduksi dasar (R0), yaitu jumlah rata-rata orang yang dapat tertular dari satu orang yang terinfeksi.

Pada campak, R0 berada di kisaran 12 hingga 18, angka yang sangat tinggi dibandingkan banyak penyakit menular lainnya. Artinya, satu orang yang sakit campak bisa dengan mudah menularkan penyakit ini ke belasan orang di sekitarnya yang belum memiliki kekebalan.

Penyebabnya adalah virus rubeola (measles), yang menyebar terutama melalui percikan ludah (droplet) atau udara yang keluar lewat napas, batuk, dan bersin. Inilah yang membuat campak dikenal sebagai salah satu penyakit dengan penularan tercepat di dunia.

Virus campak lebih menular dibanding virus corona

Sebagai perbandingan, virus penyebab COVID-19 memiliki R0 sekitar 8 hingga 10, sehingga tingkat penularannya tidak setinggi campak. Dari sini dapat disimpulkan bahwa campak termasuk penyakit dengan risiko penularan yang sangat tinggi, bahkan melebihi COVID-19.

"Kalau COVID-19, (penularannya) 8 sampai 10, campak itu 12 sampai 18. Artinya apa? Kalau satu anak kena campak, maka ada risiko dia bisa menularkan ke 12 sampai 18 anak, sedangkan COVID-19 tidak setinggi itu, sehingga memang R0-nya atau risiko penularan campak ini sangat tinggi," ujar Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo, SpA, Subs IPT(K).

Imunisasi yang belum meluas

Imunisasi campak di Kabupaten Karangasem. (Dok. IDN Times/istimewa)
Imunisasi campak di Kabupaten Karangasem. (Dok. IDN Times/istimewa)

Pada tahun 2023, ditemukan beberapa sebaran dengan jumlah 39.024 kasus. Setahun kemudian, angkanya ditemukan menurun. Namun, karena status imunisasi di Indonesia belum bagus, masih ada risiko kejadian luar biasa (KLB) seperti yang saat ini terjadi.

Anak-anak yang terkena campak, daya tahan tubuhnya akan turun sangat rendah, sehingga mereka mudah terinfeksi oleh virus, kuman maupun bakteri yang kemudian bisa menyebabkan komplikasi.

Komplikasi yang paling sering menyasar ke paru-paru adalah dalam bentuk radang paru-paru, kemudian ke saluran cerna yang membuat pasien menjadi diare. Risiko ini juga bisa menjadi radang otak atau telinga, merupakan kasus yang paling sering dtemukan.

Cegah dengan tiga dosis vaksin

Kita harus waspada terhadap penyakit ini. Pemerintah telah menyediakan vaksin MR (Measles-Rubella) untuk mencegah campak dan rubella atau campak Jerman.

Vaksin MR diberikan sejak usia 9 bulan, kemudian diulang dosisnya saat masuk 18 bulan. Lalu, pada program bulan imunisasi anak sekolah, mereka akan diberikan saat duduk di Sekolah Dasar (SD) atau sekitar 7 tahun.

"Mengapa perlu diulang? (Dosis) yang pertama dia akan membentuk antibodi, yang akan meningkat dan berangsur menurun kembali dengan berjalannya waktu. Bila anak tersebut mendapatkan vaksin dosis kedua, maka antibodi yang ditimbulkan akan jauh lebih cepat dan kadarnya jauh lebih tinggi dibandingkan pada saat anak mendapatkan vaksin dosis pertama. Menetapnya kadar antibodi ini akan jauh lebih panjang dibandingkan bila anak mendapatkan satu dosis saja," imbuh Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA, Subs TKPS(K).

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us